Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Digigit Ular


__ADS_3

Perlahan Luna membuka matanya di hari yang sudah sore itu. Dia tatap wajah pulas Niko yang masih tertidur sambil memeluknya. Pertempuran dua kali tanpa jeda barusan benar-benar membuat tubuhnya lelah.


"Mas, udah sore." Perlahan Luna menyusuri wajah tampan itu yang membuat Niko membuka matanya perlahan.


Niko justru kembali memeluk Luna dengan erat. "Mager sekali." Tubuh yang masih polos di balik selimut itu saling bersentuhan lagi. Ingin rasanya dia menciptakan kehangatan seperti tadi.


"Kita mandi yuk, terus nemeni Reka." Luna menjurai rambut hitam Niko yang masih saja memejamkan matanya.


"Iya, sebentar lagi." Niko akhirnya melepas pelukannya lalu meregangkan ototnya. "Dingin banget ya di sini."


"Iya Mas. Udah sore." perlahan Luna duduk sambil menahan selimut yang menutupi dadanya.


Otak nakal Niko bekerja dengan sempurna. Dia menarik selimut Luna hingga tubuh putih dengan beberapa tanda merah itu terekspos sempurna.


"Sambil mandi yuk." Niko meraih tubuh Luna dan menggendongnya ala bridal style.


"Ih, Mas gak capek?"


"Nggak. Enak malah." Niko menurunkan tubuh Luna di bawah shower. Mereka mulai memagut cinta dan menyesapi manisnya madu. Lagi, untuk ketiga kalinya di hari itu, mereka melakukannya lagi. Satu rasa yang membuat mereka kecanduan. Ingin melakukannya lagi dan lagi.


Sedangkan di kamar lain, Reka terbangun dari tidurnya. Dia merasa haus lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Kebetulan Mina masih menemani putranya mandi.


Tiba-tiba saja Reka mendengar sesuatu yang berdesis.


"Itu apa?" Reka mencari sumber suara itu, tapi tiba-tiba kakinya digigit sesuatu. "Aaaa..." teriak Reka, dia langsung jatuh terduduk dan melihat ular yang merayap mejauh dari kakinya.


"Ayah!!" teriak Reka. Kakinya terasa sangat sakit dan tidak bisa digerakkan. "Ayah!!" teriaknya lagi.


Tapi yang datang adalah Mina dengan tergopoh. "Astaga, Reka kenapa?"


"Kaki Reka digigit ular, Bi." Reka meringis kesakitan dengan wajah yang semakin pucat.


"Apa? Pak Umar! Pak Udin! Tolong!" teriak Mina memanggil penjaga villa dan sopir yang kebetulan sedang duduk di taman belakang dekat dapur.


Mereka berdua segera masuk ke dalam dapur. "Ada apa?"


"Ini Reka digigit ular. Cepat cari ularnya sampai dapat!"


"Ular!! Iya, kita akan segera mencari."

__ADS_1


"Pak Umar, tolong panggil Pak Niko, kita harus segera membawa Reka ke rumah sakit."


Mina mencari kain panjang lalu mengikat kaki Reka agar racun itu tidak segera menyebar. Dia menggendong Reka dan membawanya ke sofa.


Niko dan Luna yang baru selesai mandi dikejutkan dengan gedoran keras dari Umar.


"Maaf Tuan, Reka digigit ular."


Seketika Niko melebarkan matanya karena terkejut. Dia meraih jaket dan dompetnya. "Kita ke rumah sakit sekarang!"


Luna juga mengikuti Niko dengan tergesa.


"Astaga Reka, bertahan sayang." Niko segera mengangkat tubuh Reka dan membawanya menuju mobil. Niko dan Luna segera masuk ke dalam mobil yang disopiri oleh Umar. Beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju dengan kencang menuju rumah sakit.


"Ayah, sakit sekali. Kaki Reka gak bisa digerakkan."


"Iya sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kamu bertahan ya." Niko berusaha menenangkan Reka. Kali ini, dia merasa gagal menjaga Reka. Apa yang harus dia katakan pada Alea nanti?


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit. Niko segera membawa Reka menuju IGD agar segera ditangani oleh dokter.


Niko kini menunggu diluar ruangan bersama Luna saat Dokter menangani luka Reka.


"Ini bukan hanya salah kamu. Tapi juga salah aku. Aku yang nyuruh kamu ajak Reka. Harusnya kita memang jagain Reka gak ditinggal kayak tadi." Luna menyesal dengan keputusannya itu. Meski sekarang penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi.


Niko meraih tubuh Luna dan memeluknya. "Semua udah terjadi, kita berdo'a ya. Semoga Reka baik-baik saja."


Niko dan Luna menunggu Dokter menangani dengan tidak sabaran. Tiga puluh menit itu terasa sangat lama.


Akhirnya Dokter keluar dari ruangan. Niko dan Luna langsung mendekatinya.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Niko.


"Syukurlah racun itu belum sampai menyebar. Kita sudah berhasil mengeluarkan racun itu. Tapi untuk beberapa hari, pasien harus tetap dirawat untuk memastikan keadaannya karena kaki pasien akan bengkak dan kesulitan berjalan untuk sementara waktu."


"Apa kita sudah bisa bertemu?" tanya Niko lagi.


"Iya, pasien sudah kita pindahkan ke ruang rawat."


Niko dan Luna segera menuju ruang rawat yang di tunjukkan. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan. Terlihat Reka sedang memejakan matanya.

__ADS_1


"Reka maafin Ayah gak bisa lindungi Reka." Niko mengusap lembut rambut Reka.


"Ayah, Reka mau sama Mama." Reka sedikit membuka matanya. Dia berkata setengah mengigau.


"Iya. Nanti Mama pasti ke sini." Niko tidak punya keberanian untuk menghubungi Alea untuk saat ini.


"Reka mau video call sama Mama."


Niko menghela napas panjang lalu dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Alea. Mau tidak mau, inilah kenyataan yang harus dihadapi.


"Iya, hallo... Nik, Reka mana?" tanya Alea di seberang sana.


"Alea maaf, aku gak bisa jaga Reka dengan baik. Reka digigit ular."


"Apa?! Digigit ular gimana?" seketika suara Alea berubah menjadi panik.


"Iya, digigit ular berbisa waktu di villa sekarang kita di rumah sakit."


"Mana Reka, aku mau lihat."


Niko mendekatkan ponselnya pada Reka.


"Mama, kaki Reka sakit." rengek Reka yang membuat Alea semakin panik.


"Iya Reka, Mama akan segera ke sana. Reka pasti cepat sembuh."


Mereka berdua mengobrol sampai Reka akhirnya tertidur karena pengaruh dari obat yang sudah bekerja.


"Niko, kita bicarakan ini nanti!"


Kemudian Alea mematikan panggilannya.


Niko menghela napas panjang. Iya, ini memang salahnya. Dia akan terima apapun yang akan dikatakan Alea.


.


.


💞💞💞

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya..


__ADS_2