Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.58


__ADS_3

Bus yang di tumpangi Jihan sampai di halte depan gang. Jihan turun terlebih dahulu lalu di ikuti oleh Johan. Jihan berbalik melihat Johan yang terus saja mengikutinya.


"Pulanglah, cukup sampai di sini saja," ucap Jihan pada Johan.


"Aku akan mengantarkan kamu sampai ke depan rumah lalu akan langsung pulang," ujar Johan.


"Apa kamu tidak lihat, Raksa sudah menunggu," kata Jihan sambil melihat kearah mobil Raksa.


"Dia akan baik-baik saja, aku hanya akan mengantarkan kamu sampai ke depan rumah," tutur Johan.


" Ya terserah lah." Jihan akhirnya mengalah, karena Johan bersikeras ingin mengatakannya pulang meskipun harus berjalan kaki.


Jihan dan Johan berjalan saling ber iringan, Johan melirik ke arah Jihan yang berada di sampingnya. Ingin rasanya ia menggenggam tangan Jihan sambil berjalan, namun ia takut Jika Jihan akan marah.


Namun Johan benar-benar ingin berjalan sambil bergenggaman tangan dengan Jihan. Sepertinya rasa inginnya kini lebih besar dari rasa takutnya.


Perlahan namun pasti, tangan Johan mulai bergerak hendak meraih tangan Jihan, tinggal beberapa sentimeter saja dan tiba-tiba, salah seorang tetangga Jihan berjalan menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Jihan!" seru enya'


"Kenapa nya ... kok sampai lari gini," ucap Jihan bingung.


"Rumah elu ...." Enya' masih berusaha menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Rumah saya kenapa nya'?" tanya jihan bingung.


"Rumah elu kebakaran, si mela Ama Nino udah ada di sane, cepetan lu kesana ( Rumah kamu kebakaran, Mela dan nino sudah berada di sana, cepatlah kesana)," tutur enya' dengan wajah paniknya.


Jihan terlihat sangat kaget, wajahnya menjadi pucat dalam seketika. Johan pun begitu, ia menatap Jihan yang kini berada di sampingnya, ia mencoba menguatkan Jihan. Namun Jihan yang sudah keburu panik, langsung berlari dengan cepat menuju rumahnya.


Johan pun ikut menyusul Jihan. Akhirnya Jihan sampai di depan rumahnya, sudah banyak orang yang berkerumun di sana. Terlihat Mela dan Nino sedang duduk bersimpuh di atas tanah meratapi rumah yang kini sudah rata dengan tanah.


Rumah yang penuh kenangan, perjuangan, dan tempat satu-satunya Mela, Nino dan Jihan berteduh dari kerasnya kehidupan di ibukota. Kini tempat itu sudah rata dengan tanah, hanya tertinggal debu-debunya saja.


Jihan berjalan dengan cepat mengahampiri Tante dan sepupunya itu, derai air mata kini membasahi pipinya. Tak kala melihat Mela dan Nino menagis tersedu-sedu.


Kebahagiaanya Jihan terletak pada kebahagiaan Mela dan Nino, air mata mereka, akan menjadi pukulan terberat bagi Jihan.


"Kak, rumah kita sudah tidak ada lagi," ucap Nino sambil terisak-isak.


Jihan tak mampu berkata apa-apa, ia memeluk Nino dengan sangat erat. Apalagi Mela, rasa lelah sehabis bekerja, yang biasanya akan hilang saat ia tiba dirumah, kini tak ada lagi, tak ada lagi tempatnya untuk pulang.


dari jarak dua meter Johan hanya bisa melihat Jihan yang kini sedang berpelukan dengan tante dan sepupunya itu. Ia ingin sekali mendekati Jihan dan menenangkannya, namun ia tahu ini belum saatnya.


Hari kian gelap, Kinan kini juga sudah berada di lokasi kebakaran karena mendapatkan info dari Raksa. Sekarang mereka sedang berkumpul di pos kamling yang tidak jauh dari rumah Jihan.


Beberapa warga sedang di mintai Keterangan oleh pihak kepolisian, untuk mengumpulkan informasi terkait kasus kebakaran ini.

__ADS_1


Kinan kini sedang berusaha menenangkan Jihan, Mela dan Nino.


Jihan masih nampak lemas karena terlalu banyak menagis. Begitu juga dengan Mela dan Nino.


"Ma malam ini kita tidur dimana?" tanya Nino pada mamanya.


Mela hanya, menggelengkan kepalanya pertanda jika ia pun masih bingung tentang nasib mereka selanjutnya. Nino kembali menagis tersedu-sedu, Johan yang tadinya sedang berbicara dengan pihak kepolisian kini beranjak menghapiri Nino.


"Nino malam ini tidur di rumah kak Kinan saja ya," ucap Kinan.


"Tapi Ki ... kamu kan juga masih tinggal dengan orang tua dan adik-adik kamu, kami tidak ingin merepotkan," ucap Jihan.


"Sudahlah Jihan, aku bisa tidur di ruang tengah," ucap Kinan.


Johan mendengar pembicaraan Jihan dan Kinan, langsung menimpali, " Kamu, Tante mela dan Nino, akan tinggal di apartemen ku," ujar Johan.


Jihan langsung mendongak melihat Johan yang kini sedang berdiri di hadapannya. Ia tidak ingin merepotkan siapun apalagi Johan. Namun dalam kondisi seperti ini, tinggal sementara di apartemen Johan adalah pilihan satu-satunya sampai Jihan menemukan hunian baru.


Karena Jihan tak menjawab ucapanya, Johan beralih menghapiri Nino dan juga Mela. Johan duduk di hadapan Nino yang saat ini masih terisak.


"Nino, tinggal di rumah aku mau ya?" tanya Johan.


Nino menatap mamanya seolah meminta persetujuan. Mela pun akhirnya angkat bicara setelah diam sejak tadi.


"Nak Johan, apa tidak merepotkan?" tanya Mela.


"Kalau tante, terserah Jihan saja," kata Mela sambil melirik kearah Jihan.


"Bagaimana Jihan, apa kamu mau tinggal sementara di apartemen ku?" tanya Johan.


Jihan menoleh kearah Kinan seolah mencari persetujuan, Kinan pun hanya mengangguk dan tersenyum padanya. lalu Jihan kembali melihat ke arah Johan. Ia tidak punya pilihan lain, ia berharap ini yang pertama dan terakhir ia merepotkan Johan.


"Baiklah, aku setuju," ucap Jihan pada Johan.


Raksa akan pulang bersama dengan Kinan, sementara Johan yang akan membawa Jihan beserta Nino dan Mela ke Apartement.


Tak ada barang atau pun pakaian yang bisa di bawa, hanya apa yang kini telah melekat di badan yang bisa di bawa. Berat memang saat hal yang tidak di sangka-sangka, terjadi begitu saja.


Berusaha menegarkan diri itu sudah pasti, meski hati hancur seiring kehilangan tempat bernaung selama ini.


Jihan memeluk Nino sepanjang perjalanan. Air matanya kembali membasahi sudut mata, merenungi nasib buruk yang seakan tak pernah lelah untuk singgah di hidupnya.


Johan Melirik Jihan yang sedang duduk di belakang. Ia bisa melihat jika Juga sedang menangis dalam kebisuannya.


Hati Johan terasa amat sesak melihat orang yang ia cintai, mengalami musibah seperti ini.


Andai Johan tak mengikuti Jihan pulang tadi, entah bagaimana nasib Jihan sekarang, Takdir seolah menuntun Johan untuk menjadi penolong untuk Jihan.

__ADS_1


Akhirnya mobil Johan sampai juga di basement apartement. Dengan cepat, Johan turun dari mobil dan membuka pintu untuk Mela dan Jihan.


Nino, nampak bingung, kenapa Johan malah membawa mereka ke tempat seperti ini,bukanya Johan tadi bilang, akan mengajaknya ke rumah.


"Hey tuan ...." kata Nino yang kini sudah menghampiri Johan.


"Ya kenapa Nino?" tanya Johan pada bocah kecil di hadapannya. Eh bukan bocah kecil, hanya sikapnya saja yang kekanak-kanakan, padahal Nino sudah duduk di bangku SMP.


"Katanya mau mengajakku, kak Jihan dan mama ke rumah. Rumahnya di mana?" tanya Nino pada Johan.


Johan terseyum mendengar ucapan Nino, ia pikir Nino pasti tidak Tahu apartement itu memang sebuah bangunan tinggi seperti ini.


"Nino, rumah saya di sini, nanti kamu akan lihat sendiri," ujar Johan.


Akhirnya mereka sampai di depan pintu unit apartement, Johan menekan kode pintu, hingga pintu itu terbuka.


Johan mempersilahkan Mela, Nino dan Jihan untuk masuk kedalam. Mela dan Nino sampai terperanga melihat kemewahan apartement itu. Ya kalau Jihan kan sudah ke tiga kalinya ia menginjakkan kakinya di apartement ini, wajar saja ia bersikap biasa-biasa saja.


Nino langsung berlari ke arah jendela besar yang ada di ruang tamu apartement, ia kembali tercengang saat melihat ke bawah, ia melihat jalanan dan mobil-mobil yang berlalu-lalang nampak sangat kecil sekali dari atas sana.


"Ternyata di atas gedung ada rumah," ucap Nino tak percaya.


"Nino jangan berdiri didekat jendela, kemarilah," ujar Jihan.


Nino berjalan dengan cepat menghampiri Mela, " Ini benar-benar rumah?" tanya Nino pada Johan.


"Tentu saja, bagaimana kamu suka?" tanya Johan.


"Aku suka, rumah ini juga bagus sekali, tv-nya besar sepuluh kali lipat dari ukuran tv di rumah," tutur Nino.


"Maaf ya nak Johan, jika Nino terlalu banyak bicara," ucap mela pada Johan.


"Tidak apa-apa tante, oh iya di sini ada dua kamar, Tante dan Nino bisa tidur di kamar yang ada disana, sementara Jihan bisa tidur di kamar yang ada di sampingnya," tutur Johan sambil menunjukkan kamar di apartemen itu.


"Baiklah terimakasih nak Johan," ucap Mela.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, nanti pagi, kinan dan Raksa akan datang mengatakan pakaian dan makanan," ucap Johan.


"Terimakasih untuk semuanya," ucap Jihan dengan kaku.


"Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi."


Johan hendak beranjak pergi namun tiba-tiba Nino kembali berujar, "Kenapa tidak tidur di sini saja, kan bisa tidur sama kak Jihan," ujar Nino.


"Nino!" seru Jihan dan Mela secara bersamaan.


bersambung 💕

__ADS_1


Hy reader maag karena lama tidak update, doakan author punya lebih banyak waktu lagi untuk menulis ya...


__ADS_2