
"Kev, kamu udah dapat sekretaris baru yan Kenapa gak cerita sama aku?" tanya Alea setelah menidurkan Raffa malam hari itu.
Kevin yang baru saja membuka laptop kerjanya menatap Alea sesaat. "Iya, biasanya kan kamu gak mau tahu urusan kantor. Jadi aku kira ini hal yang gak penting buat kamu."
"Tadi Luna dan Niko ke sini cerita soal ini. Emang siapa sih sekretaris barunya?" tanya Alea yang sebenarnya juga penasaran soal itu.
"Dia kenalan aku. Sebelumnya dia pernah bekerja di perusahaan lain karena dia butuh pekerjaan jadi aku suruh kerja di kantor aku." Kevin berdiri lalu membantu Alea merebahkan dirinya. "Sayang kamu tidur dulu ya, aku masih ada kerjaan." satu kecupan mendarat di pipi Alea.
Alea menganggukkan kepalanya. "Jangan sampai malam. Cepat tidur juga."
"Iya." sebelum beranjak satu tangan Kevin mengusap lembut perut Alea. Dia tersenyum saat disambut langsung oleh sebuah tendangan.
"Udah, cepat lanjutin kerjaannya keburu malam." suruh Alea karena Kevin masih saja bermain-main di perutnya.
"Iya sayang."
Kevin beranjak lalu duduk kembali menatap layar laptopnya. Dia mengerutkan dahinya beberapa kali. Lalu menghela napas panjang.
Gak mungkin!
Kemudian dia berdiri sambil membawa ponselnya dan keluar dari kamar.
Alea yang sebenarnya belum tidur, dia begitu ingin tahu apa yang dikerjakan suaminya itu. Entahlah, baru kali ini dia mencurigai gerak-gerik Kevin. Perlahan dia duduk lalu turun dari ranjang. Dia berjalan mendekati laptop Kevin yang masih terbuka.
"Rendra Permana?"
Banyak artikel tentang Rendra Permana di laptop Kevin. "Siapa dia?"
Belum sempat Alea melihat seluruh artikel itu, suara langkah kaki Kevin semakin mendekat. Buru-buru Alea kembali ke ranjangnya dan berpura-pura tidur lagi.
Kevin kembali menatap layar laptopnya dengan serius. Sepertinya dia menyuruh seorang hacker untuk meretas identitas sebenarnya Rendra Permana itu.
Rendra Permana adalah putra pertama dari Marko Permana. Istri dan anak kedua Marko tiba-tiba menghilang setelah terjadi pengeboman di markas besar milik Marko.
Kevin mengusap pelipisnya yang tiba-tiba berkeringat. Dia kini menatap Alea yang sedang tertidur sambil memeluk Raffa.
Dia matikan laptopnya lalu berjalan mendekati Alea. Dia cium pipi Alea perlahan.
"Met tidur sayang. Aku sayang sama kamu." Lalu dia rebahkan dirinya di belakang Alea. Dia tatap nyalang langit-langit kamarnya. Rasa kantuk itu tidak juga singgah sampai malam menjelang larut. Dia tidak mengira jika masalah yang dihadapinya saat ini semua berkaitan.
...***...
"Kev, pagi banget berangkatnya?" tanya Alea sambil mengambilkan jas milik suaminya.
"Iya, ada meeting penting. Biar sekalian aku antar Reka." sejak Reka SD, Kevin memang jarang mengantarnya karena jam masuk Reka lebih pagi daripada Kevin.
"Ya sudah."
"Hai sayang," Kevin membungkukkan badannya dan mencium perut buncit Alea. "Baik-baik sama Mama ya. Sebentar lagi kita sudah ketemu."
Alea tersenyum karena respon baby dalam perutnya selalu agresif saat Kevin mengajaknya berinteraksi.
__ADS_1
"Sudah gak ada dua bulan lagi kita akan bertemu."
Kevin menegakkan dirinya lalu mencium kedua pipi Alea. "Jangan terlalu kecapekan ya."
"Iya."
"I love you..."
"I love you too..."
Alea mengantar Kevin dan Reka sampai teras depan.
"Mama, Reka berangkat dulu."
"Iya sayang. Hati-hati di sekolah. Jangan lupa bekalnya dihabiskan."
Reka menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Alea.
Alea melambaikan tangannya seiring kepergian mereka. Setelah mobil Kevin meninggalkan halaman rumahnya, Alea melangkah masuk ke dalam rumah. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Aldi.
"Hallo Aldi, apa pagi ini Kevin ada meeting penting?"
"Meetingnya masih nanti siang."
Jawaban Aldi membuat perasaan Alea menjadi tidak enak.
"Aldi, aku boleh minta tolong sama kamu."
"Kalau ada sesuatu yang mencurigakan kamu tolong bilang saya ya."
"Baik, Bu."
Kemudian Alea mematikan ponselnya. Dia menghela napas panjang lalu menghampiri Raffa yang sedang bersama Bi Sum.
Bukannya Alea tidak percaya dengan Kevin tapi dia takut Kevin terlibat masalah besar dan tidak cerita padanya.
Sedangkan di kantor, Aldi yang baru tiba itu, dia segera menuju ruangan Kevin. Benar saja, Kevin dan sekretaris baru itu belum datang.
Aldi sendiri heran dengan bosnya kali ini. Kemarin Kevin sempat menyuruhnya mencari tahu tentang Rendra tapi kemudian Kevin menarik perintahnya karena dia ingin mencarinya sendiri.
"Kalau memang ada sesuatu dengan sekretaris baru itu, kasian Bu Alea. Aku akan cari tahu tentang hubungan mereka."
Beberapa saat kemudian Kevin datang, begitu juga dengan Della.
"Aldi, tolong siapkan proposal untuk meeting nanti siang." suruh Kevin
"Iya, Pak."
"Kamu cek proposal kerja itu di meja Della." setelah itu Kevin masuk ke dalam ruangannya.
Aldi hanya mengangguk lalu dia mendekati meja kerja Della. Dia bisa menangkap dari tatapan Della jika dia mengagumi Kevin.
__ADS_1
"Mana proposalnya?"
"Masih saya print."
Aldi menghela napas panjang. "Kamu tadi berangkat sama Pak Kevin?" tanya Aldi berniat untuk menyelidiki masalah ini.
"Hmm, iya saya bertemu Pak Kevin di jalan."
Benar sekali dugaan Aldi, ada sesuatu di antara mereka berdua.
"Kamu sudah tahu kalau Pak Kevin itu sudah menikah?"
Della hanya terdiam. Aldi tak bisa membaca ekspresi datar Della kali ini.
"Istrinya sedang hamil tua jadi kamu jangan sekali-kali ganggu hubungan mereka."
Della nampak menggertakkan giginya. "Memang Pak Aldi pikir saya seorang pelakor?"
"Ya, bisa saja. Di dunia ini ketika ada kesempatam semua bisa saja terjadi."
Della membendel proposal yang telah selesai dia print lalu dia berdiri dan berjalan cepat menuju toilet. Sudah kesekian kalinya dia mendapat hinaan seperti itu. Air mata yang terjatuh seolah tidak ada artinya lagi dalam hidupnya.
Della berpegangan pada ujung washtafel, pandangannya semakin kabur dan beberapa saat kemudian dia terjatuh tak sadarkan diri.
"Mbak kenapa?" pekik salah satu staf yang kebetulan baru keluar dari bilik toilet. "Mbak? Tolong!"
Mendengar suara minta tolong, Kevin yang saat itu baru keluar dari ruangannya seketika berlari menuju toilet.
"Della!" Dia mengangkat tubuh Della dan membawa ke ruangannya yang diikuti oleh Aldi. "Aldi, ambilkan minyak kayu putih dan air mineral." Kevin terlihat panik. Dia berusaha menyadarkan Della yang sudah dia rebahkan di atas sofa.
Beberapa saat kemudian Della membuka matanya.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar, kalau kamu gak enak badan kamu istirahat saja di rumah biar diantar Aldi."
Aldi mengernyitkan dahinya. Baru kali ini dia tidak suka dengan perintah atasannya itu.
"Saya tidak apa-apa. Saya bisa lanjut kerja."
"Tapi kamu ingat kan kata Dokter tadi kalau kandungan kamu itu lemah."
Seketika Aldi menatap Kevin.
Kandungan? Siapa yang telah menghamili Della?
💞💞💞
.
.
Tinggalkan like dan komen ya...
__ADS_1