Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Hari-hari Berlalu


__ADS_3

"Merah sekali leher aku, habis digigit drakula semalam," pagi itu setelah mandi Kevin menatap dirinya dicermin. Hisapan Alea semalam begitu membekas di lehernya.


Alea tersenyum kecil lalu membantu Kevin memakai kemejanya.


"Untung tertutup krah kemeja." Kevin kembali berkaca, ternyata tanda merah itu tertutup krah kemejanya.


"Emang malu? Kamu aja sering buat di leher aku."


"Beda ceritalah. Kamu kan ibu rumah tangga." goda Kevin.


"Jangan ngeremehin ibu rumah tangga." Alea mengncing kemeja Kevin satu per satu.


Kevin melingkarkan tangannya di pinggang Alea. "Siapa yang ngeremehin. Ibu rumah tangga itu adalah profesi yang sangat mulia. Bahkan untuk mengganti lelahnya saja saham perusahaanku tidak mampu membayarnya."


Alea mencubit perut Kevin karena bicaranya yang terlalu berlebihan. "Lebay banget sih. Aku gak butuh saham, yang penting semua keinginanku kamu turuti." kekeh Alea di ujung kalimatnya.


"Benar-benar istri idaman." Kevin mendekatkan wajahnya pada Alea dan menciumnya lembut.


Tapi gedoran dari kedua bocil itu membuyarkan adegan romantis di pagi hari itu.


"Mama! Papa! Ditunggu Kakek sarapan ayo!"


Punya anak dua, laki-laki dan perempuan tapi sama saja. Sama-sama aktif dan bawel.


"Iya sayang. Sebentar." Kevin merapikan celana dan kemejanya lalu berjalan membuka pintu.


Raffa dan Rania langsung naik ke gendongan Kevin. Kemudian Kevin berjalan menuju meja makan yang diikuti Alea di belakangnya.


"Pa, nanti Raffa mau ke rumah Nina ya?" Raffa si balita berumur 4 tahun itu begitu sangat suka bermain dengan Nina.


"Iya Pa. Nanti Rania juga mau ikut." kata Rania juga.


Kevin menurunkan mereka di kursinya masing-masing. "Nanti Papa sibuk. Gak bisa antar. Besok saja ya waktu hari libur. Nunggu Kak Reka libur juga."


"Raffa gak mau main sama Kak Reka." Raffa menggelengkan kepalanya.


Kevin kini duduk di kursinya. "Kenapa?"


"Kak Reka udah besar. Kak Reka udah gak suka mainan sama anak kecil."


Alea tersenyum mendengar celoteh Raffa. Dia mengambilkan nasi milik Papanya, Kevin kemudian kedua anaknya.


"Kalau kakek antar gimana? Mau? jangan bilang kakek udah tua gak bisa main sama Raffa." canda Pak Marko.


"Kalau sama Kakek Raffa mau."


"Rania juga mau."


"Ya udah, nanti Mama temani juga. Sekarang kalian makan dulu ya. Dihabiskan." Alea tersenyum menatap kedua anaknya itu yang makan dengan lahap.

__ADS_1


Setelah mereka selesai sarapan, Kevin segera berangkat ke kantor.


"Papa, berangkat dulu ya."


Raffa dan Rania bergantian mencium tangan Kevin. Lalu Kevin membalas dengan ciuman di kedua pipi mereka. Hal yang selalu dia lakukan sebelum dia berangkat ke kantor.


Setelah itu Kevin berpamitan pada Pak Marko. "Pa, berangkat dulu."


"Iya, hati-hati."


Sejak Pak Marko tinggal di rumahnya, Kevin merasa seperti punya Papa lagi. Setidaknya bisa mengobati rindunya pada Papa yang telah lama tiada.


Alea mengantar Kevin sampai depan rumahnya.


"Berangkat dulu ya."


Alea juga mencium punggung tangan Kevin yang juga dibalas Kevin ciuman di kedua pipi dan keningnya.


"Hati-hati, Mas."


Kevin berjalam lalu masuk ke dalam mobilnya. Lambaian tangan Alea mengiringi kepergian mobil Kevin. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumahnya dan mengurus kedua anaknya.


...***...


Hari-haripun berlalu bergitu cepat. Tak terasa Raffa sekarang sudah bersekolah di TK A. Sedangkan Rania juda sudah PAUD. Hari-hari Alea semakin dipenuhi dengan kesibukan mengurus dua anaknya yang sedang belajar bersekolah itu.


"Rania, cepat dihabiskan sarapannya. Nanti kita terlambat." kata Alea.


Entahlah, akhir-akhir ini Rania memang tidak begitu berselera makan.


"Ya sudah, nanti makan bekal saja ya di sekolah."


Alea kini berdiri dan memasukkan bekal mereka berdua ke dalam tas masing-masing.


"Sayang, kamu kok pucat?" tanya Kevin yang membantu merapikan seragam kedua anaknya itu.


"Iya, dari bangun tadi pagi kepala aku agak pusing."


"Kalau capek kamu istirahat saja di rumah biar mereka diantar sama Bi Sum dan Mbak Rina."


Alea menggelengkan kepalanya.


"Gak papa Mas, cuma pusing sedikit saja."


Kevin menatap Alea menyelidik lalu di mendekatkan dirinya ke telinga Alea. "Jangan-jangan anak kita yang keempat udah jadi."


Seketika Alea berpikir dan mengingat-ingat kalender datang bulannya.


"Aku udah lembur satu bulan lebih loh."

__ADS_1


Apa benar kata Kevin? "Kayaknya iya."


"Ya udah nanti siang aku pulang. Setelah anak-anak pulang ke rumah kita langsung periksa saja." kata Kevin dengan senyum yang semakin mengembang di wajahnya. Berharap dugaannya memang benar adanya.


Alea mengangguk pelan. "Ayo kesayangannya Mama. Kita berangkat." Alea menuntun kedua anaknya keluar dari rumah.


"Sayang, kalau kamu memang gak enak badan lebih baik di rumah saja." kata Kevin lagi.


Alea menggelengkan kepalanya. "Aku menunggu Rania sampai jam 10 saja."


"Ya udah. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya."


Alea menganggukkan kepalanya lalu membantu Raffa dan Rania masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan oleh Kevin itu melaju menuju sekolah mereka.


Sepanjang perjalanan, seperti biasa Raffa dan Reka bernyanyi bersama dengan gembira dan seolah bersemangat menjalani hari-hari mereka.


Beberapa saat kemudian Kevin menghentikan mobilnya di depan sekolah TK dan PAUD itu. Sekolah itu masih menjadi milik Kevin meski sekarang Kevin telah menyerahkan semua kepengurusannya pada yayasan.


"Papa, Raffa sekolah dulu ya." Raffa mencium punggung tangan Kevin berpamitan.


"Iya sayang, yang pintar ya kalau sekolah. Tidak boleh bicara sama temannya saat sedang belajar." pesan Kevin karena beberapa hari lalu dia dapat laporan kalau Raffa sering mengobrol sendiri di dalam kelas saat pelajaran.


"Iya, Papa."


"Nia, sekolah dulu, Pa." Rania juga mencium punggung tangan Papanya.


"Iya sayang. Sekolah yang rajin dan pintar ya." pesan Kevin.


Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam sekolah.


"Nina.." panggil Rania, mereka memang satu sekolah dengan Nina yang masih sama-sama PAUD.


"Nia," Nina menggandeng tangan Rania. Dia mengajak Rania masuk ke dalam kelas. "Masuk ke dalam kelas yuk. Aku gak mau diganggu sama Kak Raffa."


"Nina, aku gak ganggu. Nanti kita main ya," kata Raffa yang mengikuti Nina dan Rania.


"Gak mau, anak cowok main sama anak cowok juga."


Sedangkan Mama mereka hanya tertawa mendengar obrolan mereka bertiga.


Setelah masuk ke dalam kelas masing-masing, Luna dan Alea duduk di depan kelas PAUD. Sesekali Alea melihat Rania yang sedang melakukan permainan edukasi di dalam kelas.


Tapi saat berdiri, tiba-tiba saja kepala Alea terasa sangat pusing. Bahkan lantai yang dia injak seolah bergoyang dan berputar. Alea berpegangan tembok sesaat tapi beberapa detik kemudian tubuhnya kian melemas dan dia terjatuh di lantai.


"Kak Alea..." Luna segera menahan tubuh Alea. "Kak Alea kenapa?"


💞💞💞


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.. Tinggal dikit lagi.. Terus stay di sini ya...


__ADS_2