Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.14


__ADS_3

Sepulangnya dari kantor, jihan tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi ke butik kinan, bukan untuk membeli baju tapi untuk curhat masalah yang sedang ia hadapi.


Jihan menceritakan semuanya kepada Kinan, mulai dari awal hingga akhir, jangan tanya bagaimana ekspresi wajah kinan saat ini, sedikit tak percaya dan emosi yang menyeruak.


"Apa! ... jadi bos kamu itu, kak Jo?" tanya kinan.


"Jangan sebut dia kak Jo, sifatnya bahkan tidak seperti kak Jo yang kita kenal dulu," ujar Jihan.


"Bagaimana bisa kalian bertemu lagi setelah tujuh tahun .... ya ampun Ji, kamu berhenti saja lah," ucap Kinan.


"Enak saja, kamu tahu berapa gaji ku, apalagi sekarang aku menjadi seorang seketaris, gajinya pun berlipat-lipat," ujar Jihan.


"Memangnya kamu bisa tahan, setiap hari berhadapan dengan mantan pacar kamu ... hati-hati nanti Cinta lama bersemi kembali, hihi," ujar Kinan.


"Itu tidak mungkin ... aku tidak mungkin menyukainya lagi, sikap angkuhnya itu membuat aku muak, di tambah lagi, dia memandang rendah aku, dia masih membenci ku, dia masih menganggap aku telah mengkhianatinya," ujar Jihan.


Jihan menyadarkan kepalanya di sandaran sofa yang ada di ruangan Kinan, Menyukai johan kembali adalah hal yang tidak mungkin baginya, menurutnya saat ini, johan Alexander dan kak Jo adalah dua orang yang berbeda.


Kinan yang tadi berdiri di hadapan Jihan, kini beralih duduk di samping sahabatnya itu, ikut bersandar bersama Jihan. Masalah yang Jihan hadapi saat ini begitu rumit, memberi saran pun tidak ada gunanya, karena Jihan ingin mempertahankan pekerjaannya bagaimana pun jalan yang harus ia hadapi nanti.


"Lalu apa rencana kamu sekarang?" tanya Kinan.


"Rencana bagaimana?" tanya Jihan balik.


"Jihan Jihan, kamu masih belum sadar ya, dia sengaja membuat kamu menjadi sekretarisnya, karena ia ingin menyiksa kamu, sampai kamu mundur dengan sendirinya," ujar Kinan.


"Huh ... aku belum punya rencana apapun," ucap Jihan lemas.


"Kamu jangan mau di rendahkan olehnya ... bagaimana jika kamu ceritakan saja semua kesalahpahaman itu sekarang," ucap Kinan.


"Percuma, dia tidak akan percaya, sekarang dia hanya menganggap ku penghianat dan tak bisa di percaya," ucap Jihan.


Kinan kembali berdiri dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruangannya, Jihan yang masih tenggelam dalam fikiranya sendiri tak sadar saat Kinan pergi.


Tak lama Kinan kembali masuk dengan membawa dua paper bag di tangannya, ia meletakkan paper bag itu di hadapan Jihan, membuat Jihan terperanjat kaget.


"Apa ini?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Pakaian desain terbaru dari ku, besok pakai pakaian ini, kamu jangan mau di anggap rendah, tunjukkan persona mu, kamu itu cantik Jihan, dia tidak bisa merendahkan kamu seperti itu," ujar Kinan.


"apaan sih Ki ... ini bukan masalah penampilan," ucap Jihan.


"Pokoknya kamu pakai ini besok, aku yakin semua mata tertuju padamu, CEO sombong itu pasti akan terpana melihat kecantikan mantan kekasihnya," ujar kinan.


"Huh ... terserah kamu saja, yang penting sekarang aku dapat pakaian baru lagi, gratis," ucap Jihan sambil mengintip isi paper bag itu.


~


Johan sedang berbaring sambil melamun di atas tempat tidurnya, ia masih membayangkan bagaimana sikap jihan tadi saat mereka berbicara di ruangannya.


Jihan bersikap acuh seakan tak lagi mau membahas masalalu antara mereka. Memang itu yang Johan inginkan, menghapus dan tak mengungkit masalalu mereka lagi.


Namun saat berada di depan Jihan ia seakan tidak tahan untuk bertanya dan mengetahui bagaimana hidup Jihan selama ini.


Tok.. tok..


Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Johan, ia langsung beranjak membuka pintu, dan ternyata orang yang mengetuk pintu adalah bi ina yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri dengan keluarga Alexander, bahkan saat keluarga Johan menetap di amerika selama satu tahun, bi Ina pun ikut ke sana.


"Maaf tuan ... tuan Toni Memanggil tuan Johan ke ruang kerjanya," ucap bi Ina.


Bi Ina beranjak pergi, di ikuti Johan yang juga beranjak pergi setelah menutup pintu kamarnya.


~


Ruang kerja Toni Alexander.


"Ayah Memanggil ku," ucap Johan sesaat setelah ia masuk kedalam ruangan itu.


"Jo, duduklah, ada yang ingin ayah bicarakan," ujar Toni.


Johan beranjak duduk di hadapan Ayahnya yang sedang membaca beberapa berkas penting, sebelum kepergiannya ke London besok.


Setelah menyerahkan perusahaan king group sepenuhnya kepada putra semata wayangnya, bukan berarti ia pensiun dalam bidang bisnis, tapi Toni sibuk mengurusi usahanya yang lain. Kepergiannya ke London kali ini, tidak lain untuk membahas kerja sama dengan sebuah perusahaan swasta yang ada di London.


"Ayah Besok akan berangkat ke London, mungkin ayah akan tinggal sekitar dua sampai tiga bulan. Camping tahunan perusahaan kita akan segera di laksanakan minggu depan, masalah tempat, tema dan segala macamnya, ayah serahkan ke kamu," ujar Toni.

__ADS_1


"Baik ayah," ujar Johan.


"Saat ayah pulang nanti, vita akan ikut bersama ayah pulang ke Indonesia, sekarang dia sedang berada di London juga," ujar Toni.


"Baguslah, aku bertemu dengannya saat di amerika, dia mentraktir ku makan, sebelum aku pulang ke Indonesia," ucap Johan sambil membaca majalah bisnis yang ada di meja kerja ayahnya.


"Kamu tidak mau mencoba untuk mempertimbangkan perasaan Vita padamu," ucap Toni tiba-tiba.


Johan yang tadinya fokus membaca majalah, kini beralih menatap ayahnya, "Maksud ayah apa?"


"Ayah tahu, kalian sudah berteman sejak kecil, dan tidak ada salahnya jika kalian menjadi pasangan kan, lagi pula ayah tahu jika vita sangat menyukaimu," ujar Toni.


"Aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, tidak lebih dan tidak kurang," ujar Johan lugas.


"Terus kapan kamu akan membawa calon menantu untuk ayah dan ibumu, teman ayah sudah menggedong cucu, sementara ayah belum ... kamu itu anak ayah satu-satunya, jika mencari calon istri itu ingat bibit, bebet dan bobotnya," ujar Toni panjang lebar.


"Iya Johan tahu ayah," ucap johan mengiyakan saja, karena kalau tidak, ceritanya akan semakin panjang.


~


Pagi hari di gedung utama King group.


Jihan berlari menuju lobby, ia sudah datang pagi agar Johan tidak memarahinya, namun saat masuk keruangan, ia melihat selembar kertas di atas meja kerjanya, ia membacanya dengan seksama, matanya langsung membulat saat membaca peraturan nomor lima, yaitu, Jihan harus menyambut kedatangan Johan setiap pagi di lobby kantor.


Sesampainya di lobby, Jihan langsung merapikan penampilannya dan membersihkan keringat yang membasahi Keningnya. Ia memakai pakaian pemberian Kinan hari ini, sangat cantik dan anggun namun riasannya sedikit berantakan karena terkena keringat, memang kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi.


Tak lama mobil yang membawa Johan tiba, Jihan langsung mendekat saat Johan keluar dari dalam mobil. Johan berjalan terlebih dahulu di ikuti Jihan dari belakang.


"Apa jadwalku pagi ini?" tanya Johan tiba-tiba.


Jihan langsung Membulatkan kedua matanya, ia lupa membawa Ponselnya, karena terlalu terburu, padahal malam tadi Tama sudah mengirimkan daftar jadwal johan lewat email padannya.


"Maaf tuan, saya lu-pa," ucap Jihan pelan, namun tetap saja di dengar oleh Johan.


Johan langsung Berbalik menatap tajam kearah Jihan, Jihan hanya bisa menunduk, menggerutuki kecerobohannya.


"Kenapa kamu masih saja ceroboh ,apa kamu benar-benar peraih nilai tertinggi saat interview, hal seperti ini saja kami bisa lupa," oceh Johan.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2