Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Menjenguk Luna


__ADS_3

"Pagi Nina..." Niko menggendong putri kecilnya yang menguap panjang. Nina baru saja terbangun lagi dari tidurnya yang hanya sesaat.


Meskipun semalam Niko bergadang menemani Luna yang harus memberi ASI dua jam sekali, tapi dia seolah tidak ada rasa kantuk. Bahkan Luna saja masih memejamkan matanya.


"Nina poop ya?" mendengar suara khas dari perut Nina yang keluar, Niko segera meletakkannya kembali di atas box lalu mengambil diaper dan tisu basah. Dengan telaten Niko membersihkan lalu mengganti diaper itu.


"Niko, bisa?" tanya Bu Rini yang baru saja datang. Semalam dia memang ingin menginap untuk menemani putrinya tapi Niko menyuruhnya pulang, karena Niko tidak ingin mertuanya atau orang tuanya ikut lelah menjaga buah hatinya.


"Bisa, Ma." jawab Niko yang sudah hampir selesai memasang diaper itu.


"Luna masih tidur?" tanya Bu Rini.


"Iya, Ma. Biarkan saja. Masih belum waktunya ngasih ASI."


Bu Rini tersenyum melihat menantunya yang sangat menyayangi putrinya.


"Mama bawakan makanan buat kamu. Sebentar lagi kamu makan dulu."


"Iya, Ma," jawab Niko.


"Sini, Mama bantu bedong biar hangat." Bu Rini mengambil alih pekerjaan Niko. "Kamu makan dulu mumpung makanannya masih hangat."


Niko menganggukkan kepalanya lalu dia duduk di sofa dan mengambil makanan yang dibawa mertuanya itu. Dia mulai memakannya sambil sesekali menatap Luna yang masih tertidur.


"Cucu nenek cantik sekali." Nina yang sekarang ada di gendongan Bu Rini mulai menangis. Sepertinya dia sudah haus.


Meski tidak tega, Niko akhirnya membangunkan Luna secara perlahan. "Sayang, Nina haus."


"Iya Mas." Luna membuka matanya dan meregangkan ototnya pelan lalu bangun secara perlahan yang dibantu oleh Niko.


Bu Rini menurunkan cucunya di pangkuan Luna. Kemudian bayi mungil itu mulai menyesapi sumber kehidupannya.


Niko mengambil sebotol air mineral dan makanan lalu duduk di dekat brangkar Luna.


"Kamu minum dulu." Niko memegangi botol itu dan membantu Luna minum.


Setelah habis setengah botol, Niko kini menyuapi Luna.


"Mas Niko sudah makan?" tanya Luna sambil menerima suapan dari Niko.


"Sudah barusan. Kamu makan yang banyak ya kan kamu sekarang me nyu sui."

__ADS_1


Luna hanya tersenyum sambil sesekali melihat Nina yang begitu kuat menghisap sumber kehidupannya. Sejak saat itu kebahagiaannya terasa sempurna. Ada suami yang begitu menyayanginya dan putri cantik yang menggemaskan.


...***...


Saat hari menjelang siang, Kevin dan Alea beserta ketiga anaknya tiba di ruangan Luna. Seketika ruangan itu menjadi sangat ramai kedatangan lima orang itu.


"Ayah, Reka mau lihat adik." kata Reka yang begitu antusias ingin melihat adiknya.


"Nih, adik Nina lagi tidur." Niko mengajak Reka untuk melihat Nina yang tertidur di dalam box nya.


Raffa juga ingin melihat Nina. Dia berjalan cepat mendekati Kakaknya.


"Raffa juga mau lihat adik? Sini." Niko menggendong Raffa agar Raffa lebih jelas melihat Nina.


Raffa tersenyum dengan gembira saat berhasil menyentuh sedikit pipi itu.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Alea pada Luna. "Katanya kamu sempat mengalami distosia?"


Luna menganggukkan kepalanya. "Iya, syukurlah kemudian semua berjalan dengan lancar. Waktu aku itu rasanya nyawa aku hampir melayang. Aku sudah menyerah. Kak Alea hebat ya, udah punya tiga."


"Syukurlah, semoga gak kapok ya." Alea tersenyum menggoda Luna. "Aku saja yang ketiga ini benar-benar membuat aku trauma. Aku kira, aku tidak bisa selamat. Tapi syukurlah nasib baik masih berpihak pada kita. Itu semua berkat orang-orang yang sayang sama kita."


"Rania makin chubby aja." Luna mencubit gemas pipi chubby itu. Ditambah dengan bandana bunga yang terpasang di rambut tipis Rania semakin menambah tingkat kegemasannya. "Nanti jadi teman Nina ya."


Rania hanya tertawa sambil menggerakkan kedua kakinya kegirangan.


"Iya, cuma selisih hampir empat bulan. Pasti nanti mereka sekolahnya bareng. Nanti kalau udah gede saling menjaga ya, gak boleh pada berantem."


"Raffa, udah ya lihat adik Nina nya. Nanti dia bangun kalau kamu cubiti gitu." Kevin meraih tubuh Raffa dari Niko tapi dia memberontak.


"Ndak!" Tangan Raffa masih saja terulur ingin memegangi pipi Nina.


"Itu sama adik Nia saja ya."


"Ndak!" Raffa terus menolak. Seketika ruangan itu riuh dengan suara anak-anak.


"Reka, sebentar lagi Mama mau imunisasi adik Nia. Reka tunggu di sini saja ya."


"Iya, Ma. Reka di sini aja mau nemeni adik Nina. Nanti Mama sama Papa langsung pulang saja. Reka mau pulang sama Nenek."


"Ya sudah."

__ADS_1


Raffa yang dipaksa Kevin menjauh dari box Nina kini menangis sambil duduk di lantai karena usapan tangan Raffa semakin tidak kondusif. "Raffa, gak boleh gini. Memang adik Nina nya mau dibawa pulang ya."


Raffa menganggukkan kepalanya sambil mengusap asal air matanya.


"Raffa kan sudah punya adik Nia."


Raffa menggelengkan kepalanya sambil menunjuk ke arah box lagi.


"Boleh lihat tapi gak boleh pegang ya."


Raffa menganggukkan kepalanya. Kemudian Kevin kembali menggendong Raffa dan berdiri di dekat box itu.


"Raffa, udah kayak jatuh cinta pada pandangan pertama aja." goda Niko sambil menoel pipi Raffa.


"Gak boleh. Mereka semua saudara." tolak Kevin. Meskipun dia tahu ucapan Niko hanyalah gurauan saja.


"Iya, saudara beda bapak dan ibu." kekeh Niko.


"Tapi satu kakak." Kevin masih kekeh dengan pendapatnya. Ya, omongan Niko ada benarnya juga, bisa saja suatu saat nanti salah satu dari anaknya jatuh cinta dengan anak Niko karena terbiasa bersama. Tapi jangan sampai itu terjadi.


Kevin menggelengkan kepalanya pelan, kenapa dia jadi berandai sendiri. Daripada membayangkan yang bukan-bukan lebih baik dia sekarang ke dokter kandungan saja untuk berkonsultasi.


Kevin yang masih menggendong Raffa berjalan mendekati Alea. "Sayang, ayo kita imunisasi Rania dulu."


Alea menatap Kevin sesaat lalu dia menganggukkan kepalanya. "Luna, aku tinggal sebentar ya. Nanti kembali lagi ke sini."


Luna menganggukkan kepalanya. "Iya Kak."


Dengan menggendong anak masing-masing, Alea dan Kevin keluar dari ruangan Luna.


"Pasti mau buru-buru konsultasi." cibir Alea.


"Biar satu masalah selesai. Biar gak nambah masalah baru lagi." kelakar Kevin.


"Ih, dasar!"


💞💞💞


.


**Jangan lupa like dan komen** ya.. Pada kemana nih.. Udah pada pergi dari cerita ini kah?

__ADS_1


__ADS_2