Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Mencari Info


__ADS_3

"Sayang, aku nanti pulang terlambat ada pertemuan dengan client." kata Kevin sambil memakai jas nya.


Mendengar kalimat Kevin, Alea menatapnya curiga. Apa Kevin akan bersama wanita itu lagi? Belum puaskah semalam dia bermain-main sampai larut malam.


Alea mengalihkan pandangannya saat Kevin membungkukkan badannya dan menciumi perut buncitnya. "Sayang sehat-sehat ya sama Mama."


Setelah itu Kevin menegakkan dirinya dan mencium kedua pipi Alea. "Kalau kamu gak enak badan istirahat ya."


Alea hanya mengangguk pelan. Kali ini Kevin berangkat tanpa diantar Alea ke depan pintu.


"Pulang terlambat?" Alea mengusap asal air matanya yang lagi-lagi terjatuh. Dia tahu, kedaan dirinya yang stress sangat berpengaruh pada janin yang dia kandung tapi dia benar-benar tidak bisa menutupi rasa kecewanya.


"Apa dia sekretaris baru yang dibicarakan Luna kemarin. Aku harus mencari tahu tentang dia. Seingat aku namanya Della dari cerita Luna itu."


Kemudian Alea berjalan menuju ruang makan. Dia duduk di dekat kursi makan Raffa yang sedang disuapi Bi Sum. "Raffa, pintar makannya dihabiskan."


Raffa bertepuk tangan gembira seolah mengerti dengan pujian sang Mama.


...***...


"Luna, hari ini Niko jemput Reka gak?" tanya Alea lewat panggilan teleponnya.


"Iya, Mas Niko nanti jemput Reka sama aku."


"Ya udah, titip Reka di rumah kamu ya. Soalnya aku mau keluar ada keperluan."


"Iya."


Alea mematikan panggilannya. Dia kini bersiap untuk pergi. Mencari info tentang Della agar dugaannya lebih akurat.


Setelah memakai cardigan dan membawa tasnya, Alea mengajak Anton untuk mengantarnya.


"Raffa, mama tinggal sebentar ya. Jangan rewel. Oke." Alea mencium kedua pipi Reka lalu keningnya.


Raffa menatap kepergian mamanya, sedetik kemudian Raffa menangis.


Alea tak menolehnya lagi karena Raffa memang seperti itu ketika dia tinggal dan Bi Sum pasti bisa menenangkannya dengan cepat.


"Pak, kita ke rumah kemarin ya, waktu Kevin jemput seorang wanita." suruh Alea setelah dia masuk ke dalam mobil.


Anton menganggukkan kepalanya. Sepanjang perjalanan Alea hanya terdiam sambil melihat padatnya kendaraan siang hari itu. Satu tangannya mengusap perutnya, berharap bayi yang ada di kandungannya itu kuat dengan keadaan hati Alea saat ini.


Maafin Mama ya sayang. Mama gak bisa menahan stress Mama...


Setelah 15 menit, akhirnya Alea sampai di depan rumah yang hanya berpagar setengah meter itu. Alea keluar dari mobil lalu masuk ke teras rumah karena pintu pagar itu memang terbuka.

__ADS_1


Dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu itu.


"Maaf, apa benar ini rumah Della?" tanya Alea.


Ibu itu menganggukkan kepalanya sambil menatap Alea dengan intens lalu tatapan itu berakhir di perut Alea yang membuncit.


"Iya, benar. Mari masuk dulu." Ibu itu mempersilakan Alea masuk.


Alea masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu.


"Ada perlu apa? Sebentar saya ambilkan minum dulu."


"Tidak perlu repot-repot, saya cuma sebentar." Alea mencegah ibunya Della saat akan mengambil minuman untuknya.


Ibu itu masih saja menatap Alea.


"Della putri ibu?" tanya Alea.


"Iya, dia putri saya. Tapi sekarang dia sedang bekerja."


"Apa Della bekerja di perusahaan milik Kevin?" tanya Alea lagi memastikan.


Ibu itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Kevin sangat baik meski pernah melakukan kesalahan pada anak saya tapi dia mau bertanggung jawab."


Seketika Alea melebarkan matanya. Dadanya berdebar tak karuan mendengar kata tanggung jawab itu. "Kesalahan apa, Bu?"


"Saya istrinya Kevin."


Seketika ibu itu juga melebarkan matanya. Dia sangat terkejut. "Tidak mungkin!"


"Ibu tidak percaya sama saya? Saya sudah menikah hampir tiga tahun sama Kevin dan yang ada dalam kandungan saya ini anak kedua kami."


"Tapi, anak saya juga sedang hamil anak Kevin."


Dada Alea bagai dihantam sesuatu. Teramat perih dan sakit. Dia berharap ini hanyalah mimpi buruk baginya. Air mata kembali mengalir deras di pipinya. Jika memang kenyataannya seperti ini, mungkin pernikahaannya akan segera hancur dan berakhir.


Alea menghela napas panjang.


"Maaf, saya tidak tahu kalau Kevin sudah beristri."


Alea mengusap air matanya dengan punggung tangannya. "Ibu tenang saja. Setelah anak saya lahir, saya akan bercerai dengan Kevin." Alea tidak menyangka dia bisa berkata seperti itu. Padahal selama ini tidak pernah terlintas di benaknya tentang perceraian itu. "Saya permisi." Alea berdiri dan keluar dari rumah Della. Dia masuk ke dalam mobil dengan tangis yang semakin pecah.


"Nyonya Alea kenapa?" tanya Anton yang khawatir melihat keadaan Alea saat ini.


Alea tak menjawab pertanyaan Anton. Dia menangis tergugu sambil menempelkan keningnya di dekat jendela.

__ADS_1


"Antar aku ke taman Pak! Setelah itu Pak Anton pulang saja tidak apa-apa." kata Alea dengan suara seraknya. Dia kini menghapus kembali air mata itu.


Anton menggelengkan kepalanya. "Tidak Nyonya! Kemanapun Nyonya pergi saya akan mengantar dan menunggu. Saya harus memastikan keselamatan Nyonya."


Alea masih saja terisak tapi dia tak membalas perkataan Anton. Hingga akhirnya Anton mulai melajukan mobilnya.


Alea membuka ponselnya. Dia melihat posisi mobil Kevin masih berada di kantor. Hatinya masih saja terasa sakit, dia sangat membenci pengkhianatan itu.


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di dekat taman. Alea turun dan berjalan masuk ke dalam taman. Dia duduk di salah satu bangku dekat pohon.


Banyak kenangannya bersama Kevin di tempat itu, mulai saat dia masih memakai seragam putih biru lalu putih abu-abu bahkan sampai dia punya anak, mereka sering menghabiskan quality time di taman itu.


"Apa semua itu benar-benar akan menjadi kenangan buat kita."


Cukup lama Alea berdiam diri sendiri di tempat itu. Bahkan jam makan siang pun sudah terlewat lama. Alea yang biasanya tidak tahan lapar kini justru kehilangan selera makan.


Alea kembali melihat ponselnya. Matanya membulat saat mengetahui posisi mobil Kevin sudah berpindah.


Alea berdiri dan kembali ke tempat parkir. Buru-buru dia masuk ke dalam mobil.


"Pak tolong ikuti mobil Kevin." Alea memberikan ponselnya pada Anton.


"Tapi Nyonya belum makan siang." Anton merasa kasihan dengan kesalahpahaman yang terjadi pada majikannya itu. Ingin dia lapor pada Kevin tapi di sisi lain dia tidak ingin mencampuri rumah tangga mereka.


"Tolong, Pak. Ikuti mobil itu, aku ingin segera menuntaskan masalah ini."


"Baik Nyonya." Anton akhirnya mengikuti navigasi map itu.


Alea terus melihat laju mobil Kevin lewat map. Untuk kesekian kalinya hatinya terasa sakit saat mobil Kevin terlihat berhenti di kawasan villa.


Kevin, kali ini permainan kamu akan segera berakhir!!


.


.


💞💞💞


.


.


Siap-siap bawang lagi ya... 😢


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen... 🤗


__ADS_2