
Kini Johan dan Malik sedang duduk berhadapan di ruang tamu rumah Jihan. mereka saling berhadapan saling menatap satu sama lain.
Nino di suruh oleh Mela untuk tidur. Sementara Mela dan Jihan berada di dapur untuk membuat teh.
Johan mulai bosan melihat Malik yang terus memandanginya dengan serius.
"Untuk apa kamu kemari?" tanya Johan pelan.
"Seharusnya aku yang bertanya, kemana saja kak Johan membawa Jihan seharian," ucap Malik pelan.
"Itu bukan urusan mu," ucap Johan.
"Kak apa kak Johan tidak berpikir, jika tindakan mu itu melampaui batas," ucap Malik.
"Aku hanya ingin berdebat dengan mu hanya karena seorang wanita, di luar perusahaan kami itu adalah adik ku, jadi bersikap sopanlah kepada kakak mu," ujar Johan pelan.
"Aku tidak akan mengalah hanya karena kakak adalah CEO dan cucu tertua di keluarga kita," ucap Malik.
"Kita lihat saja nanti," ucap Johan.
"Jika aku menang, kakak harus mengakui hubungan kami," ucap Malik.
"Apa ... hubungan kami," ucap Johan tak percaya.
Di tengah perdebatan keduanya, Jihan muncul dengan sebuah nampan di tangannya. Jihan duduk di tengah-tengah, antara Johan dan Malik.
"Dimana tante kamu?" tanya Johan.
"Sedang menidurkan Nino, dia tidak bisa tidur jika mamanya tidak di sampingnya," ucap Jihan.
"Silahkan di minum tehnya ... lalu pulang kerumah masing-masing," ucap Jihan.
Johan meraih cangkir yang berisi teh, dan begitu pula dengan Malik. Jihan melihat tingkah keduanya yang seperti sedang mengibarkan bendera perang.
Menjadi wanita yang di perebutkan oleh dua orang pria pewaris dari keluarga Alexander, di bilang beruntung, Jihan sungguh beruntung, tapi Jihan tak sanggup menghadapi tingkah keduanya.
~
__ADS_1
Pagi menjelang jam kerja, Jihan berpenampilan lebih menarik dari biasanya, polesan make up ringan menghiasi wajah cantiknya.
Pagi ini, ia terpilih untuk melakukan presentasi di hadapan pihak klien dari Malaysia. Sebelum masuk di ruangan pak kus terlebih dulu memberikan arahan agar presentasi berjalan lancar.
Namun tiba-tiba saja Clara ikut nimbrung, "Awas saja jika kamu melakukan kesalahan di presentasi nanti ... aku masih tidak habis pikir kenapa perusahaan memilih kamu untuk melakukan presentasi di hadapan klien besar kita," ucap Clara sambil berpangku tangan.
Jihan tak mau meladeni Clara, melawan wanita seperti itu hanya akan membuatnya mendapatkan masalah. Jihan memutar bola matanya malas, ingin rasanya ia beranjak dari tempat itu.
"Sudahlah jangan Mengganggunya, Jika konsentrasi Jihan buyar, kamu yang akan saya salahkan," ancam pak kus pada Clara.
Tanpa berkata apapun lagi, Clara berbalik, lalu melangkah pergi. Ia berjalan dengan persaan kesal, hentakan kakinya bahkan terdengar menggema.
***
Jihan memasuki ruangan, Johan yang sedang duduk di samping kliennya, tersenyum melihat Jihan. Ada rasa bangga saat melihat Jihan seperti sekarang, jauh sekali jika di banding dulu, Jihan tak pernah berani tampil di depan umum dan cenderung malas belajar, meskipun Johan tahu betul jika jihan adalah murid yang pintar.
Cobaan hidup yang begitu besar, menempa Jihan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan cerdas.
Jihan bediri di atas podium, sebelum memulai, Jihan terlebih dulu menormalkan dirinya, karena rasa gugup yang tiba-tiba saja datang.
Setelah merasa lebih baik, Jihan mulai memperkenalkan dirinya terlebih dahulu , setelah itu barulah ia mulai mempresentasikan proyek perusahaan kepada klien dari Malaysia itu.
King grup memang sudah terkenal sebagai perusahaan konstruksi yang mampu menyelesaikan pembangunan dengan waktu yang cepat dengan hasil memuaskan. Tak Jarang klien dari luar negeri rela jauh-jauh ke Indonesia untuk menawarkan proyek besar kepada king grup.
Presentasi kali ini, akan menentukan apakah klien tersebut menyetujui dan mau menandatangani kontrak kerjasama dengan king grup.
Nampaknya presentasi sejauh ini berjalan lancar, bahkan saat di tanyai pertanyaan menggunakan bahasa Melayu, Jihan mampu membalas menggunakan bahasa Melayu pula, hal itu menjadi kepuasan tersendiri dari klien tersebut.
Akhirnya kontrak kerjasama, di setujui, senyum sumbringah terpancar dari wajah Johan, sementara Jihan merasa lega karena tak melakukan kesalahan selama presentasi berlangsung.
Johan menjabat tangan kliennya itu, pertanda jika kerja sama mereka sudah sepakat untuk bekerja sama, begitu juga dengan Jihan, ia juga berkesempatan untuk menyapa klien tersebut secara langsung.
~~
Saat ini di departemen keuangan, Jihan dan rekan-rekannya sedang bergembira karena, presentasi tadi bejalan lancar bahkan klien dari Malaysia itu meminta agar proyek tersebut segera di realisasikan.
"Makan siang ini, saya yang traktir," ucap pak Kus.
__ADS_1
"Asik," ucap Jihan dan yang lainnya secara bersamaan.
"bernegosiasi lah, restaurant mana yang kalian pilih, saya ada urusan di departemen pemasaran," ucap pak kus lalu berjalan dengan senang, keluar dari ruangan itu.
Saat tengah berjalan tiba-tiba saja, Clara mehadang langkah pak Kus.
"Ada apa?" tanya pak kus
"Apa benar, proposal kerjasama di setujui?" tanya Clara.
"Tentu saja, Jihan memang bisa di andalkan," ucap pak Kus.
"Alah ... dia itu pasti menggoda klien tadi dengan penampilannya yang seperti niduan itu, bukan karena presentasinya memuaskan," ucap Clara iri.
"Apa maksud kamu," ucap pak Kus.
"Dia itu masih pegawai magang di sini, tapi dalam satu bulan dia pernah menjadi seketaris sementara tuan Johan, dan sekarang mendapatkan kontrak kerjasama, bukankah itu hal yang aneh," ucap Clara.
"Apa maksud kamu?" ucap Johan yang tiba-tiba saja datang menimpali ucapan Clara bagusan. Ia tidak sengaja lewat bersama dengan Raksa, namun telinganya terganggu saat mendengar ucapan Clara tentang Jihan.
"Coba katakan sekali lagi!" tegas Johan.
Jangan tanya seperti apa ekspresi wajah Clara saat ini. Ia hanya bisa terdiam sambil menunduk dengan kakinya yang bergetar. Pak kus pun tak mengatakan apapun, kecuali diam seribu bahasa.
"Apa seperti ini, sikap seorang kepala departement perencanaan, Kalau pun Jihan berhasil mempresentasikan proposal proyek dengan baik, itu murni karena ia berbakat. Jangan menghina orang lain, hanya karena kamu iri terhadapnya," ujar Johan kesal.
"Raksa!" seru Johan.
"Iya tuan," ucap raksa yang berada di belakang Johan.
"Berikan SP 1 (surat peringatan) untuk nona Clara," ucap Johan.
"Baik tuan," ucap Raksa dengan senang hati, ia juga benar-benar tidak menyukai Clara, karena sikap wanita tersebut yang begitu angkuh dan sombong.
Johan melanjutkan langkahnya, di ikuti oleh Raksa dari belakang. Amarahnya benar-benar memuncak saat ada yang menghina Jihan, Sebagai seorang CEO perusahaan, ia tahu betul bagaimana kinerja Jihan selama satu bulan belakangan ini, Jihan bekerja di perusahaan murni karena kemampuan dan kecerdasan yang dimilikinya.
Apa lagi, saat Jihan mempresentasikan proposal proyek tadi, Johan bahkan tak melepaskan pandangan matanya dari Jihan. Bagaimana tidak semakin cinta, jika wanita yang di puja berhati baik, cantik, cerdas dan tentunya jago memasak.
__ADS_1
Bersambung 💕