
Siang itu, Alea ke rumah Niko bersama Kevin. Dia ingin berbicara dengan Reka. Berharap Reka mau ikut pulang dengannya, meski dia sudah bisa menerima apapun keputusan Reka nanti.
"Reka beneran gak mau pulang sama Mama?" tanya Alea sambil memeluk Reka yang ada di sampingnya.
"Reka mau tinggal sama Ayah," jawab Reka.
"Kenapa? Reka masih marah sama Mama? Mama minta maaf. Mama gak ada maksud bentak Reka kemarin."
Reka menggelengkan kepalanya. "Reka sudah gak marah sama Mama, tapi Reka memang ingin tinggal di sini sama Ayah. Gak papa kan, Ma?"
Alea menghela napas penjangnya. "Ya udah, kalau itu memang mau Reka gak papa. Tapi Reka harus sering-sering ke rumah Mama ya. Reka juga harus nurut sama Ayah dan Bunda di sini. Nenek sama kakek juga. Harus lebih mandiri juga ya sayang."
Reka menganggukkan kepalanya. "Reka minta maaf kalau Reka gak patuh sama perintah Mama. Harusnya Reka bisa bantu Mama. Harusnya Reka juga bisa mandiri. Reka kan sudah besar."
Alea tersenyum sambil mengusap rambut Reka. "Iya, Mama ngerti. Reka cuma butuh waktu untuk mengerti ini semua. Mama tahu Reka anak yang baik dan pintar."
Kevin yang sedari tadi duduk di dekat Alea hanya terdiam. Dia membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia yakin Niko pasti juga sudah menasihati Reka.
Beberapa saat kemudian Niko ikut bergabung dengan mereka. Bersama Luna yang sedang menggendong Nina.
"Bagaimana keadaan Nina? Sudah sembuh?" tanya Alea sambil melihat Nina yang sedang memegang biskuit itu.
"Sudah. Kemarin setelah dari berobat langsung turun demamnya. Sekali lagi aku minta maaf gak bisa datang ke ulang tahunnya Rania. Semoga Rania suka kadonya yang aku titipkan kemarin." jelas Luna.
"Iya, gak papa. Raffa sama Rania tuh yang malah berebut mainan itu."
"Kok gak diajak semua?" tanya Niko. "Kalau diajak pasti ramai banget."
Kevin justru tertawa. "Iya, ramai banget. mereka berdua sama-sama aktifnya. Belum lagi Raffa pasti uyel-uyel Nina sampai nangis. Memang sengaja kita tinggal biar bisa bicara leluasa."
"Iya, kalau memang diperbolehkan biar Reka tinggal di sini. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin Reka tinggal sama aku." kata Niko memulai pembicaraan tentang tinggalnya Reka di rumahnya.
"Iya. Tidak apa-apa. Semua itu terserah pada Reka. Kalau Reka memang ingin tinggal di sini ya gak papa. Kita sebagai orang tua hanya menginginkan anak kita bahagia dan merasa nyaman." Kevin kini beralih menatap Reka. "Reka kalau seandainya kamu tidak betah, kamu kembali ke rumah ya."
Bukan Reka yang menjawab tapi justru Niko yang kini menatap Kevin tajam. "Reka jelas betah di sini."
"Ya syukurlah kalau betah."
Kedua bapak itu kembali tertawa dan mengobrol.
__ADS_1
"Kita gak bisa lama-lama, takut Rania rewel." kata Alea sambil memeluk Reka dan mencium kedua pipinya. "Anak Mama udah besar. Yang pintar ya di sini."
"Iya, Mama."
"Tuh kan, jadi buru-buru."
"Kapan-kapan saja kita liburan bareng yuk." ajak Kevin. Karena liburan itu sedari dulu hanya jadi agenda saja.
"Dari dulu cuma wacana aja liburannya." Niko mencibir. Karena Pak Bos yang super sibuk itu selalu membatalkan rencana.
Kevin tertawa, dia merasa tersindir dengan kalimat Niko. "Ya udah, nunggu Reka liburan nanti aku atur semuanya."
"Beneran ya, Pa. Nanti gak jadi lagi kayak sebelumnya."
Kevin kembali tertawa. "Liburan kamu masih tiga bulan lagi. Bisa nanti diatur."
"Bisa nanti diatur." Alea menirukan gaya bicara Kevin. "Kalau kamu gak bisa biar aku saja yang liburan sama anak-anak."
"No, no. Kemanapun kamu pergi harus ada aku." kata Kevin, si bucin milik Alea.
Mereka semua kembali tertawa. Setelah pembicaraan mereka selesai, Alea dan Kevin memutuskan untuk pulang karena dia tidak bisa meninggalkan Rania dan Raffa terlalu lama.
"Ale, katanya Reka pulang ke rumah Niko?"
Alea kini ikut bergabung dengan mereka. "Iya, itu keinginannya. Ya sudah kita gak bisa memaksa. Mungkin juga Reka bosan dengar omelan aku tiap hari." Alea tersenyum kecil diujung kalimatnya.
"Ya udah, yang penting Reka merasa nyaman dan bahagia."
"Rendra kapan pulang, Pa? Sampai hampir satu tahun tidak ada kabar sama sekali." tanya Kevin. Karena setelah kepergian Rendra, dia sangat jarang sekali berkomunikasi dengan Rendra.
Pak Marko menghela napas panjang. "Ya begitulah Rendra. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tidak tahu kalau sebagai seorang Papa itu sangat khawatir dengan keadaannya."
"Kak Rendra pasti bisa jaga diri." kata Alea berusaha menenangkan kegundahan Papanya itu. "Daripada Papa kesepian di rumah. Bagaimana kalau Papa tinggal di rumah ini."
"Iya, Papa tinggal di sini saja. Raffa dan Rania pasti senang." kata Kevin yang setuju dengan ide Alea.
"Iya, Papa juga inginnya seperti itu."
"Ya udah Pa, besok biar Pak Anton bantu Papa berkemas barang yang mau dibawa." Alea sangat senang. Akhirnya Papanya mau tinggal dengannya.
__ADS_1
Pak Marko tersenyum sampai tercetak guratan di pipi yang sedikit keriput itu. "Papa senang sekali bisa menemukan kamu dan Papa juga bisa menghabiskan sisa umurku bersama kalian." Pak Marko mengusap puncak kepala Alea.
"Aku juga senang, Pa. Sejak Mama meninggal, dulu aku merasa gak punya siapapun kecuali Reka." Alea kembali mengenang masa-masa sulit itu.
"Kamu kan punya aku." kata Kevin yang sekarang ikut bermain lego bersama Raffa.
Alea memutar bola matanya. "Kan kita dulu belum nikah."
"Kamu mikirnya kelamaan aku ajak nikah. Padahal dulu hidup aku juga sebatang kara. Saudara dari Mama sama Papa ada diluar negri semua. Tapi lihat sekarang, hidup kita sudah ramai dan penuh warna."
Pak Marko kembali tersenyum. Dia ikut bahagia merasakan kebahagiaan mereka.
"Iya, apa yang kalian rasakan sama dengan yang Papa rasakan. Kapan bikin cucu lagi buat Papa?" goda Pak Marko pada Alea dan Kevin.
"Ih, Papa. Rania masih satu tahun."
"Wah, kode nih. Sekarang aja yuk buatnya." Kevin menarik tangan Alea seolah ingin mengajaknya ke kamar.
"Mama, No." Raffa langsung berdiri dan menyingkirkan tangan Kevin.
Begitu juga dengan Rania yang langsung memeluk Alea. "Mama. Nen."
"Aduh, dua pasukan mengalahkan Papa." Kevin menggelitiki perut Raffa yang membuatnya tertawa terpingkal.
"Ya udah, yuk ke kamar sekalian bobok siang ya." Alea menggendong Rania mengajaknya ke kamar.
"Ikut." Raffa berlari kecil mengekori Alea.
Sedangkan Pak Marko dan Kevin kembali ke obrolan kecil mereka.
💞💞💞
.
Jangan lupa like dan komen.
.
.
__ADS_1