
Pagi hari di gedung utama king grup, semua sudah beraktivitas seperti biasanya. Jihan baru saja tiba, tapi sepertinya ia mengalami masalah pada kakinya, sepatu yang ia pakai membuat kakinya sakit.
Ukuran sepatu itu memang sedikit kekecilan di kaki Jihan. Dia lupa memakai sandal yang biasa ia pakai untuk naik bus, kerena di dalam bus ia selalu tidak kebagian tempat duduk, alhasil selalu harus berdiri sampai ia sampai ke tempat tujuan.
Terlihat sangat tidak nyaman saat ia berjalan, namun mau tidak mau dirinya harus menahan rasa sakit pada kakinya, tidak mungkin ia bertelanjang kaki masuk ke perusahaan.
Jihan masuk kedalam lift, melihat tidak ada orang di dalam dan hanya dirinya saja, Jihan m membuka sepatu high heelsnya dan membiarkan kakinya beristirahat sejenak.
Saat pintu lift terbuka, Jihan kembali memakai sepatu high heels itu dengan berat hati.
Di bukanya pintu ruangan bagian keuangan, Jihan menyeret langkahnya menuju meja kerjanya yang tidak seberapa jauh, namun kali ini nampak sangat jauh. semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikan tingkah aneh Jihan.
"Kamu kenapa Jihan?" tanya Jenny yang sekarang sudah berada di depan meja kerja Jihan.
"Ini kaki ku, lecet karena terlalu lama berdiri di bus tadi, dan sepertinya sepatu ku kekecilan, sepatu ini hadiah dari tante ku, tidak di pakai sayang,di pakai malah terluka begini," ucap Jihan.
Malik yang sedang duduk di belakang meja kerjanya melirik kearah samping, ia memperhatikan kaki Jihan yang mengalami luka lecet, namun ia hanya diam tanpa bicara apapun, meski sebenarnya ia sangat khawatir.
"Jangan di pakai lagi, buka saja ... kebetulan aku membawa sandal, apa kamu mau?" tanya jenny.
"Boleh, setidaknya aku bisa memakainya saat di ruangan ini kan," ucap Jihan.
"Oke tunggu sebentar, aku ambilkan," ucap Jenny lalu melangkah kembali ke meja kerjanya.
Jihan melirik ke sisi kirinya, ia melihat Malik yang hanya diam tanpa bicara apapun padanya. biasanya Malik adalah orang pertama yang selalu mengkhawatirkannya.
Terasa aneh saja saat orang terdekat kita, diam tanpa kita tahu alasan yang sebenarnya.
"Jihan, ini sandalnya," ucap jenny sambil menyodorkan sandal kepada Jihan.
"Ah iya, terimakasih jen," ucap Jihan.
~~
Johan sedang berada di dalam lift, ia menekuk wajahnya, karena hari ini ia begitu tidak bersemangat. sesampainya di ruangan Raksa sudah berada di sana.
"Selamat pagi tuan," ucap Raksa lemas.
"Kamu kenapa?" ucap Johan yang memperhatikan Raksa yang juga tidak bersemangat hari ini.
__ADS_1
"Huft ... saya baru saja putus dari pacar saya tuan," ucap Raksa lirih.
"Cengeng kamu ... laki-laki itu harus kuat," ucap Johan.
"Tuan sendiri kenapa ... saya perhatikan saat masuk tadi wajah anda di tekuk begitu?" tanya Raksa.
"Ehm ... itu bukan urusanmu," ucap Johan.
"Apa ini karena Jihan," ucap Raksa tiba-tiba.
Johan kembali menoleh ke arah Raksa, menatap mata raksa dengan tatapan tajamnya. bagaimana sekertaris barunya ini tahu semuanya padahal ia tidak pernah membahas jihan bersamanya.
"Apa maksudmu?" tanya Johan.
"Maafkan saya sebelumnya tuan ... tapi malam itu, saat anda sedang di rawat di tenda petugas kesehatan, saya mendengar pembicaraan anda dan Jihan," ucap Raksa yang membuat Johan kembali tercengang.
Malam itu setelah Raksa memberikan pengumuman kepada semua peserta camping, Raksa kembali untuk memeriksa kondisi Johan.
Saat akan masuk, tiba-tiba ia mendengar Bosnya itu seperti sedang berbicara dengan seseorang, akhirnya Raksa kembali memundurkan langkahnya. ia berdiri di bagian luar tenda, dan mendengar semua obrolan Jihan dan Johan.
"Huh ... karena kamu sudah mengetahuinya, kamu lebih baik diam dan tidak mengatakan kepada siapapun, jika tidak, kamu akan saya pecat," ancam Johan.
~
Jam makan siang telah tiba, Malik keluar ruangan terlebih dulu, entah ada urusan apa, tapi Malik tak mengatakan apapun dan langsung pergi saja. Jenny, Cika dan Rendy hendak pergi makan siang, mereka menghampiri Jihan yang masih sibuk di belakang meja kerjanya.
"Jihan, ayo makan siang dulu," ucap Cika.
"Kalian saja, aku tidak mau keluar jika hanya mengenakan sandal, takut kena tegur," ujar Jihan.
"Apa kamu mau makan sesuatu, biar aku belikan nanti," ucap jenny.
"Tolong belikan aku air mineral dan roti saja," ucap Jihan.
"Oh baiklah,"ucap Jenny.
"Kalau begitu kamu pergi dulu ya Jihan," ucap Rendy.
"Ah iya, pergilah," ucap Jihan.
__ADS_1
Rekan-rekannya telah pergi, Jihan kembali fokus ke layar laptopnya. karena tidak bisa keluar, Jihan memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya saja.
Saat tengah fokus mengerjakan pekerjaannya, Pintu ruangan terbuka, dan ternyata orang yang masuk adalah Malik. Jihan mendengar suara langkah kaki mendekat, namu ia masih fokus ke layar laptopnya, ia kira itu adalah jenny.
"Kenapa kamu cepat sekali, tidak jadi makan," ucap Jihan.
Karena tidak ada jawaban akhirnya Jihan memutuskan untuk berbalik. Ia langsung mendongak melihat siapa orang yang sedang berdiri di depannya mejanya sekarang. Rasa canggung mulai muncul, saat ia tahu jika orang yang kini ada di hadapannya adalah Malik.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Malik tiba-tiba.
"Bicaralah, aku mendengarkan," ucap Jihan.
"Huft ... tidak bisa di sini,"ucap Malik.
"Aku tidak bisa keluar, kamu tidak lihat, aku sedang memakai sandal jepit, kaki ku sedang sakit," ujar Jihan kesal, sejak kemarin Malik tidak berbicara padanya dan sekarang Malik malah datang dan memintanya untuk berbicara dengannya.
Malik Menyodorkan sebuah paper bag besar kehadapan wajah Jihan, Jihan langsung mengerutkan keningnya melihat itu.
"Apa ini," ucap Jihan.
Malik tak menjawab, namun Malik langsung melangkah ke samping dan bersimpuh di hadapan Jihan. Malik membuka isi paper bag yang berisikan sepatu baru yang ia beli barusan.
Di raihnya kaki Jihan dan langsung di pakaikan sepatu itu ke kaki Jihan. Jihan nampak kaget tapi jug tak menolak, Jihan takut jika dia menolak akan membuat rekannya yang baik hati ini, marah lagi kepadanya.
"Pas sekali," ucap Malik
"Ini untuk ku?" tanya Jihan.
"Iya, tentu saja untuk kamu," ucap Malik.
"Aku kira kamu masih marah pada ku," ucap Jihan sambil memperhatikan sepatu high heels berwarna hitam yang sangat nyaman di kakinya itu.
Malik kembali berdiri ke posisi tegaknya. ia meletakkan kedua tangannya di sisi kanan kiri saku celana yang dirinya kenakan. ia menatap Jihan dalam. Sadar di tatap seperti itu, Jihan langsung mengalihkan pandangannya.
"Sebenarnya malam itu aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, tapi kamu tidak datang," ucap Malik.
"Kalau begitu katakanlah, kita sekarang sedang berdua saja disini," ucap Jihan saat kembali melihat kearah Malik.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku ...." ucap Malik menggantung.
__ADS_1
Bersambung 💕