
Johan berjalan keluar menuju mobilnya, ia tidak menemui jihan lagi karena ia begitu malu untuk berhadapan langsung dengan Jihan.
Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalan kota yang sesak akan polusi. Pikirannya jauh terbang menelusuri setiap inci kenangan yang telah memudar.
Mencoba menemukan kembali potongan memory saat kejadian itu, kejadian saat ia menuduh Jihan secara sepihak, tanpa mendengarkan pembelaan diri dari sang mantan pacar.
Sesal tinggallah sesal, tak ada yang bisa di rubah dari Kejadian di masa lalu. bahkan untuk memperbaiki kepingan hati yang telah hancur itu sulit.
"Ini semua gara-gara kamu Vita!" seru Johan yang masih dalam keadaan menyetir mobil.
Vita, sahabat yang Johan kira tidak akan pernah membohonginya ternyata adalah biang dari masalah, membiarkan Johan larut dalam kebencian, membiarkan Johan merasakan trauma bertahun-tahun.
Semua itu vita lakukan demi kepuasan pribadi, kepuasan saat melihat hubungan Jihan dan Johan putus, kepuasan saat ia bisa dengan leluasa memutar balikkan fakta.
~
Sesampainya di rumah, Johan langsung berjalan menuju kamarnya, melewati ibunya yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga.
"Jo, makan dulu nak," ucap Maria yang tidak di gubris oleh Johan. Johan meneruskan langkahnya, Menuju lantai dua rumah itu.
"Kenapa lagi dia," ucap Maria heran dengan sikap putranya yang berubah-ubah.
~
Pagi ini Jihan berniat untuk tidak masuk kerja, dengan alasan ia sedang tidak badan.
"Kamu benar, tidak mau kerja hari ini?" tanya mela yang berdiri di ambang pintu.
" Iya tante, sepertinya kemarin aku kecapekan," ujar Jihan yang masih terbaring sok lemah di atas tempat tidurnya.
" Ya sudah kamu istirahat saja, tante mau ke laundry dulu ... oh iya hari ini Nino pulang sekolah langsung pergi ke laundry ya, katanya dia mau mabar sama anak Bu fada," ujar Mela.
"Iya tante," ucap Jihan lirih.
Mela pergi meninggalkan Jihan yang masih setia meluk bantal gulingnya. Setelah memastikan Mela pergi, Jihan beranjak dari tempat tidurnya, mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
Ia sudah berencana untuk joging pagi di sekitaran lingkungan tempat tinggalnya, lumayan untuk membuang stres pikirnya.
Setelah mandi dan berpakaian, Jihan langsung mengenakan sepatu kets yang biasa ia pakai berolahraga.
"Ayo Jihan, buang semua kejadian kemarin bersamaan dengan keringat yang bercucuran keluar," gumamnya sendiri.
__ADS_1
Setelah melakukan pemanasan, Jihan langsung tancap gas, berlari dengan kecepatan penuh. Entahlah apa sebenarnya yang di lakukan jihan, ia ingin joging atau lomba lari.
~
Johan baru saja tiba, ia memang sudah merasa heran kenapa Jihan tidak menyambutnya pagi ini. Johan diam mematung di depan meja kerja Jihan, ia tahu Jihan tidak datang karena kejadian kemarin.
Dengan langkah cepat, Johan kembali keluar dari ruangan itu, ia harus menemui Jihan sekarang. Ia sudah tidak perduli lagi dengan jadwal padatnya pagi ini.
Sesampainya di lobby, ia langsung meminta kunci mobil dari sopirnya. bahkan si supir belum sempat berkata apa-apa.
~
Johan Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap Jihan benar-benar sedang berada di rumahnya sekarang.
Entah apa alasan yang harus ia katakan nanti, yang penting ia menemui Jihan dulu. Mobilnya memasuki daerah gang tempat Jihan tinggal.
Saat tengah fokus mengemudi, tiba-tiba matanya melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Jihan, dan benar saja itu benar-benar jihan yang sedang berjalan dengan pakaian serba mininya, celana pendek dan kaos putih ketat.
Johan membunyikan klakson mobilnya, membuat Jihan terperanjat kaget.
"Siapa sih ... Mengagetkan orang saja," gumam Jihan.
Jihan tidak bisa mengenali jika mobil itu adalah mobil Johan, karena setiap hari Johan selalu bergonta-ganti mobil. Pintu mobil terbuka, Jihan memperhatikan dengan seksama hingga orang yang berada di dalam mobil keluar.
Johan berdiri dengan gagah, dengan kedua tangan menyelusup ke saku celana. Namun hal itu tidak membuat Jihan terpana, yang ada ia menatap Johan dengan tatapan mata yang susah untuk di artikan.
"Untuk apa anda kemari?" tanya Jihan cuek.
"Aku ingin tahu saja, kenapa kamu tidak masuk kerja. Ternyata kamu sedang bermalas-malasan," ujar Johan.
"Itu bukan urusan anda, saya sudah memikirkannya ... saya akan segera mengundurkan diri dari perusahaan," ujar Jihan.
"Tidak, kamu tidak akan pernah meninggalkan perusahaan," ujar Johan tegas.
"Itu hak saya, jadi terserah saya," ucap Jihan.
Johan Menghembuskan nafasnya yang terasa berat, " Jika ini karena masalah kemarin, aku minta maaf," ucap Johan.
Jihan yang tadinya membuang muka, kini beralih menatap Johan, ia tidak salah dengarkan, Johan meminta maaf kepadanya, jika ini mimpi, jihan berharap akan segera terbangun, karena ini begitu mustahil.
"Ehm ... saya akan mempertimbangkannya," ucap Jihan.
__ADS_1
"Apapun mau kamu ... tapi sekarang, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Johan.
Bicara? Apa yang ingin ia bicarakan dengan ku, batin Jihan.
"Ya baiklah, anda mau bicara di mana?" Tanya Jihan.
"Di danau," ucap Johan.
Dia masih mengingat danau itu," batin Jihan.
"Baiklah," ucap Jihan.
"Masuklah," ucap Johan, mempersilahkan Jihan masuk kedalam mobilnya.
~
Sesampainya di danau, Jihan dan Johan berjalan berdampingan, Johan nampak tidak nyaman saat beberapa pria terus saja memandangi Jihan.
Ini pasti karena pakain mini yang di kenakan Jihan. Johan langsung membuka jasnya dan memakaikannya kepada Jihan. Tentu saja Jihan sangat terkejut.
"Jangan salah paham. Para pria hidung belang di sana terus melihat kamu, sebaiknya jangan kenakan pakaian kurang bahan seperti ini saat berada di luar," ujar Johan lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Jihan tak bisa berkata apa-apa, apa ini sebuah bentuk perhatian Johan kepada Jihan. Mengingat tujuh tahun yang lalu, Johan adalah pacar yang cukup protektif.
Kini mereka sedang duduk di tepi danau, dengan sebuah pohon pinus besar yang melindungi mereka dari cahaya matahari.
"Apa yang ingin anda katakan?" tanya jihan.
"Aku ingin meminta maaf untuk semua sikap buruk ku kepadamu," ujar Johan.
Dengan cepat, jihan menoleh kesamping, melihat Johan dengan heran.
Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, kenapa dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat Seperti ini, apa dia punya penyakit ganas, hingga hidupnya tidak lama lagi ... hus, mikir apa sih aku ini, batin Jihan.
"Ehm ... saya sudah melupakan semuanya, membuang jauh-jauh semua kenangan di masa lalu, anda tidak perlu minta maaf, untuk semua hinaan yang anda berikan, saya anggap itu adalah angin lalu," ujar Jihan.
Johan menatap Jihan yang ada di sampingnya, sementara Jihan, menatap lurus kedepan.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan semuanya?" tanya Johan.
Jihan menoleh ke arah Johan, ia tidak menjawab, ia hanya tersenyum pahit, seolah ia terpaksa untuk mengatakan jika ia benar-benar sudah melupakan semuanya.
__ADS_1
Tatapan mereka saling bertemu, Johan menatap lekat Jihan, menelisik, mencari jawaban akan sebuah pertanyaan yang tidak terjawab, ia bisa merasakan jika ada banyak cerita kelam di masa lalu yang ia tidak tahu dan tak ingin Jihan ceritakan.
Bersambung 💕