Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.71


__ADS_3

Malik menghapiri kedua orang tuanya yang kini sedang menikmati sarapan pagi mereka, Malik sedikit heran karena mama dan papanya sudah begitu rapi pagi ini. Kini Malik sudah duduk di kursi meja makan bersama kedua orangtuanya.


"Tumben pagi-pagi sudah rapi, mau kemana ma, pa? tanya Malik sambil meletakkan sepotong sandwich di atas piringnya.


"Oh iya mama lupa bilang sama kamu, pagi ini ada pertemuan keluarga besar kita dengan keluarga Vita calon istri Johan," tutur Selfi pada Malik.


Malik yang tadinya hendak melahap sandwich nya kini diam terpaku, dan meletakkan kembali sandwich itu ke atas piring.


"Pertemuan keluarga untuk membahas pertunagan kak Johan?" tanya Malik memastikan.


"Bukan, lebih tepatnya membicarakan pernikahan, papa tidak tahu juga kenapa pernikahan Johan di percepat," tutur papa Malik.


Malik hanya diam, tanpa berkomentar apapun lagi, ia kembali memakan sandwich nya sampai habis lalu meminum jusnya dengan terburu-buru. Setelah selesai, Malik berdiri dari posisinya, membuat kedua orang tuanya mendongak melihatnya.


"Aku berangkat ke kantor dulu," ucap Malik sambil menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Kamu tidak mau ikut, ke pertemuan keluarga?" tanya Selfi.


"Mama dan papa saja, aku sibuk," ujar Malik lalu melangkah pergi.


~~


Saat memasuki ruangan departemen keuangan, Malik melihat kearah meja Jihan yang masih nampak kosong. Ia semakin mengkhawatirkan Jihan , terlebih saat Johan mengatakan jika Jihan menghilang begitu saja.


"Malik," tegur jenny Membuka Malik terperanjat kaget.


"Apa?" tanya Malik.


"Apa kamu tahu kenapa Jihan tidak masuk kerja, atau kamu tahu dimana ia tinggal sekarang. Pak kus menanyakannya sejak kemarin, aku juga mengkhawatirkannya," ujar Jenny.


"Aku juga tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu, kamu tidak usah khwatir," ucap Malik pada jenny.


"Baiklah, aku tunggu kabar dari mu," ucap Jenny lalu kembali ke meja kerjanya.


Malik berjalan menuju meja kerjanya, ia duduk di kursinya sambil menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia memikirkan dinmana kira-kira Jihan berada. Ia ingat Johan mengatakan sudah mencari Jihan kemana-mana namun tidak menemukannya.

__ADS_1


Jihan pasti ada di suatu tempat di bumi ini, ia tidak mungkin menghilang begitu saja. Malik tiba-tiba menegakkan posisinya, Karena mengingat sesuatu.


Malik ingat, Jihan pernah memberitahu nama gunung yang ada di desanya. Malik mencoba mengingat nama gunung itu, setelah berpikir keras, akhirnya Malik mengingat nama gunung itu. Langsung saja ia mencari di Web nama gunung dan lokasi gunung Itu berada, tidak butuh waktu lama hasil pencarian keluar.


Senyum lebar terpancar dari wajah Malik. Entah kenapa ia sangat yakin jika Jihan pasti berada di kampung halamannya. Ia berencana untuk berangkat besok, berhubung besok hari libur.


Malik pergi menemui Jihan tanpa maksud apapun. Ia hanya mengkhawatirkan Jihan, walau ia sudah di tolak secara terang-terangan, tapi Malik masih begitu mengkwatirkan Jihan.


~~


Toni Alexsander beserta istri, adik, dan juga adik iparnya, kini sedang duduk di sofa ruang tamu kediaman keluarga Irawan. Tidak terlalu ramai hanya keluarga inti saja yang hadir, bahkan Vita dan Johan tidak ada di sana.


Pertemuan keluarga ini, lebih tenang dari pertemuan sebelumnya, tak ada lagi wajah tegang yang tersirat. Benny Irawan ayah Vita dan Toni Alexander ayah Johan, pada akhirnya sepakat bahwa pernikahan akan di laksanakan satu minggu lagi.


Senyum terpancar dari wajah Vita yang mengintip pertemuan itu dari lantai atas. Ya Vita sejak pagi sudah berada di rumah ke dua orang tuanya, bukan untuk bergabung namun hanya untuk memastikan jika pertemuan itu berjalan dengan lancar.


~~


Berbanding terbalik dengan wajah Vita saat ini, Johan yang sudah berada di kantor hanya bisa duduk bersandar di kursi kebesarannya. Raksa yang sedang duduk di hadapan Johan, memperhatikan Johan yang sesekali mehebuskan nafas beratnya.


"Apa sudah ada kabar dari Jihan?" tanya Raksa ragu-ragu.


"Tuan," ucap Raksa.


"hm," jawab Johan singkat.


" Apa anda, sudah melihat merekam CCTV gedung apartement?" tanya Raksa ragu-ragu.


Mendengar hal itu, Johan langsung membuka matanya dan menegakkan posisinya, ia menatap Raksa yang dengan tajam, membuat Raksa terperanjat kaget karena melihat ekspresi, wajah Johan.


"Kamu benar, kenapa juga aku tidak berpikir sampai ke situ," ucap Johan yang nampak sangat antusias.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Johan yang sudah berdiri dari posisinya.


"Berangkat kemana?" tanya Raksa dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Tentu saja, ke gedung apartement, kemana lagi!" ucap Johan kesal.


"Tapi tuan, sebentar lagi kita akan rapat," kata Raksa dengan ekspresi wajah takut-takut.


"Batalkan!" tegas Johan.


"Ba-baik tuan," ucap Raksa terbatabata.


Johan dan Raksa beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Johan berjalan dengan sangat cepat, hingga Raksa tidak bisa mengimbangi langkah kaki Johan, sesekali ia berlari agat tidak jauh tertinggal di belakang Johan.


Sesampainya di gedung Apartement, Johan dan Raksa berjalan menuju ruangan pusat keamanan apartement. Johan berharap ia bisa menemukan Jihan. Ini adalah harapan terakhir Johan.


~


Ruangan pusat keamanan.


Salah satu petugas keamanan gedung sedang memeriksa data pada tanggal di mana Jihan pergi. Ada banyak sekali file video dengan durasi yang cukup panjang, hingga membutuhkan sedikit waktu untuk mencari rekaman yang memperlihatkan Jihan pada Subuh waktu itu.


Johan yang berada di belakang petugas keamanan itu, tidak henti-hentinya berbicara, Raksa sampai menepuk jidat melihat keridak sabaran sang bos.


Setelah beberapa saat menunggu dalam ketidak sabaran, akhirnya petugas keamanan gedung menemukan rekaman CCTV, di halaman gedung di mana Jihan berada.


Dalam rekaman CCTV itu, terlihat sebuah mobil hitam, sedang menunggu di halaman gedung, tak lama, Jihan muncul dengan membawa koper besar.


Wajah Johan nampak sangat serius memperhatikan layar komputer itu. sampai pada satu titik, " pause videonya!"


Sang petugas keamanan itu, langsung mempouse rekaman CCTV di mana terlihat plat mobil itu, "Raksa, catatat plat nomor itu dan periksa, dimana alamat pemilik mobil itu.


"Baik tuan," ucap Raksa lalu dengan cepat mencatat nomor plat itu.


Johan begitu antusias, untuk menemukan kembali separuh jiwanya yang pergi. Johan tidak ingin kehilangan Jihan untuk yang kesekian kalinya, cukup sekali ia merasakan penyesalan karena melewatkan banyak waktu tanpa kehadiran Jihan dalam hari-harinya.


Johan tak lagi memperdulikan pernikahan yang sebentar lagi akan di selenggarakan. Johan dan Raksa beranjak dari gedung apartement itu dengan tergesa-gesa karena Raksa baru saja mendapatkan alamat pemilik kendaraan roda empat yang membawa Jihan subuh itu.


Sepanjang perjalanan raut wajah Johan nampak semakin tegang, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pemilik mobil itu dan menanyakan di mana kini Jihan berada.

__ADS_1


Yang sudah mengikuti cerita saya, sejauh ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terimakasih.


Bersambung 💕


__ADS_2