Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Black Market


__ADS_3

Ceklek! Ceklek!


Alea terkejut saat mendengar suara gagang pintu yang digerakkan tapi tidak bisa dibuka karena telah dikuncinya dari dalam.


"Itu siapa?" Seketika Alea meraih Raffa dan mendekapnya. Setelah mendapat panggilan dari Kevin, dia menjadi takut dan was-was. Kemudian Alea segera menghubungi Kevin.


"Kev, dimana?" tanya Alea setelah panggilannya terjawab.


"Aku masih di jalan. Bentar lagi sampai."


Alea semakin merasa takut karena suara gagang pintu itu masih terdengar.


"Kev, di depan kamar ada orang yang mau buka pintu aku."


"Kamu tenang ya. Jangan dibukakan. Orang-orang aku sebentar lagi juga sampai."


Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut di depan kamarnya. Alea semakin ketakutan.


"Kev, ada ribut-ribut di depan."


"Iya, kamu tenang. Aku sekarang sudah sampai. Jangan buka pintu dulu sebelum aku datang."


Alea mematikan panggilannya. Di depan kamarnya terdengar suara yang semakin ribut. Alea semakin mengeratkan dekapannya pada Raffa.


Beberapa saat kemudian mobil Kevin berhenti di depan rumahnya. Beberapa anak buahnya juga sudah stand by berjaga di depan rumah dan beberapa lainnya sudah berhasil meringkus penyusup yang masuk ke dalam rumahnya.


"Bi Sum, tolong bawa Reka masuk ke dalam kamar mamanya."


"Baik, Tuan." Bi Sum menuntun Reka menuju kamar Alea.


Kevin mengeraskan rahangnya menatap penyusup yang berani masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu orang suruhan Robi!? Dimana Robi sekarang!" bentak Kevin sambil mencengkeram krah penyusup itu.


Dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Jawab!! Kalau kamu masih mau melindungi Robi. Aku pastikan kamu mendekam di penjara selamanya. Atau kita habisi sekarang juga." Kevin memberi kode pada ke delapan anak buahnya untuk bersiap menghabisinya.


"Aku hanya disuruh. Robi sekarang ada di markasnya, di gudang lama. Dia bersama para penguasa perdagangan gelap dan barang-barang ilegal."


Kevin melepas cengkeramannya. Dia sudah mengira, orang seperti apa Robi itu. Ini adalah kasus besar. Jika Robi tertangkap secara otomatis black market itu akan terkuak dan akan banyak nama yang terseret.


"Bawa dia ke kantor polisi!! Yang lainnya tetap berjaga di sini!"


"Baik."


Kemudian Kevin masuk ke dalam rumahnya. Dia menuju kamar Alea yang masih tertutup rapat.


"Alea, ini aku. Keadaan udah aman."

__ADS_1


Seketika Alea membuka pintu kamarnya. Di dalam kamar ada Reka dan Raffa yang sedang digendong Bi Sum.


"Kev, ada masalah apa sebenarnya?"


Kevin menghela napas panjang lalu mengusap bahu Alea. "Kamu tenang ya. Aku akan segera menyelesaikannya. Ini masih masalah Robi." Kevin sedikit menarik tangan Alea agar keluar dari kamar. Dia tidak mau Reka semakin ketakutan mendengar ceritanya. "Tadi aku berhasil menangkap penyusup di kantor dan masalah langsung melebar. Reka hampir saja diculik."


Seketika Alea melebarkan matanya. "Astaga..."


"Untung ada Luna. Tapi Luna sekarang ada di rumah sakit, dia pendarahan."


"Pendarahan? Dia hamil?"


"Sepertinya. Aku tadi juga belum sempat tanya keadaannya karena masih ditangani sama Dokter."


Alea semakin panik. Semua terasa mencekam.


"Robi adalah salah satu komplotan dari black market yang cukup berbahaya. Tapi mereka semua harus segera ditangkap," jelas Kevin.


Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dari Niko.


"Aku sudah menemukan posisi Robi." kata Niko di seberang sana dengan suara seriusnya.


"Iya, aku juga udah kirim anak buah ke sana. Kamu jangan ke sana sendiri. Bahaya! Mereka komplotan black market."


"Aku gak peduli. Aku harus buat perhitungan dengan Robi." setelah itu Niko mematikan panggilannya.


"Niko!!"


"Kamu mau kemana?" Alea menahan tangan Kevin yang akan melangkah pergi.


"Niko ke markas mereka. Aku gak bisa tinggal diam. Aku harus pastiin anak buah aku benar-benar menangkap mereka semua."


"Tapi Kev..." Alea sangat khawatir. Dia tidak mau terjadi apa-apa juga dengan Kevin.


Kevin mengusap lembut rambut Alea. "Kamu tenang ya. Ada pasukan polisi juga yang sedang menuju ke sana."


Alea akhirnya melepaskan tangan Niko. "Jaga diri ya. Hati-hati."


Kevin tersenyum lalu mengecup pipi Alea. "Iya, aku pasti baik-baik saja."


Alea menatap punggung Kevin yang kian menjauh. Dia hanya bisa berdo'a semoga tidak terjadi hal buruk pada suaminya itu.


...***...


Niko kini keluar dari mobilnya. Dia menatap sebuah bangunan yang luas itu dari kejauhan. Nyalinya sangat besar datang ke tempat itu sendiri. Siapa yang mengusik hidupnya, dia harus menerima balasannya.


Beberapa saat kemudian ada tiga mobil yang berhenti di belakang Niko. Itu pasti orang suruhan Kevin.


"Kalian tunggu diluar. Biar aku masuk dulu karena kalau kita langsung mengepung, mereka pasti akan kabur."

__ADS_1


"Tapi, Pak..."


"Percaya sama aku." Niko melangkah jenjang menuju area gudang itu. Dari luar nampak sepi dan seolah tidak terpakai, tapi ketika masuk ke dalam gudang banyak barang-barang ilegal yang siap diperdagangkan di black market.


Niko terus berjalan masuk ke dalam. Terlihat Robi sedang mengobrol bersama tiga orang komplotannya di dalam sebuah ruangan.


Tapi kini ada dua orang penjaga yang menghadang langkah Niko.


"Ada perlu apa ke tempat ini?!" tanya salah satu penjaga itu.


"Aku mau ketemu Robi!"


"Sudah ada janji?"


"Tidak perlu janji untuk bertemu dengan Robi." Niko melangkah cepat masuk ke dalam ruangan Robi yang langsung disusul oleh penjaga itu.


"Wah, kita kedatangan tamu istimewa." Robi tersenyum miring menatap kedatangan Niko.


Niko berjalan mendekat dan mencengkeram krah kemeja Robi.


"Kenapa kamu masih mengganggu hidup Luna!!" bentak Niko di depan wajah Robi.


"Karena Luna gak bisa aku jadikan alat untuk mencuri dokumen di perusahaan Kevin," jawab Robi dengan santainya. Sejak awal dia bersama Luna, dia memang ingin memanfaatkan Luna yang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Kevin. Tapi Luna selalu menolak keinginan Robi.


"Brengsek lo!!" Niko memukul rahang bawah Robi dengan keras. Tak cukup hanya satu pukulan. Dia melayangkan pukulan itu lagi bertubi-tubi.


"Lepaskan!!" Anak buah Robi segera menyergap Niko.


Niko berusaha melepas cekalan mereka tapi sia-sia. Kedua orang yang mencekalnya itu bertubuh tegap dan kekar.


Robi dan tiga komplotannya itu tertawa. "Berani masuk ke markas kami? Aku pastikan kamu gak akan keluar dengan selamat!"


Bugh!!


Satu pukulan keras mendarat di perut Niko.


Niko hanya meringis kesakitan. Dia berusaha melepas cekalan dua orang itu.


Saat Robi kembali mendekat, Niko melayangkan tendangannya dengan sangat keras pada Robi yang membuatnya jatuh ke belakang.


"Sial! Berani sekali kamu!" Robi kembali bangkit. Lalu menyerang Niko lagi.


"Berhenti! Tempat kalian sudah dikepung!!!"


Mereka semua menoleh pada sumber suara itu. Niko memanfaatkan kesempatan yang ada. Dia segera menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan itu.


💞💞💞


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen ya... Kasih vote juga.. 😊


__ADS_2