
Pagi ini Jihan sangat bersemangat untuk pergi bekerja, ia sudah berdamai dengan masa lalunya dan itu membuatnya lega. Sekarang ia sudah berdiri di lobby depan untuk menyambut kedatangan Johan.
Jihan sangat mencintai perkejaannya sekarang, ternyata begini rasanya menjadi wanita karir meskipun belum genap satu bulan bekerja.
Tak butuh waktu lama, Johan datang, namun kali ini Johan tak sendiri. Maria, ibu dari Johan datang untuk melihat kondisi perusahaan, semenjak Johan menggantikan ayahnya, maria memang belum pernah sekalipun mengunjungi perusahaan.
"Selamat pagi tuan, nyonya," ucap Jihan, ia tahu pasti wanita paru baya itu adalah ibu dari Johan, karena Jihan sering melihat foto ibunya di atas meja kerjanya.
"Kamu siapa?" tanya Maria, karena ia baru pertama kali bertemu dengan Jihan.
"Dia sekretaris ku bu," ucap Johan.
" O begitu ... Kamu cantik sekali," ucap Maria.
"Terimakasih nyonya," ucap Jihan.
"Jihan, tolong antarkan ibu ku berkeliling," ujar Johan.
"Baik tuan," ucap Jihan.
"Mari nyonya, ikuti saya," ucap Jihan.
Johan ternyum saat ibunya, nampak menyukai Jihan, andai saja waktu itu mereka tidak putus, apa ceritanya akan jadi berbeda, mengenalkan Jihan bukan sebagai sekretarisnya namun sebagai kekasihnya, pikir Johan.
Buru-buru Johan menghapus khayalannya itu, untuk sekarang ia sudah cukup nyaman dengan Hubungannya dengan jihan, meski hanya hubungan pekerjaan saja.
~
Jihan sedang menemani Maria berkeliling, sekarang Jihan dan Maria sedang berada di taman kantor, duduk di sebuah kursi taman, dan saling berdampingan. Entah kenapa Maria mengajaknya kemari.
"Kamu sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Maria.
"Baru dua minggu Nyonya," ucap Jihan.
"Kamu harus bersabar menghadapi anak saya, dia itu sedikit keras dan juga sikapnya sangat dingin," ujar Maria.
"Nyonya benar, tapi tuan Johan adalah orang yang cerdas, dan perfeksionis untuk urusan pekerjaan," ujar Jihan.
"Kamu benar, tapi entah kenapa dia sulit sekali membuka hatinya, selama di amerika dia tidak pernah berkencan dengan siapapun," Ujar Maria.
"Mungkin tuan Johan, belum menemukan wanita yang pas nyonya," ucap Jihan.
"Entah wanita seperti apa yang dia inginkan, tapi saya dan suami saya sudah merencanakan, akan menjodohkannya dengan anak dari sahabat kami, namanya Vita," ujar Maria.
__ADS_1
Deg.
Jihan cukup kaget, mendengar ucapan Maria, Johan akan di jodohkan dan wanita yang akan menjadi calon istri Johan adalah Vita. Vita bukan sosok yang asing bagi Jihan, tujuh tahun yang lalu, Vita adalah biang kerok utama, kandasnya hubungan Jihan dan Johan.
Kenapa harus dia ... aku akan lebih baik, jika itu adalah wanita lain dan bukan kak Vita," Batin Jihan.
"Vita," ucap Jihan.
"Iya, Vita sudah berteman sejak kecil dengan Johan, dan saya yakin, Vita wanita yang tepat untuk Johan," ujar Maria.
Entah perasaan apa yang Jihan rasakan saat mendengar ucapan Maria tadi, ia juga tidak tahu, rasanya hanya aneh saja, ada rasa nyeri yang menggelitik hati, mungkinkah itu adalah perasaan cinta yang masih tersisa.
"O iya, kamu bilang baru dua minggu bekerja di sini kan?" tanya Maria memastikan.
"Iya nyonya, benar," ucap Jihan.
"Apa kamu mengenal Malik?" tanya Maria.
"Malik ... ah iya, sebelum menjadi sekretaris tuan Johan, saya satu ruangan dengannya di ruang staf keuangan," ujar Jihan.
"Benarkah ... dia itu Keponakan dari saya, anak dari adik ayah Johan.
Jihan tidak habis fikir dengan Maria, belum satu jam mereka bersama, tapi ia sudah di beri banyak kejutan.
"tapi kenapa dia menjadi staf biasa di perusahaan keluarganya," ucap Jihan lagi.
"Saya juga tidak tahu bagaimana caranya berfikir, padahal perusahaan ayahnya di surabaya sangat sukses dan dia itu, anak laki-laki satu-satunya, kedua kakaknya perempuan," Ujar Maria.
"Kamu tolong rahasiakan yang saya ceritakan tadi, entah kenapa saya butuh teman curhat, saat di rumah saya sangat merasa bosan," Ujar Maria.
"Tentu saja nyonya, anda bisa mempercayai saya," ucap Jihan.
"Kamu ini ramah sekali, kalau kamu sedang libur, main kerumah saya mau ya," ujar Maria.
"Ah itu, tentu saja nyonya," ucap Jihan ragu, ia bingung harus menjawab apa, ia tidak enak jika menolak.
"Berikan nomor ponsel kamu," ucap Maria sambil menyerahkan Ponselnya kepada Jihan, Jihan langsung mengetikkan nomor ponselnya ke ponsel Maria.
Sebenarnya terlalu berat, jika harus masuk terlalu dalam di kehidupan Johan, mengingat ia bukanlah siapa-siapa dan hubungan mereka di masa lalu yang membebaninya.
Jihan pun kini mulai merasa resah, karena cepat atau lambat ia akan bertemu lagi dengan Vita, namun saat takdir sudah mengatur semuanya, apa yang Jihan bisa lauk selain menjalaninya.
Jihan dan Maria memutuskan untuk kembali masuk kedalam karena situasi di luar yang sudah nampak panas, cahaya matahari yang sudah di pertengahan waktu.
__ADS_1
Maria pamit pulang kepada Jihan, ia meminta Jihan untuk menyampaikan kepada Johan jika Maria akan pergi untuk menghadiri arisan dengan teman-temannya.
"Sampai jumpa lagi nyonya, hati-hati di jalan," ucap Jihan kepada Maria.
"Terimakasih, nanti sewaktu-waktu saya mengundang kamu ke rumah, kamu harus datang ya," ucap Maria.
"Iya nyonya," ucap Jihan.
Setelah Mobil yang membawa maria terlihat semakin jauh, barulah Jihan beranjak pergi, menuju ruangannya.
Jihan sedang menunggu pintu lift terbuka. tiba-tiba Malik datang menghampirinya, Malik juga berniat untuk naik lift menuju ruangannya.
"Hy Jihan," sapa Malik.
Jihan masuk kedalam lift dan langsung berdiri di samping Malik. Pintu lift mulia tertutup. Jihan melirik sekilas Malik yang berada di sampingnya.
"Kamu membohongi kami semua," ucap Jihan, membuat Malik dengan gerakan cepat, menoleh ke arah Jihan.
"Maksud kamu apa?" tanya Malik bingung.
"Kamu itu sepupu dari tuan Johan kan, aku sudah tahu dari nyonya Maria," ujar Jihan.
"Ah masalah itu, aku minta maaf ... aku hanya ingin berbaur dan tidak di istimewa kan, hanya karena aku adalah sepupu kak Johan," ujar Malik.
"Tapi kamu tidak menceritakan kepada tuan Johan kan, saat aku dan yang lain berbicara buruk tentangnya," ujar Jihan yang nampak kesal.
"Tentu saja tidak, aku ini di pihak kalian ... maafkan aku ya," ucap Malik memohon.
"Dan aku minta tolong, jangan beritahukan yang lain tentang hal ini, aku mohon," ucap malik lagi.
"Ehm, baiklah dengan satu syarat," ucap Jihan.
"Apa?" tanya Malik.
"Sepulang kerja, kamu harus mentraktir ku makan," jawab Jihan.
"Siap bos, hehe," ucap Malik lalu terkekeh sendiri.
Ting.
Pintu lift terbuka, Malik keluar sendiri, sementara Jihan, masih harus naik ke atas karena ruangan Johan yang berada di lantai paling atas.
"Dia cantik sekali," gumam Malik.
__ADS_1
Bersambung 💕🙏