Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Calon Anak Ketiga


__ADS_3

Sejak turun dari mobil, sampai ke ruang imunisasi Kevin terus menggendong Raffa. Saat Alea akan menggendongnya, Kevin justru tidak memperbolehkannya.


"Mulai sekarang kamu jangan capek-capek ya," kata Kevin yang membuat Alea semakin bingung.


"Loh, kenapa?" tanya Alea tak mengerti.


"Sekarang kita ke Dokter kandungan dulu." Kevin mengajak Alea menuju Dokter kandungan langganannya setelah melakukan imunisasi pada Raffa.


"Kok ke Dokter kandungan? Bukannya kamu yang mau periksa?" Alea mengernyitkan dahinya. Dia tidak merasakan apa-apa kenapa harus ke Dokter kandungan.


Kevin tak menjawab pertanyaan Alea. Dia tetap membawa Alea menuju ruang dokter kandungan untuk memastikan kehamilan Alea setelah melakukan imunisasi pada Raffa.


"Silahkan masuk Pak Kevin dan Bu Alea. Ada kabar bahagia lagi?" tanya Dokter kandungan itu sambil tersenyum.


Kevin yang masih menggendong Raffa yang telah tertidur itupun menjawab. "Iya Dok. Bisa langsung di USG saja untuk memastikan."


Seketika Alea menatap tajam Kevin. "Maksudnya?" Alea masih saja tak mengerti. Bagaimana Kevin bisa seyakin itu, sedangkan dirinya saja tidak merasakan tanda-tanda apapun.


"Kamu nurut aja ya. Nanti semua akan terjawab," kata Kevin sambil tersenyum.


Alea akhirnya menuruti permintaan suaminya itu. Dia kini mengikuti dokter kandungan menuju ruang USG.


Setelah Alea merebahkan diri di atas brangkar, Dokter mengoles gel di perut Alea lalu menempelkan alat USG itu.


Kevin yang berdiri di dekat Alea begitu berdebar melihat hasil USG itu. Apakah memang benar dugaannya? Kedua matanya kini menatap layar hitam putih itu.


Layar USG itu sudah terlihat dan Dokter kandungan itu pun tersenyum. "Selamat ya, usia kandungannya sudah 6 minggu."


Seketika Kevin tersenyum lebar. Ternyata apa yang dirasakannya sejak tadi pagi memang karena ngidamnya Alea.


Alea masih speachless. Dia hanya menatap layar USG itu bahkan penjelasan Dokter sudah tidak dia dengar. Dia justru bertanya-tanya, kenapa yang kedua ini begitu sangat cepat jadinya. Baru sebulan dia melakukannya dengan Kevin dan sekarang sudah jadi adiknya Raffa. Dia kira akan jadi setelah beberapa bulan seperti Raffa dulu, tapi ternyata tidak.


Alea sekarang justru memikirkan nasib Raffa. Apa dia tetap bisa mengasihi Raffa? Raffa masih terlalu kecil memiliki seorang adik.


Setelah selesai, mereka kembali duduk di depan Dokter itu.


"Bu Alea masih terkejut dengan kehamilannya ya? Apa kehamilan ketiga ini memang direncanakan karena jaraknya memang terlalu dekat?"


"Iya," jawab Kevin. Dia memang ingin segera punya anak lagi biar nanti ketika dia sudah tua anak-anaknya sudah dewasa. Dan lagi, Kevin begitu suka anak kecil. Menjadi anak tunggal membuatnya kesepian jadi sekarang dia ingin rumahnya ramai dengan anak-anaknya.


"Hmm, tapi Dok, apa saya masih bisa menyusui?" tanya Alea. Dia tidak tega dengan Raffa jika harus berhenti ASI.


"Bisa. Selama tidak ada keluhan di perut seperti terasa kram, Bu Alea tetap bisa menyusui. Tapi harus benar-benar dijaga asupan vitamin dan nutrisinya agar kebutuhan si kecil dan janin yang ada dalam perut terpenuhi."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Alea sedikit lega. Dia tetap bisa mengasihi Raffa.


"Bu Alea mengalami morning sickness?" tanya Dokter itu lagi.


Alea menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah, itu berarti Bu Alea bisa memaksimalkan vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan."


Kevin masih saja tersenyum, dia sendiri jauh lebih bersyukur telah merasakan morning sickness itu.


Setelah selesai berkonsultasi, mereka keluar dari ruang periksa kandungan. Alea sebenarnya masih penasaran, mengapa Kevin bisa begitu yakin dengan kehamilannya yang sekarang.


"Darimana kamu tahu kalau aku hamil?" tanya Alea untuk menyudahi rasa penasarannya.


"Karena aku yang mengalami morning sickness." jawab Kevin. senyum itu masih saja tercetak di wajah Kevin.


Seketika Alea menghentikan langkahnya. Dia ingat, tadi pagi Kevin muntah-muntah dan mengeluh kepalanya pusing, jadi itu sebuah pertanda. Bukannya senang, tapi Alea justru bersedih. Dia kini duduk di sebuah kursi ruang tunggu.


"Loh, kenapa cemberut. Kamu gak senang mau punya anak lagi?" Kevin kini ikut duduk di sebelah Alea. Sedangkan Raffa masih tertidur dengan nyenyak di gendongan Kevin.


Alea menggelengkan kepalanya. "Iya, aku senang, Kev. Tapi aku gak mau lihat kamu sakit. Rasa trauma itu masih aja ada."


"Aku gak sakit. Aku justru senang dan bersyukur karena bisa merasakan apa yang kamu rasa. Jadi kamu bisa makan apapun yang kamu mau tanpa khawatir mual. Masih ada Raffa dan adiknya yang ada di perut kamu yang membutuhkan nutrisi penting. Aku pasti bisa jaga kondisi."


Seketika Alea memeluk tubuh Kevin dari samping. "Makasih ya.."


Alea mendongak menatap wajah Kevin. "Bangga kenapa?"


"Punyaku setokcer ini yang sekarang, bisa langsung jadi. Gak nunggu sampai berbulan-bulan." Kevin tersenyum lalu mengecup kening Alea.


Satu cubitan kecil mendarat di pinggang Kevin. "Ih, udah ah kita pulang sekarang. Omes nya di rumah aja."


"Oke, beres. Nanti lanjut nengok adek yang di perut ya." Kevin masih saja menggoda Alea.


Alea hanya menggelengkan kepalanya. Tingkat kemesuman Kevin semakin hari memang semakin menjadi.


"Sini, Raffa biar aku gendong." Alea akan meraih Raffa tapi Kevin menolaknya lagi.


"Jangan, kamu gak boleh kecapekan."


"Emang kamu udah gak pusing?"


"Rasa pusing udah berganti dengan rasa bahagia."

__ADS_1


Mereka pun berdiri dan berjalan beriringan menuju tempat parkir.


...***...


"Reka, Papa punya kabar bahagia," kata Kevin setelah sampai di rumah. Dia duduk di sofa ruang tengah bersama Reka. Sedangkan Alea langsung ke kamar menidurkan Raffa.


"Apa, Pa? Kita mau liburan?"


Kevin menggelengkan kepalanya. "Reka mau punya adik lagi."


"Adik Pa?"


Kevin menganggukkan kepalanya. "Iya, masih ada dalam perut Mama. Nanti setelah adik Reka yang ini lahir baru kita liburan sama-sama."


"Beneran Pa, Reka mau punya adik lagi?"


"Iya."


Reka tersenyum riang. "Kali ini Reka mau adik cewek." Reka turun dari sofa lalu berlari menuju kamar Alea.


"Reka, jangan lari-lari."


"Reka mau ke Mama."


Kevin mengikuti langkah cepat Reka.


Setelah sampai di kamar Reka langsung naik ke atas ranjang. Untunglah saat itu Raffa sedang terjaga dan bermain dengan Alea.


"Ma, katanya di perut Mama ada adik Reka?" tanya Reka sambil mengusap perut Alea yang masih datar.


"Iya. Reka senang kan?" tanya Alea. Tangannya kini terulur menyingkirkan rambut Reka yang menutupi jidatnya.


"Senang sekali, Ma." Kemudian Reka kini beralih pada Raffa dan menggodanya. "Raffa, kita mau punya adik. Raffa cepat besar terus jalan ya."


Si bayi tiga bulan itu hanya tertawa riang mendengar celoteh dari Reka.


Kevin kini ikut bergabung dengan mereka. Dia selalu berharap, semoga kebahagiaan itu semakin lengkap.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen...


__ADS_2