Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Ingin Dimanja


__ADS_3

"Kenapa cemberut aja?" tanya Niko sambil mengemudi sore itu saat perjalanan pulang setelah menjemput Luna.


Luna hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia menyandarkan dirinya di lengan Niko.


"Capek?" tanya Niko lagi.


Luna hanya menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Niko sudah menghentikan mobilnya di halaman rumahnya.


Sampai turun dari mobil pun, Luna masih bergelayut manja di lengan Niko.


"Kalau capek besok libur aja kerjanya," kata Niko setelah masuk ke dalam kamarnya.


Luna justru menghempaskan dirinya di atas tempat tidur.


"Gak mandi dulu?" tanya Niko karena biasanya saat sampai di rumah, Luna segera mandi mendahului Niko.


"Bentar. Mau rebahan dulu." Luna menghela napas panjang.


Setelah melepas jas dan dasinya, Niko membuka dua kancing kemeja atasnya. Lalu dia merangkak naik ke atas ranjang dan mendekati Luna. "Kenapa?" tanya Niko lagi setelah mengecup singkat bibir tipis itu.


Tangan Luna justru memeluk tubuh Niko. "Seharian ini rasanya aku kangen sama Mas Niko. Tadi diajak makan siang gak bisa."


Niko justru tertawa. "Bucin banget." Niko kembali mencium bibir Luna sesaat tapi sangat dalam. "Jadi gara-gara itu sedari tadi cemberut. Ya udah kita dinner yuk?"


"Gak cuma itu sih. Tadi tiba-tiba saja ada berkas yang hilang lagi di meja aku."


Niko kini menatap Luna dengan serius. "Gimana ceritanya?"


Luna menggeleng tidak mengerti. "Aku juga gak tahu. Akhir-akhir ini aku merasa ada yang ngikuti aku. Apa jangan-jangan orang suruhannya Robi ya?"


Niko melepas pelukannya lalu duduk. "Ini gak bisa dibiarkan. Aku akan suruh orang buat selidiki masalah ini. Kamu selalu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku."


Luna pun ikut duduk, "Kamu tenang aja, aku bisa jaga diri."


"Tapi kamu tetap seorang wanita yang harus dijaga." Satu usapan sayang mendarat di puncak kepala Luna.


Luna tersenyum lalu kembali memeluk pinggang itu.


"Ya udah, aku mau mandi dulu. Gerah banget. Apa mau mandi bareng?" tanya Niko.

__ADS_1


Belum juga Luna menjawab, Niko berdiri lalu mengangkat tubuh Luna ala bridal style. "Yuk!"


"Mau ngapain?" tanya Luna seolah tidak mengerti maksud dan tujuan suaminya itu.


"Mandi plus-plus."


Luna hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Niko.


Niko sudah tak kuasa untuk tidak memagut bibir tipis itu. Dia lu mat bibir Luna sambil berjalan menuju kamar mandi. Setelah masuk ke dalam, Niko menutup pintu itu dengan kakinya.


Perlahan Niko menurunkan tubuh Luna di bawah shower. Mereka kini saling bertatapan lekat.


Kemudian tangan Niko mulai melepas satu per satu kancing kemeja Luna. Setelah itu, dia lepas kemeja Luna. Dia telusuri kulit putih itu dengan jemarinya. Perlahan dan penuh perasaan.


Luna hanya memejamkan matanya merasakan sentuhan Niko yang selalu memanjakan dirinya.


Bibir Niko kini mendekat dan menyusuri leher Luna, semakin ke bawah lalu menjejaki gundukan di dada Luna yang sudah tak tertutup apapun. Menghisapnya dengan kuat yang membuat lenguhan dari bibir Luna terdengar.


"Mas," Luna menarik kemeja Niko dan melepas kancingnya hingga terlihatlah dada bidang itu. "Lakukan sekarang."


"Sure, baby?" Niko tersenyum miring lalu dia membelai sesuatu yang telah basah itu. "Come on." Dia lepas kain penutup terakhir Luna lalu dia lepas celananya. Sesuatu yang sedari tadi telah terbangun dan berdiri tegak itu telah siap untuk lepas landas.


"Iya sayang. Kamu nikmati." Niko mengusap lembut bibir Luna yang sesekali men de sah itu. Dia tahan sebelah kaki Luna dengan lututnya saat dia maju mundurkan dirinya berirama.


Suara nikmat itu saling bersahutan, sampai keringat membasahi tubuh di sore hari yang cukup dingin itu.


Rasa candu itu sudah kesekian kalinya mereka rasakan tapi tetap mereka ingin melakukannya lagi dan lagi.


...***...


"Bagaimana? Kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Kevin lewat panggilan teleponnya, malam itu di dalam kamarnya.


Dia mendengarkan dengan serius penjelasan dari Aldi, sekretaris pribadinya yang dia suruh menyelidiki kasus seorang penyusup itu.


"Cleaning service? Dia baru?"


"Kenapa aku bisa kecolongan gini. Ya sudah, kita urus masalah ini besok!" Kevin menghela napas panjang lalu memutuskan panggilannya.


"Ada masalah apa?" tanya Alea yang melihat wajah serius Kevin.


Kevin meletakkan ponselnya lalu menyandarkan dirinya di headboard. "Soal penyusup itu. Berkas aku tadi ada yang hilang lagi."

__ADS_1


Seketika Alea yang sedang menggendong Raffa ikut duduk di sebelah Kevin. "Terus siapa penyusupnya? Sudah ketahuan?"


"Menurut Aldi, dia seorang cleaning service yang baru dua bulan ini bekerja. Sepertinya dia ada sangkut pautnya dengan Robi, mantan Luna itu."


"Terus motifnya apa?" tanya Alea.


"Ya mungkin dia memang mau mencuri berkas-berkas penting karena dari kabar yang aku dengar perusahaannya hampir bangkrut. Bisa saja nanti dia juga jebak Luna dalam kasus ini," terang Kevin.


"Terus gimana? Ada efek dari berkas yang dia curi di perusahaan kamu?" tanya Alea yang ikut khawatir dengan perusahaan Kevin.


"Aku udah menanganinya. Aku harus lebih cepat daripada pencuri itu."


"Suamiku memang hebat," puji Alea sambil mencium pipi Kevin lalu dia menurunkan Raffa di tengah ranjang.


"Kok di pipi sih sayang. Bibir dong."


"Ih, maunya." Alea mengusap lembut rambut Raffa agar semakin tertidur dengan nyenyak. "Sssttt, Raffa baru tidur, aku mau istirahat."


"Ulang adegan kemarin yuk." Kevin menahan tangan Alea saat dia akan merebahkan dirinya.


"Capek. Kamu besok kan kerja."


"Bentar aja. Biar stress aku hilang. Yuk." Kevin semakin menarik Alea agar mengikutinya.


Awalnya menolak dan sok jaim tapi sebenarnya dia mau. Malu-malu mau. Dan sofa itu kembali menjadi tempat terpanas setiap malam.


💞💞💞


.


.


Tuh kan, kalau udah nikah mau buat cerita gimana ujung-ujungnya nganu.. 🙄


.


Nanti akan ada konflik lagi ya sampai ngabisin bulan ini.. Moga gak bosan.. 🤭


.


Jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2