Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Hujan Di Pagi Hari 2


__ADS_3

Luna menelan salivanya berkali-kali. Dia belum sanggup membayangkan rasanya jika itu menghujam dirinya.


Niko tertawa, wanita yang pemberani itu sangat terlihat jika nyalinya sedang menciut. Dia kini memposisikan dirinya di atas Luna dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya.


Mereka saling bertatap lekat. Semua rentetan peristiwa yang terjadi diantara mereka seolah di reka ulang di benak mereka. Hingga mereka berada di posisi sekarang dan sudah bersiap memadu cinta.


"I love you..." ucapan cinta dari Niko mengiringi hentakan kuatnya menerobos kedua dinding yang masih sangat sempit itu.


Luna hanya memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Rasanya memang sakit tapi dia tak berteriak. Kemudian dia menghela napas panjang dan berusaha untuk tenang.


Niko tersenyum kecil. Dia tahu, pasti Luna bisa mengontrol dirinya menghadapi rasa sakit hingga membuatnya terlihat rileks meski kini Niko telah menggerakkan dirinya pelan.


Perlahan Luna membuka matanya. Miliknya terasa sesak dipenuhi milik Niko yang bergerak pelan. Terasa panas di setiap gesekannya.


Pandangan mereka bertemu. Hanya desisan pelan dari Luna yang kini terdengar.


"Masih sakit?" tanya Niko pada akhirnya karena dia ingin segera bebas memompa tanpa ritme.


Luna menganggukkan kepalanya.


Okelah, kali ini Niko bersabar untuk bergerak pelan meski dia hentakkan cukup dalam agar gesekan itu segera berubah menjadi kenikmatan yang menjalari tubuh Luna.


Mereka masih saling bertatapan lekat. Niko sama sekali tak menindih tubuh atas Luna agar tangan Luna tak tersentuh.


Satu tangan Niko kini mulai menyusuri kulit putih itu dan berhenti di dada Luna. Mulai bermain di area sensitif itu. Saat Luna mulai menikmatinya, Niko semakin menambah tempo gerakannya.


Suara nikmat itu mulai terdengar. Sepertinya rasa sakit itu telah berubah menjadi rasa nikmat.


"Udah gak sakit?" tanya Niko dengan suara de sah tertahannya.


Luna mengangguk kecil. Rasa sakit itu kini telah berubah menjadi rasa nikmat.


Hawa yang dingin juga telah berubah menjadi panas dengan keringat yang telah membanjiri tubuh mereka. De sah an sudah saling bersahutan.


"Mas," Luna semakin meracau. Ada suatu rasa yang ingin meledak di dalam dirinya.


Niko semakin menambah tempo gerakannya. Dia tahu sebentar lagi Luna mencapai puncaknya. "Kamu nikmati saja sayang. Keluarkan saja, jangan ditahan."


Dengan re ma san yang cukup kuat di bawah sana dan tubuh yang menegang sesaat itu, Luna mencapai puncak nikmatnya. Beberapa saat kemudian dia melemas dan nampak mengatur napasnya.

__ADS_1


Niko mengecup kening Luna sesaat lalu berbisik di dekat telinganya. "Ini benar-benar nikmat sayang..."


Luna hanya terdiam dengan wajahnya yang semakin memerah.


Ingin Niko menindih sepenuhnya tubuh itu dan memeluknya tapi untuk saat ini tidak bisa dia lakukan. Hingga dia kini menegakkan dirinya dan berlutut. Satu tangannya terulur menangkup bulatan yang ikut bergerak seiring hujamannya. Benar-benar pemandangan yang sangat menggairahkan.


"Sayang aku mau sampai." Niko semakin mempercepat gerakannya dan dengan suara era ngan cukup keras dia menuntaskan hasratnya di titik terdalam.


Setelah itu dia mengatur napasnya sesaat dan melepas miliknya. Benar-benar pagi yang membara di kala hujan yang dingin.


Tanpa sadar dia hempaskan tubuhnya di sisi kiri Luna.


"Aww, Mas tangan aku," teriak Luna karena tangannya yang sakit tertindih tubuh Niko.


"Eh, maaf. Maaf." Seketika Niko terduduk. "Lupa." Niko mengusap lembut sekitar tangan Luna. "Masih sakit banget?"


"Iya."


"Maaf ya. Padahal sedari tadi aku jaga biar gak tertindih, malah barusan aku lupa," kata Niko yang menyesali perbuatannya barusan. Dia takut jika sendi itu akan kembali bergeser.


Sesaat kemudian Luna tersenyum. "Udah gak sakit kok Mas. Aku bercanda. Tapi memang kaku banget kalau dibuat gerak."


"Iya, iya. Ih, jangan gelitikin."


Niko menghentikan gerakannya lalu menghempaskan tubuhnya di sisi kanan Luna. Dia tarik selimut sampai menutupi tubuh polos mereka berdua. "Hujannya tambah deras. Pengen tidur lagi." Niko memeluk tubuh Luna dari samping dengan erat.


"Ya udah tidur lagi gak papa. Tapi aku tinggal bangun ya sebentar lagi. Sudah mau jam delapan, Mas Niko pasti lapar kan?"


"Ya udah aku gak jadi tidur juga. Aku mau mandi saja. Nanti kita keluar kamar bareng aja ya, biar kayak pengantin baru beneran."


Luna terkekeh mendengar kalimat Niko. "Kan emang beneran."


"Maksudnya beneran habis belah duren."


"Ih, malu."


"Ngapain malu. Enak kok. Makasih ya," katanya sambil mengecup pipi Luna.


"Sama-sama."

__ADS_1


"Aku mau bangun dulu." Perlahan Luna duduk. Badannya terasa pegal dengan inti yang masih terasa sakit. Baru sekali tapi rasanya seperti kena bantingan berkali-kali.


"Ya udah kamu pakai baju dulu, sini aku bantu." Niko beranjak lalu mengambil pakaian milik Luna.


Saat Luna menggeser dirinya, terlihat noda merah di spreinya.


Niko justru tersenyum bangga melihat noda itu. "Sini kamu pakai baju dulu, biar aku ganti spreinya." Niko membantu Luna memasang satu per satu pakaiannya.


"Mas Niko kan seorang CEO. Emang bisa ganti sprei?"


Niko justru tertawa. "Aku dulu selama empat tahun hidup sendiri diluar negri. Lagian aku dididik keras dan mandiri sejak kecil." katanya, tapi melihat lekuk tubuh Luna membuat sesuatu yang tertidur itu terbangun lagi.


Luna yang menyadari hal itu, dadanya kembali berdebar. Baru saja dia membuatnya sakit tapi nikmat. "Mas pakai baju dulu. Itu kenapa bangun lagi sih."


Niko hanya tertawa setelah selesai mengancing baju Luna dia memakai bajunya. "Reaksi alami melihat istri tercinta. Maunya sih nambah lagi tapi nanti aja ya."


Luna hanya mencibir lalu dia berdiri dan berjalan pelan menuju lemari untuk mengambil sprei.


"Kamu duduk aja, aku aja yang ambil." Setelah memakai kaos dan celana pendeknya, Niko menuntun Luna agar duduk. "Pasti masih sakit kan."


Luna mengangguk kecil, tapi dia tak juga duduk. "Aku mau ke kamar mandi aja bentar."


"Bisa?"


Luna menganggukkan kepalanya sambil berlalu menuju kamar mandi.


Niko segera mengganti sprei itu dengan yang baru. Hubungan setelah pernikahan itu rasanya benar-benar indah. Meski terkadang terselip rasa bersalah saat teringat dosa besarnya bersama Alea. Dia telah mengambil sesuatu yang berharga yang seharusnya hanya untuk suaminya, seperti dirinya yang mendapatkan Luna. Tapi dia bersyukur, Alea bersama Kevin yang bisa menerima Alea apa adanya.


Dan mulai sekarang, Niko berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi Luna. Dia tidak akan menyia-nyiakan istrinya itu.


.


💞💞💞


.


X x x


.

__ADS_1


Hai jangan lupa like dan komen ya .


__ADS_2