
Niko semakin khawatir dengan keadaan Luna, hingga air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia tempelkan keningnya di kening Luna. "Sayang. Kamu wanita hebat, kamu wanita petarung. Ayo, kamu berjuang. Kamu pasti bisa..."
Beberapa detik masih tidak ada respon dari Luna.
"Luna! Aku mohon, ayo berjuang. Aku sayang sama kamu."
Luna membuka matanya saat rasa dorongan dari dalam semakin terasa kuat.
"Mas Niko.." Luna menggertakan giginya dengan satu tangan yang menjambak rambut Niko.
"Iya, ayo, kamu pasti bisa."
Dia kerahkan seluruh tenaganya yang tersisa. Akhirnya suara yang telah dinantikan itu kini menggema di seluruh ruangan.
Luna menghela napas panjang dengan air mata yang telah meleleh. Suara tangis itu seolah pengobat segala sakit yang dia rasakan.
"Selamat ibu, bapak, bayinya sangat cantik dan sempurna."
Setelah suster mengelap tubuh bayi itu, dia letakkan bayi mungil itu di dada Luna. Dengan mata yang masih sulit terbuka dan kepala yang bergerak pelan seolah mencari sumber kehidupannya, bayi itu terlihat sangat menggemaskan.
Kedua orang tua baru itu semakin menangis haru melihat putri kecilnya yang sekarang berada dalam dekapan Luna.
"Kamu berhasil, kamu hebat." Niko menciumi pipi Luna. "Terima kasih sudah berjuang sampai seperti ini."
Luna hanya mengangguk. Bibirnya terasa berat untuk bersuara. Dia hanya tersenyum dengan berderai air mata.
"Hai, Ninna Anindira Sanjaya." satu ciuman lembut mendarat di pipi yang terlihat chubby itu.
Bayi mungil itu tersenyum kecil. Mungkin dia suka dengan nama yang diberikan Ayahnya.
Senyum Luna semakin mengembang saat melihat lesung pipi yang tercetak di pipi bayi mungil itu. "Mirip kamu, Mas."
Niko mencium puncak kepala Luna. Ada beban yang telah luruh menatap kedua kesayangan itu telah berhasil melewati masa sulit.
...***...
"Mas, anaknya Luna cantik banget. Masih bayi udah kelihatan lesung pipinya kayak Reka dulu." kata Alea saat melihat kiriman foto dari Luna di ponselnya.
__ADS_1
"Cantikan Rania dong," kata Kevin sambil menggoda Rania yang sedang tengkurap di tengah. "Iya, kan Rania?"
"Iya." jawab Raffa yang sedang bermain di samping Rania.
Seketika Alea dan Kevin tertawa mendengar suara lucu Raffa yang tiba-tiba menyahut itu.
"Besok kita jenguk mereka ya?" ajak Alea.
"Oke. Kita ajak pasukan ya. Sama sekalian imunisasi Rania."
"Iya, kebetulan banget jadwalnya juga besok."
"Dan satu lagi..." Kevin semakin mendekati Alea.
"Apa?" tanya Alea. Sepertinya ada udang dibalik batu.
"Kita konsultasi program keluarga berencana. Biar nanti gak terlalu dekat."
Alea hanya mencibir. "Program pemerintah itu dua anak lebih baik. Ini udah ada bonusnya satu."
Kevin mencubit gemas pipi Alea yang menggembung itu.
"Iya, iya, i know that." Kevin merengkuh tubuh Alea dan memeluknya tapi si posesif Raffa justru menarik kaos Kevin agar menjauh.
"Ndak. Ndak."
Kevin semakin menggoda Raffa dengan mencium pipi Alea.
"Ndak!" Raffa semakin memisahkan kedua orang tuanya. Dia kini duduk di antara mereka berdua lalu memeluk Alea.
"Kalau Papa yang dekat Mama gak boleh, tapi kalau adik Nia boleh. Papa mau sama adik Nia aja ah." Kevin menggoda Rania yang asyik bermain jemarinya itu.
"Raffa bobok ya. Kak Reka udah bobok sedari tadi," kata Alea.
Raffa menganggukkan kepalanya.
"Ayo, sama Papa aja. Biar Mama bobok in adik Nia dulu." Kevin meraih tubuh Raffa dan menggendongnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Alea tersenyum kecil melihat Kevin yang selalu membantunya mengurus anak-anaknya. Kemudian dia membaringkan Rania di sampingnya dan mulai mengasihinya. Beberapa saat kemudian Rania sudah tertidur meski bibirnya masih sibuk menghisap pu ting Alea.
Setelah 30 menit, Kevin akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dia menunggu sampai Raffa benar-benar telah tertidur nyenyak.
Alea memutar badannya dan menatap Kevin yang sekarang duduk di sebelahnya.
"Belum tidur?" tanya Kevin.
"Belum ngantuk. Hmm, Mas, iya deh besok kita sekalian konsultasi kb."
Kevin tersenyum lalu dia merebahkan dirinya di samping Alea. "Aku gak maksa kamu. Jangankan empat bulan, setahun atau dua tahun aku tunggu kamu sampai kamu siap."
"Ih, serius?" Alea semakin mendekatkan dirinya. "Masak sih bisa nahan. Biasanya kalau malam-malam main di sofa itu siapa."
Kevin mencubit hidung mancung Alea. "Namanya lelaki normal ya pasti ingin lah meskipun dengan cara mandiri."
Alea kini memeluk Kevin dengan erat. "Ya udah, besok konsul ya. Ya, meskipun kadang aku masih trauma tapi aku kan juga..." Alea menghentikan perkatannya lalu menenggelamkan wajahnya di dada Kevin.
"Juga pengen? Hem?"
Alea mengangguk kecil karena malu-malu mau.
"Kalau kayak gini, membuat sesuatu yang tertidur jadi terbangun kan."
"Ih, dasar omes." satu tangan Alea me re mat kasar sesuatu yang benar-benar sudah terbangun itu tapi sedetik kemudian re ma tan itu berubah menjadi usapan.
"Bantuin sampai tuntas ya." Napas Kevin semakin berat. Dia cium bibir yang selalu menjadi candu itu dengan lembut dan cukup lama.
"I love you..."
"I love you too..."
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Like dan komen ya....