Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Semua Telah Terjadi


__ADS_3

Kevin masih saja duduk di lantai sambil menangkup kepalanya. Air mata itu terus mengalir membasahi pipinya. Tak bisa dia bayangkan jika hidup tanpa Alea.


Rendra menghela napas dalam berulang. Dia duduk di atas kursi sambil menatap kosong pintu operasi yang masih tertutup. Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk di ponselnya. Rendra segera mengangkat panggilan itu.


Rendra mengeraskan rahangnya mendengar penjelasan dari anak buahnya. "Breng sek!! Berani sekali mereka menyusup ke markas." Rendra mengepalkan tangannya. Ternyata benar dugaannya Della dan satu anak buahnya yang menyerang Kevin tadi adalah seorang penyusup dan pengkhianat. "Kamu kumpulkan semua anak buah kita. Kalian serang markas Elang Hitam sekarang juga!" perintah Rendra pada orang kepercayaannya.


Rendra menutup panggilan itu. Dia kepalkan tangannya dan memukul tembok dengan keras. "Sial! Bagaimana mungkin aku kalah cepat dengan mereka!"


Kevin mendongak dan menatap Rendra. "Ini semua terjadi karena kebodohanku. Aku akan kirim anak buahku untuk membantu kamu."


Kevin segera menghubungi anak buahnya dan memerintah mereka untuk bergabung dengan anak buah Rendra. Karena sejak tadi anak buah Kevin memang sudah stand by di dekat markas Kevin.


Beberapa saat kemudian seorang suster keluar dengan panik dari ruang operasi. "Ada keluarga pasien? Pasien banyak mengeluarkan darah, dan sekarang membutukan transfusi darah tapi stok darah di PMI hanya tinggal satu kantong. Kita butuh dua kantong lagi. Golongan darahnya O negatif."


"Golongan darah aku sama, O negatif." Rendra berdiri dan mengikuti suster itu.


Kevin hanya menatap punggung Rendra yang semakin menjauh. Tentu saja, keberanian Alea selama ini karena ada aliran darah yang mengalir dari keluarga mafia.


Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan Kevin selain berdo'a dan berdiam diri.


"Kevin!" terlihat Niko dan Aldi melangkah cepat mendekati Kevin yang masih terduduk di lantai. "Bagaimana keadaan Alea, aku dengar Alea tertusuk."


Kevin kembali menghela napas panjang. "Alea sekarang harus di operasi sesar. Ini semua salah aku, Nik. Aku sembunyikan semua ini dari Alea agar Alea tidak berada dalam bahaya tapi Alea justru mencari tahu sendiri dan salah paham dan ini semua terjadi."


Niko mengusap pundak Kevin berusaha menenangkannya. "Aku tadi ke markas Rendra. Ternyata benar Della adalah suruhan Elang Hitam. Kamu telah diperdaya oleh Della karena setahu aku Elang Hitam main hipnotis, untunglah kamu tidak sampai terbawa arus terlalu dalam."


Kevin berkali memukul lantai, dia benar-benar kesal dengan kebodohannya sendiri. Meski dibalik semua itu Alea menemukan keluarganya tapi jika akhirnya Alea terluka seperti ini, usaha itu tidak ada gunanya.


"Kevin tenangin diri kamu. Alea pasti gak papa. Dia wanita yang kuat."


Kevin menyandarkan kepala belakangnya dan mendongak. Dia usap wajahnya berkali-kali. Dia tidak peduli lagi penampilannya yang teracak bahkan banyak bercak darah di kemejanya.


"Aku titip Reka dan Raffa ya," kata Kevin.

__ADS_1


"Iya, tadi Luna dan kedua orang tua aku sudah ke rumah kamu. Mereka akan menjaga Reka dan Raffa selama Alea di rumah sakit."


Kevin membuang napas panjang. Dia berusaha menenangkan hatinya yang tak karuan itu.


Beberapa saat kemudian Rendra datang dengan lengan kemeja yang terlipat ke atas karena ada bekas dari jarum pengambilan darah.


Di dekatnya ada seorang suster yang berjalan cepat membawa kantong darah lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi.


Niko kini beralih menatap Rendra. Tubuh tinggi dan kekar dengan sedikit tato di lengannya itu memiliki wajah yang mirip dengan Alea.


"Rendra kakaknya Alea." belum juga bertanya, Kevin sudah memberi tahu Niko.


Niko terkejut. Selama ini yang dia tahu Alea tidak memiliki keluarga selain ibunya yang telah tiada. Tak disangka dia adalah adik dari ketua mafia.


"Anak dari Marko Permana?"


Kevin menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin?"


Mendengar hal itu seketika Rendra mendekat dan mengambil foto itu dengan cepat. "Mama. Mama sudah meninggal?"


Kevin menganggukkan kepalanya. "Lima tahun yang lalu."


Rendra kembali terduduk. Dia menatap nanar foto itu. Saat itu dia masih berumur tiga tahun dan Alea satu tahun. Dia tidak ingat betul bagaimana wajah ibunya tapi foto itulah yang selalu terpajang di rumahnya.


Satu peristiwa pengeboman membuatnya harus terpisah dengan adik dan Mamanya. Identitas mereka berdua seolah diganti hingga Marko tidak bisa menemukannya lagi.


Rendra segera menghubungi Papanya yang saat itu sedang berada di Thailand.


"Pa, aku sudah menemukan Ale. Tapi dia sekarang ada di rumah sakit dan Mama juga sudah meninggal lima tahun yang lalu." Rendra menghela napas panjang di ujung kalimatnya.


"Kamu serius?"

__ADS_1


"Iya Pa, Ale terluka parah karena serangan dari penyusup. Perutnya kena pisau sedangkan dia sedang hamil tua."


"Astaga... Papa akan segera urus pekerjaan Papa di sini. Besok pagi Papa akan kembali ke Indonesia. Kamu terus kabari Papa bagaimana perkembangan kesehatan adik kamu."


Setelah itu Rendra mematikan panggilannya. Dia menatap kembali foto lama itu. Waktu memang tidak bisa berputar. Dan sayangnya mereka bertemu kembali dalam keadaan seperti ini.


Setelah hampir satu jam, sayup-sayup terdengar suara tangis bayi. Kevin tersenyum kecil mendengar suara tangis putri kecilnya untuk yang pertama kali. Meski dia belum bisa melihatnya tapi setidaknya putri kecilnya telah selamat.


Beberapa menit kemudian Dokter dan Suster itu keluar.


Seketika Kevin berdiri dan mendekati Dokter itu.


"Selamat, putri Bapak terlahir dengan sehat tapi..."


Deg!


Jantung Kevin seolah hampir berhenti saat mendengar kata tapi dari Dokter. Ini jelas berita buruk.


"Istri Anda sangat lemah dan sekarang masih kritis."


"Biarkan saya bertemu dengan istri saya Dok." Kevin akan menerobos pintu itu. Tapi dihalangi oleh suster karena perawatan belum selesai.


"Anda tenang dulu. Anda bisa bertemu setelah istri Anda dipindahkan ke ruang rawat."


Niko menahan tubuh Kevin dan berusaha menenangkannya. "Kev, tenang dulu. Tunggu sebentar, kamu pasti bertemu Alea."


Kevin terduduk di kursi dengan lemas. Harapannya menemani Alea melahirkan di anak ketiga ini pun gagal. Dan dia juga gagal menjaga Alea. Harusnya yang terluka dirinya bukan Alea. Andai saja dia bisa menggantikan rasa sakit yang Alea rasakan saat ini.


.


💞💞💞


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen...


__ADS_2