
Hari minggu pagi, saat dimana Jihan akan bermalas-malasan seharian. Namun berbeda dengan pagi ini, ia sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
Sekitar pukul tujuh pagi tadi, Maria menelponnya, Maria Mengundang Jihan untuk datang ke rumahnya. Jihan tidak menyangka jika Maria benar-benar akan memanggilnya. Ia belum siap untuk hal ini, pikirnya.
Jihan memakan sarapannya dengan terburu-buru, Mela dan Nino sampai tak berkedip melihat cara makan Jihan.
"Kamu makan seperti di kejar setan saja, ada apa sih, kok buru-buru sekali," ujar Mela.
"Aku di panggil oleh ibu pak Johan datang ke rumahnya, sebenarnya aku ingin tidur seharian ini," ujar Jihan lalu meneguk minumannya.
"Kenapa juga kakak mau di suruh kesana," ucap Nino tiba-tiba.
"Ini itu perintah tahu!" ujar jihan kesal.
"Jika mengunjungi rumah seseorang, setidaknya harus membawa sesuatu," ucap Mela.
"Membawa apa? Apa kita punya sesuatu untuk orang yang punya segalanya," ucap Jihan yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Kamu ini, itu sebagai sopan santun saat berkunjung ke rumah seseorang ... oh iya, bagaimana jika kamu membawa Bolu pisang yang tadi malam tante buat," ucap Mela.
"Bukannya itu untuk Bu fada," ucap Jihan.
"Ah besok akan tante buatkan lagi ... kamu bawa saja ya," ucap Mela.
"Baiklah," ucap Jihan.
"Oke, tunggu sebentar, tante siapkan dulu," ucap Mela, lalu baranjak dari duduknya tanpa menghabiskan makanannya terlebih dulu.
~~
Jihan sudah berada di depan pagar yang tinggi menjulang. Jihan menoleh, melihat nomor rumah yang tertera, dan benar ini adalah alamat yang Maria berikan kepadanya.
Jihan beranjak mendekati pagar tinggi itu, ia mengulurkan tangannya untuk menekan bel yang tersedia di sana.
Tak beberapa lama, satpam yang bertugas datang dan membuka pagar itu sedikit.
"Nona mencari siapa?" tanya pak satpam itu.
"Saya di undang oleh nyonya maria untuk datang kemari," ucap Jihan kepada satpam itu.
"Mohon tunggu sebentar, saya akan segera kembali," ucap satpam itu lalu kembali masuk kedalam dan menutup pintu pagar itu kembali.
__ADS_1
Semua itu demi keamanan keluarga Alexander, tidak sedikit yang sudah datang dan mengaku menjadi petugas kebersihan, atau tukang reparasi AC.
Tak lama pak satpam itu datang lagi dan mempersilahkan Jihan masuk.
"Silahkan masuk nona, nyonya Maria sudah menunggu nona di ruang tamu," ucap satpam itu.
"Baik pak, terimakasih," ucap Jihan.
Jihan melangkahkan kakinya masuk kedalam, ia semakin takjub melihat halaman yang begitu luas dan sangat indah dengan berbagai tanaman hias.
Jarak antara pagar dan rumah itu cukup jauh, sekitar lima puluh meter. Kaki Jihan sampai pegal karena berjalan, kenapa juga ia harus memakai sepatu high heels di saat seperti ini.
Sesampainya di depan pintu utama, Jihan langsung kaget saat maria datang menghampirinya.
"Eh Jihan, ayo masuk, saya sudah lama menunggu loh," ucap Maria.
"Iya nyonya, maaf, jalanan cukup macet pagi ini," ucap Jihan.
"Tidak apa-apa ... apa itu?" tanya maria saat melihat paper bag besar di tangan Jihan.
"Ini bolu pisang buatan tante saya nyonya, mohon di terima," ucap Jihan sambil menyerahkan paper bag itu kepada Maria, dan langsung di terima dengan senang hati oleh Maria.
"Terimakasih, kenapa repot-repot segala ... emm baunya wangi sekali," ucap Maria.
"Ayo ikut saya, kebelakang yuk, saya juga lagi masak loh ... setiap hari minggu saya yang masak sendiri, johan hanya ingin memakan masakan tante saja saat libur," ujar Maria.
"Saya juga senang memasak nyonya," ucap Jihan.
"Kebetulan sekali kalau begitu," ucap Maria.
~
Jihan terpana melihat dapur mewah milik Maria, di lengkapi dengan kitchen set yang serba gold menambah membuat dapur semakin nampak mewah, jauh sekali di bandingkan dapurnya di rumah.
"Nyonya mau masak apa?" tanya Jihan.
"Hari ini Johan ingin makan, sop daging, Nila asam pedas dan ayam saus mentega," ujar Maria.
"Baiklah, kalau begitu saya bantu ya nyonya," ucap Jihan.
"Baiklah, terimakasih ya Jihan, hari ini bi Ina sedang pulang ke kampungnya, pelayan lain juga sibuk sama tugas mereka masing-masing, untung saja ada kamu jadi saya ada temannya, maaf ya jadi merepotkan," ujar Maria.
__ADS_1
"Jangan sungkan nyonya, hehe," ucap Jihan.
Jihan terlihat sangat cekatan saat meracik bumbu, Maria hampir tidak menyentuh apa-apa, ia hanya kebagian memotong-motong sayuran saja.
Maria sangat kagum dengan keahlian Jihan di dapur, jarang sekali ia menemukan wanita muda yang mau turun ke dapur seperti Jihan.
"Kamu cepat sekali masaknya," ucap Maria saat melihat sop daging sudah selesai di masak.
"Silahkan di coba dulu nyonya," ucap Jihan kemudian menyerahkan mangkok berisi sop daging yang masih panas.
Maria mulai mencicipi masakan Jihan, matanya membulat saat merasakan sop daging buatan Jihan yang sangat enak, ia bahkan tak berhenti sekali suap saja.
"Bagaimana nyonya, enak?" tanya jihan penasaran.
"Eh sampai lupa ... iya ini enak sekali, saya sampai tidak bisa berhenti makan," ujar Maria.
"Hehe, syukurlah kalau begitu," ucap Jihan.
Johan baru saja bangun, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan penampilan yang masih berantakan dan muka bantalnya, ia hendak turun ke dapur untuk mengambil air mineral.
Sebenarnya di kamarnya di sediakan lemari pendingin, namun pagi ini saat ia bangun, stok air mineralnya habis, jadi dia memutuskan untuk turun ke bawah.
Dengan kondisi yang belum seratus persen normal, ia membuka kulkas dan mengambil air mineral. Tanpa ia sadari Jihan dan Maria terus memandanginya.
Johan meneguk air itu hingga hampir habis, ia langsung menghentikan aktivitasnya saat ia mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Selamat pagi tuan Johan," ucap Jihan berusaha menahan tawanya.
Uhuk uhuk.
Johan sampai tersedak air, saat matanya menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di samping ibunya.
"Jo ... kenapa minumnya bisa sampai tersedak begini," ucap Maria yang kini sudah berpindah ke samping Johan, menepuk-nepuk pundak Johan.
"Kamu kenapa bisa sini," ucap Johan kepada Jihan.
"Ibu yang memanggil Jihan kemari," ucap Ibu Johan.
Jihan tak lagi menjawab karena sudah di wakili oleh ibu Johan. Johan baru sadar Jika penampilannya saat ini benar-benar tidak enak untuk di pandang, terlebih di depan Jihan, alangkah malunya Johan, kemana sisi perfeksionisnya saat berada di kantor.
Pagi ini ia benar-benar berantakan karena malam tadi ia baru bisa di tidur setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum camping tahunan king group di laksanakan tiga hari lagi.
__ADS_1
Johan langsung pergi dari dapur tanpa sepatah katapun, ia sangat malu, bahkan hanya untuk terseyum kepada Jihan.
Bersambung 💕