Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.60


__ADS_3

Jihan kini sedang besama dengan Kinan di ruang tamu apartement, sementara Mela dan Nino mencoba semua pakaian yang di bawa Kinan.


Bajet dua ratus juta yang Johan berikan kepada Kinan, tentu saja sangat lebih dari cukup untuk membeli semua celana, baju, rok, bahkan pakaian dalam untuk Jihan, Nino dan Mela.


Kinan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memborong semua pakaian di sebuah toko pakaian ternama, Tentu saja semua yang di butuhkan Jihan, Mela dan Nino, hampir satu toko itu ludes berpindah ke dalam tiga koper besar yang sudah ia beli sebelumnya.


Jihan membawakan teh untuk Kinan. Ya kinan tinggal sendiri, karena Raksa sudah pergi ke kantor, Jihan meletakkan teh di atas meja ruang tamu itu.


Sepertinya Kinan juga ikut tersihir dengan ke mewahan Apartement yang kini Jihan tempati.


Matanya memperhatikan setiap sudut ruangan yang pasti terdapat bunga edelweis. Dirinya ingat betul jika bunga itu adalah bunga ke sukaan Jihan semasa SMA.


Bukan hanya itu, baik dari warna cat tembok, furniture semuanya adalah barang-barang kesukaan Jihan.


"Apartement ini, di penuhi bunga di setiap sudut ruangan, bukanya bunga ini adalah bunga kesukaan mu," ujar Kinan pada Jihan yang kini ikut duduk di sampingnya.


"Ah iya ya, kebetulan sekali," ucap Jihan pura-pura tidak tahu, padahal jelas sekali apartement ini Johan desain berdasarkan apa yang Jihan sukai.


Kinan beralih ke sebuah lemari kaca yang terdapat, koleksi prangko dari berbagai belahan dunia. Lagi-lagi itu kan adalah kegemaran Jihan dulu, mengoleksi prangko.


Kinan beranjak dari duduknya menuju lemari kaca itu, ia ingin memperjelas apa yang ia lihat.


"Nah, kalau ini juga kebetulan, kamu juga hobi mengoleksi prangko dulu," ujar Kinan sambil menoleh pada Jihan.


"Ah iya itu juga hanya kebetulan. Hehe," ucap Jihan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kinan menatap curiga ke arah Jihan, ia tahu betul jika Jihan pasti menyembunyikan sesuatu darinya. Kinan berjalan kearah Jihan dan kembali duduk di sampingnya.


Tatapan mata yang kini seolah sedang mengintimidasi Jihan. Melihat hal itu Jihan malah membuang muka je sembarang arah untuk menghindari tatapan mata Kinan.


"Apa ada sesuatu hal yang belum kamu ceritakan pada ku?" tanya Kinan berbisik, takut terdengar oleh Mela dan Nino yang sedang berada di ruang TV.


"A-apa, tidak, tidak ada," ucap Jihan gugup.


"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, cepat katakan," pinta Kinan.


Jihan menghela nafas beratnya, hal seperti ini sebenarnya tidak perlu di ceritakan, tapi karena Kinan memaksa dan tentu saja Jihan tidak bisa menolak jika Kinan sudah mendesaknya.


Jihan melirik ke belakang, Mela dan Nino tampak masih sibuk mencoba berbagai pakaian yang di beli Kinan, Jihan mendekati Kinan yang terlihat semakin penasaran.


"Sebenarnya, apartement ini, kak Jo beli lalu di desain khusus untuk ku, sewaktu ia masih di Amerika," ujar Jihan berbisik.

__ADS_1


"Apa!" pekik Kinan membuat Mela dan Nino menoleh kearahnya.


"Kamu kenapa Ki?" tanya Mela dari ruang TV.


"Ah aku tidak apa-apa Tante," ucap Kinan pada Mela.


"Oh kirain ada apa," ucap Mela lalu kembali fokus pada koper yang ada di hadapannya.


Kinan kembali menatap Jihan penuh pertanyaan, ia belum puas jika hanya tahu sampai di situ saja.


"Ceritakan pada ku, lebih rinci, aku masih bingung, kenapa juga kak Johan, membeli apartement ini untuk kamu, sementara dia masih di Amerika dan kalian juga tidak pernah berkomunikasi selama tujuh tahun," ujar Kinan pelan semakin penasaran.


"Kak Jo bilang, ia sengaja mendesain apartement ini, jadi saat ia tiba di Indonesia, dan ia mengingat ku, dia akan kemari dan melampiaskan kekesalannya pada setiap sudut apartement ini, kamu tahu kan, dia sangat membenciku waktu itu," tutur Jihan berbisik pada Kinan.


"Oh begitu, tapi sekarang kan kak Johan kan sudah mengetahui kebenarannya, dia pasti sangat menyesal sekarang," ujar Kinan.


"Entahlah, yang jelas, semuanya terlalu rumit untuk untuk di perbaiki lagi," ujar Jihan.


"Jangan terlalu di pikirkan, kalau jodoh tidak akan kemana," ucap Kinan sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


Kinan melihat jam di tangannya, yang menunjukkan pukul 1 siang, akhirnya ia pamit kepada Jihan dan Mela untuk pergi ke butik, karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


Hal yang kini paling membingungkan, adalah Jihan tak bisa menjauh dari Johan, mereka selalu bersama, namun tanpa status kejelasan hubungan mereka. Mela kini menghapiri Jihan dan Kinan yang tengah asik mengobrol sementara Nino sibuk menonton televisi.


"17 September ya ... aku akan pulang sehari sebelumnya Tante karena aku harus meminta izin kepada kepala departemen ku dulu, Tante mau berangkat kapan?" tanya Jihan.


"Mungkin sore ini, tolong kamu telpon mobil travel yang biasa ya," pinta Mela.


"Oh iya tante baiklah," ujar Jihan.


Mela kembali membereskan pakaian yang tadinya sudah ia bongkar lagi, Mela pikir pakaian itu telalu banyak untuk di bawa ke kampung, jadi ia akan membawa beberapa saja.


Jihan berjalan menuju balkon apartement itu, ia berjalan keluar untuk menikmati udara yang bertiup sepoi-sepoi. Jihan menatap nanar ke arah langit. 17 September, satu minggu lagi adalah hari peringatan kematian orang tuanya, seperti biasa Ia akan pergi berziarah ke makam kedua orangtuanya di kampung.


Tanpa Jihan sadari bulir air mata membasahi pipinya, iya pikir, jika kedua orang tuanya masih ada mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Di hadapan Mela dan Nino ia mencoba untuk kuat, tapi sebenarnya ia merasa sangat hancur dengan segala musibah yang menimpa hidupnya.


Sebagai seorang anak yatim piatu, ia tidak punya seorang ayah untuk tempat bersandar dan seorang ibu untuk tempatnya berbagi keluh kesah. Mela sangat baik padanya, namun ia tidak ingin menambah beban Mela dengan membicarakan keluh kesahnya.


Jihan kembali masuk kedalam kamarnya, untuk beristirahat, ia masih merasa lelah baik hati, dan pikirannya membutuhkan istirahat.


~

__ADS_1


Pukul empat sore, Mobil travel yang di pesan Jihan sudah tiba di depan gedung apartement, Jihan membantu Mela membawa koper. Sementara Nino nampak sedih karena harus meninggalkan apartement mewah itu.


Supir mobil travel itu, membantu Jihan memasukkan koper Mela ke dalam bagasi mobil. Si supir nampak heran kenapa Mela dan Jihan berada di sini, biasanya ia menjemput Jihan dan Mela di rumah.


"Pindahan neng, kok tinggal di sini?" tanya supir travel itu.


"Bukan pindahan sih pak, rumah Tante sayakemarin, baru saja terbakar, kami hanya tinggal sementara di sini," tutur Jihan.


"Astaga, saya turut prihatin ya, kok bisa kebakar, gimana ceritanya?" tanya supir travel penasaran.


"Pihak kepolisian masih menyelidikinya pak," ucap Mela yang kini mengahampiri Jihan dan pak supir di belakang mobil.


"Iya Bu, kalau musibah memang tidak di sangka datanya, yang sabar ya Bu," ucap pak supir pada Mela.


"Iya pak, terimakasih," ucap Mela.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang,"ujar pak supir.


"Iya pak," ucap Mela.


Mela mengahampiri Jihan yang masih diam di tempatnya, Jihan merasa sedih, karena Mela akan pergi, setelah kejadian kebakaran itu.


"Jihan, Tante berangkat duluan ya," ucap Mela pada Jihan.


"Iya Tante, hati-hati ya," ucap Jihan.


Jihan menghapiri Nino yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil, Jihan melihat Nino dari kaca jendela mobil yang masih terbuka. Nino masih nampak masih cemberut karena tidak ingin pergi, ia suka tinggal di Apartement itu.


"Nino, hati-hati di jalan ya," ucap Jihan pada sepupunya itu.


"Aku masih mau tinggal, kenapa harus pulang kampung sih," ucapnya kesal.


"Ya sudah Nino, tinggal sama kak Jihan saja," ucap Mela yang sudah duduk di samping Nino.


"Tidak mau, kalau mama tidak ada, Nino maunya sama mama," ucap Nino sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kita pulang sebentar, nanti kita balik lagi kesini," ujar Mela.


"Oke baiklah,"ucap Nino pada akhirnya.


Mobil travel itu melaju pergi meninggalkan halaman apartemen mewah itu, Jihan menatap kepergian Mela dan Nino, sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2