
Jihan dan malik baru saja tiba di ruangan staf keuangan, " Selamat pagi semuanya," ucap Jihan.
Pandangan mata jenny, Cika dan pak kus langsung tertuju padanya, menatap Jihan dengan intens. Membuat jihan mengerutkan keningnya, apa ada sesuatu menempel di wajahnya, atau ada yang salah dengan Pakaian yang ia pakai.
" Apa ada yang salah , kalian kenapa melihat ku seperti itu?" tanya jihan.
" Jihan kamu di panggil pak Tama, ke ruangannya sekarang," ucap pak kus.
"Kenapa jihan di panggil oleh pak Tama?" tanya Malik yang juga ikut bingung.
"Katanya jihan akan di pindahkan," ucap jenny sedih.
"Di pindahkan, maksudnya," ucap Jihan.
"lebih baik kamu keruangan pak Tama saja, beliau akan menjelaskannya," ucap pak Kus.
"Baik pak," ucap Jihan.
Jihan meletakkan tasnya di atas meja kerjanya, lalu beranjak pergi dengan perasaan campur aduk, ia takut, ia akan di pindahkan ke cabang lain, jauh dari Mela dan Nino, membayangkannya saja sudah membuat Jihan stres.
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Tama, jihan menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan, barulah setelah itu ia meraih handel pintu dan membuka pintu itu perlahan.
"Permisi pak," ucap jihan saat pintu terbuka.
"Silahkan duduk Jihan, saya sudah lama menunggu kamu, kamu baru datang ya?" tanya Tama.
Jihan langsung mengambil posisi duduk di hadapan Tama.
"I ... iya pak, saya kesiangan, tapi saya tidak terlambat kok, saya datang pas jam kerja sudah dimulai," ujar Jihan.
"Baiklah Jihan ... saya langsung ke intinya saja. Begini, kamu akan pindahkan, karena kamu sangat berpotensi jadi saya rasa kamu orang yang tepat untuk mendapatkan posisi itu," ucap Tama.
"Maaf pak ... saya mau tanya, saya mau di pindahkan ke cabang mana ya, saya minta tolong jangan pindahkan saya ke tempat yang jauh dari rumah saya pak, saya tidak bisa jauh dari Tante dan adik sepupu saya pak," ucap Jihan memelas.
Tama cukup mendengar ucapan Jihan, ia sampai tak bisa menahan tawanya, " haha ... siapa juga yang mau memindahkan kamu ke cabang lain, kamu hanya pindah ruangan saja, sekarang kamu akan menjadi sekertaris tuan Johan, bagaimana kamu senang kan," ucap Tama.
Jihan bisa merasakan lututnya melemah saat mendengar penuturan Tama, bagaimana tidak, menjadi sekertaris Johan, baru bertemu kemarin saja sudah meninggalkan kesan yang tidak baik, dan sekarang ia harus bekerja satu ruangan dengan mantan kekasihnya yang tak ingin ia ingat lagi.
"Sekertaris tuan Johan, bagaimana jika bapak mencari orang lain saja, saya belum satu bulan bekerja, saya belum siap untuk mengemban tugas itu pak," ucap Jihan.
"Kamu adalah peserta interview dengan nilai tertinggi, dan kamu yang paling cocok untuk menjadi sekertaris tuan Johan, ini perintah langsung dari tuan Toni ayah dari tuan Johan, saya sarankan kamu jangan menolak jika kamu masih ingin bekerja di Perusahaan ini," ujar Tama sesuai dengan perintah johan tadi.
__ADS_1
"Baik pak, saya mengerti," ucap Jihan lirih
"Bagus, setelah jam makan siang, kamu pergi lah keruangan tuan Johan," ucap Tama.
Jihan tak mampu lagi berkata apa-apa, menolak hanya akan membuatnya kehilangan pekerjaannya. Ia juga bejalan dengan lemas keluar dari ruang kerja Tama.
Jihan tidak menyangka, cita-cita menjadi wanita karir yang sudah di depan mata, ternyata tak semudah itu untuk ia dapatkan, penghalang dari seorang mantan kekasih amat berat baginya, ia belum siap untuk kembali bertatap muka dengan Johan, Setelah tujuh tahun lalu, kesalahpahaman membuat johan begitu membencinya.
Kini jihan Sedang berada di salah satu bilik toilet, menagis sesegukan sendiri, tanpa suara, namun sesak di dada membuat matanya terus saja mengalir.
Sial, kenapa hidup ku jadi seperti ini, aku harus sekuat apa lagi, setelah semua yang aku lalui ... kenapa aku harus kembali ke titik ini lagi," batin jihan.
Lembar demi lembar tisu, terlempar ke tong sampah yang ada di bilik toilet itu, hampir habis persediaan tisu yang ada di saku kemejanya, karena air mata yang tak mau berhenti mengalir.
Setelah hampir satu jam jihan mengurung diri di toilet, akhirnya ia memutuskan untuk keluar, tak lupa ia mencuci muka yang sudah nampak sembab itu.
Jihan menatap wajahnya dari kaca yang ada di wastafel itu, " Kamu pasti bisa Jihan, semangat!" ucap jihan mencoba menyemangati diri sendiri.
Jihan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan staf bagian keuangan, ia langsung duduk bersandar di belakang meja kerjanya.
Jenny, Cika, Rendy dan malik, berhambur menghampiri jihan, mereka sangat penasaran dan ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya Jihan, apa benar kamu akan di pindahkan ke kantor cabang?" tanya Cika.
"Aku juga berharap aku di pindahkan ke kantor cabang saja," ucap Jihan lemas.
"Maksud kamu apa?" tanya Malik.
"Aku di pindahkan ke Ruangan CEO baru sombong itu, aku sekarang adalah sekertarisnya," ucap jihan.
"Apa!" seru jenny, Cika, Rendy dan Malik secara bersamaan.
"Maksud kamu, kamu menjadi sekertaris dari tuan Johan, begitu?" tanya jenny, memperjelas ucapan Jihan tadi.
"Iya .... apa yang harus aku lakukan, aku sudah sangat nyaman bekerja di ruangan ini, dengan kalian semua," ujar Jihan.
" Kita masih bisa bertemu saat jam makan siang," ucap cika.
"Hus ... bukan karena itu jihan tidak mau pindah, kamu tidak ingat sewaktu di lobby, bagaimana tuan Johan, memarahi Jihan," ujar Jenny.
"O iya ... yang waktu itu kan, tuan Johan itu seperti punya dendam sama kamu," ucap rendy.
__ADS_1
"Sudah-sudah, jangan membuat jihan makin sedih. Jihan kamu pasti bisa, kamu di berikan kepercayaan ini karena kamu mampu," ucap Malik.
"Terimakasih teman-teman, aku pasti akan sering ke ruangan ini," ucap jihan yang sudah merasa lebih baik.
~
Jam makan siang telah selesai, sekarang waktunya untuk Jihan pergi keruangan barunya. lebih gugup dari pada datang ke ruangan Tama pagi tadi, lebih menegangkan dari ruangan interview beberapa Minggu yang lalu.
Cukup bersikap profesional Jihan, kamu pasti bisa," batin Jihan.
Jihan Melangkahkan kakinya masuk keruangan yang cukup luas itu, ia menggedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, Sampai matanya menangkap sosok pria yang dulu ia kerap sapa kak Jo itu.
"Pe-permisi tuan," ucap jihan.
Johan, yang tadinya fokus ke berkas yang sedang ia pelajari, kini beralih melihat wanita yang dulu selalu bersikap manja padanya itu, namun kini, sikapnya begitu kaku, seperti orang asing yang tak pernah mengenal satu sama lain.
"Kamu sudah datang ... kemari, dan duduk lah," ucap johan dingin.
Jihan melangkahkan kakinya duduk berhadapan dengan Johan, ia berusaha bersikap senormal mungkin, baginya masa lalu tidak perlu di ungkit lagi, sikap profesional dalam bekerja adalah yang nomor satu.
"Saya di perintahkan pak Tama untuk keruangan ini," ucap Jihan.
Johan terseyum sinis, menatap wanita yang ia cap penghianat itu, " Kamu benar-benar pandai bersandiwara, bahkan setelah tujuh tahun ... apa kamu sudah menikah dengan laki-laki itu," ucap johan.
Seperti ada belati yang menancap di jantung Jihan, ucapan johan barusan benar-benar menjatuhkan harga dirinya, bagaimana bisa johan, membenci jihan sampai seperti ini.
Jihan mencengkeram erat lututnya, mencoba menahan rasa perih yang tiba-tiba menderanya.
"Maaf tuan, saya tidak menjawab pertanyaan pribadi, saya harap tuan, bisa bersikap profesional dalam pekerjaan," ujar jihan lugas, menatap mata mantan kekasihnya dengan berani, seolah menyuarakan isi hati dengan kata-kata yang lebih pantas tanpa memaki.
"Cih ... Baiklah, aku harap kamu sudah tahu tugasmu sebagai seketaris ku, kamu bisa mulai bekerja besok, ingat! ... saya tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu dan ceroboh.
"Baik tuan," ucap jihan singkat.
Mata mereka saling bertemu, Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, saling menatap dalam, seolah mencari sesuatu yang sudah lama hilang.
Kak jo yang dulu benar-benar sudah hilang dari dirimu, kamu tahu betul aku ceroboh dan tidak tepat waktu, dulu kamu selalu memakluminya dan rela datang terlambat demi bisa bersama ku, tapi sekarang apa yang aku dengar bukanlah ucapan dari seorang mantan terindah yang bahkan belum tergantikan," Batin Jihan.
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa pada seorang wanita penghianat Seperti mu, namun jika kamu terus menghantui hidup ku, perjuangan ku selama tujuh tahun untuk keluar dari bayang-bayang mu, akan sia-sia. Selama tujuh tahun, setiap wanita yang mencoba mendekati ku, yang aku lihat dari mereka hanya bayangan wajahmu, senyum mu dan seluruh yang ada pada dirimu, itulah yang aku lihat dan sangat aku benci ... kenapa kamu harus muncul lagi di hadapan ku, aku harus secepatnya membuat kamu, tidak betah dan mengudurkan diri secara sukarela dari perusahaanku," batin Johan.
Bersambung 💕
__ADS_1