Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Tetap Tenang


__ADS_3

"Cucu kakek, cepat sekali besarnya." Pak Marko menggendong Rania yang semakin hari semakin gemuk dan cantik. Bayi yang berusia tiga bulan itu sudah bisa tertawa menggemaskan.


"Satu bulan gak ketemu, udah pintar tertawa." Sebelumnya Pak Marko memang baru pulang dari Thailand menyelesaikan pekerjaannya di sana. Setelah itu, mungkin dia akan tinggal di dekat keluarganya karena di sisa hidupnya itu dia ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucunya.


"Kak Rendra mau kemana?" tanya Alea yang melihat Rendra sudah rapi dan membawa tas besar. Dia datang ke rumah Kevin memang untuk berpamitan.


"Aku mau keluar kota. Mungkin dalam waktu yang cukup lama."


Pak Marko menghela napas panjang. "Papa sudah bilang, tinggalkan dunia gelap kamu. Jangan ikuti jejak Papa."


Rendra terdiam beberapa saat. Baginya hidup adalah tantangan. Dan sekarang kasus penyelundupan senjata apinya sudah terendus oleh polisi. Untuk sementara, dia akan tinggal di pedesaan. Dia ingin mencari kembali jati dirinya. Apakah dia memang harus pensiun dini dari dunia mafia?


"Iya, nanti aku pikirkan lagi." kemudian Rendra meraih Rania dan menggendongnya. "Rania, paman tinggal dulu ya. Nanti kalau Rania kangen kita video call. Oke..." Rendra menciumi pipi gemas itu yang membuat Rania tertawa kegelian.


"Yah, Paman lama keluar kotanya?" tanya Reka. Dia juga sangat dekat dengan Rendra.


"Iya, Paman gak tahu sampai kapan kembali ke sini. Tapi nanti Reka tetap bisa video call ya."


"Oke." Reka kembali bermain dengan Raffa yang sudah pandai berlari.


Waktu memang berlalu begitu cepat. Perkembangan mereka juga semakin pesat.


"Kevin belum pulang?" tanya Rendra yang sedari tadi tak melihat keberadaan Kevin.


"Belum. Masih ada meeting sore hari. Mungkin agak malam pulangnya."


Rendra melihat jam di tangannya lalu memberikan Rania pada Alea. "Sebentar lagi travel aku berangkat. Aku titip salam sama Kevin saja." Kemudian Rendra memakai jaket kulitnya.


"Rendra, kamu beneran gak bawa mobil?" tanya Pak Marko.


Rendra menggelengkan kepalanya. "Nanti ada sepeda motor di sana. Kalau aku bawa mobil polisi bisa menangkap aku." Rendra berpamitan pada Papanya dengan mencium punggung tangannya. "Rendra berangkat dulu, Pa."


"Iya, semoga kamu selalu diberikan jalan yang terbaik." Do'a tulus Pak Marko pada putranya.

__ADS_1


"Iya, Pa."


"Alea, aku berangkat dulu. Reka, Raffa, paman berangkat dulu ya. Dan si gemes Rania, Paman pergi dulu ya." Rendra kembali mencium kedua pipi Rania hingga dia tertawa geli.


Lambaian tangan Rendra mengiringi langkah kakinya. Ya, kali ini dia memang lari dari kenyataan. Entah, dia akan berubah menjadi lebih baik atau akan semakin menjadi. Dia berusaha mencari jati dirinya lagi di tempat yang baru.


"Semoga Rendra tahu jalan yang benar. Papa menyesal telah mengenalkannya di dunia gelap itu. Ambisi Rendra lebih besar dari pada Papa dulu. Papa takut suatu saat nanti dia akan menuai hasil yang buruk."


"Papa doakan saja yang terbaik buat Kak Rendra."


"Iya. Papa selalu mendoakan yang terbaik buat Rendra."


...***...


Malam itu, hampir semalaman Luna tidak bisa tidur. Dia belum juga menemukan posisi yang nyaman untuk perut besarnya.


"Sayang, kenapa? Dari tadi gelisah terus."


Niko mengusap perut besar Luna agar Luna terasa nyaman. Hpl tinggal beberapa hari lagi, posisi bayi juga sudah turun ke panggul. Semakin hari, tubuh Luna semakin terasa berat dan tidak nyaman.


"Udah kencang gini?"


Luna menganggukkan kepalanya karena semakin lama semakin terasa tidak nyaman.


Niko membantu Luna duduk dan bersandar di headboard. "Mulas?"


"Gak tahu Mas. Kayak gak enak gitu."


"Kalau sakit bilang ya, kita siap-siap ke rumah sakit. Barang-barang sudah lengkap kan?"


Luna menganggukkan kepalanya.


Niko membawa kepala Luna agar bersandar di bahunya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, tapi Luna sama sekali belum terlelap.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi, Mas." kata Luna sambil memegang perutnya yang semakin terasa tidak nyaman.


"Ayo." Niko membantu Luna turun dari tempat tidur dan mengantarnya ke dalam kamar mandi. "Mas, perut aku sakit."


Niko masih setia menunggui Luna di dalam kamar mandi. "Mungkin beneran udah kontraksi. Kita ke Dokter ya." Meskipun khawatir, tapi Niko berusaha tetap tenang. Dia dan Luna sudah beberapa kali mengikuti kelas hamil jadi mereka sudah mengerti tahapan-tahapan selanjutnya.


"Nanti aja Mas. Masih baru terasa pasti masih lama."


Niko kembali menuntun Luna keluar dari kamar mandi dan membantunya duduk di atas tempat tidur.


"Sayang, udah gak sabar bertemu Ayah sama Bunda ya?" Niko mengusap perut yang terasa semakin kencang itu. Lalu dia ciumi perut itu. "Jangan lama-lama ya buat Bunda sakit. Semoga semua lancar dan sehat keduanya."


Luna tersenyum mendengar kalimat Niko. Dia tidak menyangka kalau suaminya ini begitu tenang dan tidak terlalu panik, tidak seperti yang pernah dia lihat di film-film itu.


"Nanti kalau semakin terasa mulas bilang ya. Aku ambilkan minuman hangat sama roti dulu, agar tenaga kamu full."


Luna menganggukkan kepalanya. "Makasih ya, Mas."


Niko mengusap lembut puncak kepala Luna. "Apa yang aku lakukan tidak seberapa dengan perjuangan kamu."


Perasaam Luna semakin menghangat. Dia tidak salah memilih Niko menjadi pendamping hidupnya selamanya.


💞💞💞


.


.


Anak Luna dan Niko cewek atau cowok hayo...


.


Jangan lupa like dan komen...

__ADS_1


__ADS_2