Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.24


__ADS_3

Setelah mandi dan berpakaian santai, Johan kembali turun untuk makan siang bersama dengan ibunya dan juga Jihan. Sesampainya di meja makan, ia terpana melihat Jihan dengan rambut yang di sanggul ke atas sedang menyiapkan makanan di atas meja makan bersama dengan beberapa pelayan lain.


"Ehm ... apa sudah siap, aku sangat lapar," ucap Johan.


"Apa ... oh ini, sedikit lagi selesai, silahkan duduk dulu," ucap Jihan.


Johan duduk di kursinya seperti biasa, ia terus saja menatap Jihan, memperhatikan setiap gerakan yang Jihan lakukan, Johan tahu ini adalah perasaan yang sama seperti dulu, setelah mendengar cerita Kinan kemarin, cinta yang dulu sudah terkubur kini perlahan bangkit kembali.


"Jo!" seru Maria saat ia mendapati putranya sedang melamun.


Johan langsung tersadar dari lamunannya, "Ibu Mengagetkan saja," ucap Johan.


"Habisnya kamu melamun sampai segitunya, ibu panggil-panggil sampai tidak dengar," ucap Maria.


Jihan datang dengan membawa potongan buah yang tadi di siapkan oleh pelayan yang berada di dapur.


"Jihan ... kemarilah, kita makan bersama," ucap Maria pada Jihan.


Jihan duduk di samping Maria, sebenarnya ia begitu canggung untuk makan bersama dengan Johan di rumahnya. Jika bukan karena ibu Johan yang begitu baik padanya, mungkin ia tidak akan pernah mau.


"Makan yang banyak ya Jihan," ucap Maria.


"Iya nyonya ... terimakasih," ucap Jihan.


"Saya sedikit risih jika kamu memanggil saya nyonya, panggil saja tante atau ibu juga tidak apa-apa," ucap Maria berhasil membuat Jihan tersedak air.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Johan khwatir.


"Iya tuan, saya tidak apa-apa," ucap Jihan.


Memanggil Maria dengan sebutan ibu, membuat kesan yang terlalu dekat bagi Jihan, ia tidak mau terlalu terbelenggu di jeratan masalalu bersama dengan Johan, ini semua murni sebagai bentuk rasa hormatnya kepada Maria, maka dari itu dia bersedia untuk datang.


Jihan melirik Johan sekilas, entah kenapa Johan terlihat sangat ceria hari ini, tidak seperti Johan yang selalu bersikap dingin dan arogan saat berada di kantor, ia seperti menemukan kembali sosok kak Jo yang ia cintai dulu.


"Baiklah mulai sekarang saya akan memanggil tante saja," ucap Jihan pada Maria.


"Itu lebih enak di dengar," ucap Maria.


~~


Setelah selesai makan siang, Jihan pamit untuk pulang. Jihan di berikan berbagai macam makanan dan kue oleh Maria, padahal ia hanya memberikan Maria seloyang bolu pisang, namun saat pulang tangannya membawa banyak paper bag berisi makanan.


"Terimakasih ya Jihan, lain kali main lagi ya,"ucap Maria.


"Iya tante," ucap Jihan.


"Pak tolong antarakan Jihan pulang ya," ucap maria pada supirnya.

__ADS_1


"Biar aku saja bu, aku ada sedikit urusan di luar, " ucap Johan yang tiba-tiba datang.


"Tidak usah tuan, saya naik taksi saja," tolak Jihan.


"Sudah jihan, jangan menolak," ucap Maria.


"Baiklah," ucap Jihan.


~


Johan dan Jihan sedang dalam perjalanan, namun Jihan langsung menatap Johan, saat Johan menempuh jalan yang berlawanan dengan arah pulang ke rumahnya.


"Ini bukan jalan menuju rumah saya," ucap Jihan.


"Kita perlu bicara sebentar," ucap Johan.


Johan pikir ini adalah waktu yang tepat untuk bicara serius dengan Jihan, memperjelas semuanya, menyelesaikan yang belum terselesaikan, hingga tak perlu berlarut-larut seperti ini.


Jihan menatap Johan secara seribu tanda tanya, hal apa lagi yang akan Johan bicarakan padanya, setiap Johan membuatnya penasaran seperti ini, ia akan merasa was-was karena ia benar-benar tidak suka dengan kondisi seperti ini.


Johan memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran gedung apartement yang cukup tinggi. Johan dan Jihan turun dari mobil, Jihan menghampiri Johan dengan seribu tanda tanya.


"Kenapa kita kemari?, bukankah ini sebuah apartement?" tanya Jihan.


"Ikut saja, nanti kamu tahu sendiri," ucap Johan kemudian meraih tangan Jihan, menggenggamnya dengan erat agar Jihan Berjalan mengikuti langkahnya.


Jihan merasa panik, karena Johan tak juga bicara tentang alasan Johan mengajaknya kemari.


Johan tak bergeming ia terus menarik tangan Jihan hingga memasuki lift menuju lantai dua puluh, apartement itu.


Sesampainya di lantai dua puluh, Johan kembali menarik tangan Jihan, agar berjalan mengikutinya, hingga sampai di depan pintu salah satu unit apartement.


Johan membawa Jihan masuk dengan paksa. Sesampainya di dalam barulah Johan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Jihan.


Jihan yang tadinya ingin memaki Johan, namun sepertinya ia melupakan hal itu saat melihat isi apartement itu, setiap detail, dinding, furniture, setiap bunga edelweis yang terpajang di setiap sudut ruangan.


"Apa kamu ingat tentang ini," ucap Johan.


"Apa maksudnya ini," ucap Jihan, sambil melangkah, memperhatikan setiap sudut ruangan yang sama persis dengan impiannya dulu.


"Aku tau kamu pasti mengingatnya, ini adalah bagian rencana indah kita di masa lalu, saat aku sedang di Amerika, aku sudah membeli apartement ini, dan merancang setiap sudut ruangan sesuai dengan cita-cita mu dulu. Aku berfikir saat aku pulang ke Indonesia, aku punya tempat untuk melampiaskan kekesalan ku saat kembali mengingat kamu, aku sudah membayangkan akan membanting setiap barang yang ada di sini saat aku merasa kesal jika mengingat pengkhianatan mu," ujar Johan.


"Maaf tapi aku tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Jihan.


"Iya, aku tahu itu, aku sudah mendengar semuanya dari Kinan, aku sangat menyesal karena Mendengarkan ucapan Vita waktu itu," ucap Johan penuh penyesalan.


"Aku sudah melupakannya, jadi kamu tidak perlu menyesal, semuanya sudah lama berlalu, tidak perlu di ingat lagi, semua ini hanyalah keinginan ku yang tak ku inginkan lagi ... bagiku, Johan Alexander dan kak Jo adalah dua orang yang berbeda," ujar Jihan yang kini menoleh ke arah Johan.

__ADS_1


Johan beralih menatap Jihan, ia meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pundak Jihan, mata Johan sampai berkaca-kaca mengingat semua penghinaan yang ia berikan kepada Jihan.


"Berikan aku satu kesempatan lagi, untuk memperbaiki semuanya," ucap Johan, menatap lekat Jihan yang kini hanya berjarak sangat dekat dengannya.


Jihan menggelengkan kepalanya, kemudian mendorong Johan agar menjauh darinya," Tidak ... aku tidak bisa," ucap Jihan sembari menundukkan pandangannya.


"Kenapa?" tanya Johan lirih.


"Aku belum siap untuk memulai hubungan dengan siapapun bahkan dengan kamu," ucap Jihan.


"Aku akan menunggu," ucap Johan.


"Jangan menunggu," ucap Jihan.


Johan, meraih kedua tangan Jihan, kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Baiklah, jika itu mau mu, aku mengerti, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan kembali lagi kepada ku, aku tidak memaksa atau pun menunggu biarlah semuanya mengalir sebagimana mestinya. Apa boleh aku mendengar kamu memangil nama ku seperti dulu, aku sangat merindukannya.


"Aku ... tidak bisa," ucap Jihan.


"Sekali saja," ucap Johan memohon.


Jihan memejamkan matanya sesaat, menarik nafas yang cukup berat.


"Kak Jo," ucap Jihan.


Johan langsung menyunggingkan senyumnya, ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi, Johan meraih tekuk leher Jihan, dan dengan gerakan cepat mereka saling menyatu, saling merasakan indra pengecap yang kini beradu, Jihan nampak kaku dan meronta-ronta pada awalnya, Namun semakin dalam ia semakin larut hingga mampu mengimbangi Johan.


Jika ini yang terakhir untuk ku dan dia, Biarkan aku melupakan, siapa aku dan siapa dia" batin Jihan.


Johan mendorong tubuh Jihan hingga membentur tembok, semakin memperdalam, dan semakin cepat, Johan berhenti sejenak, untuk mengambil nafas, lalu kembali melakukannya lagi, seolah melampiaskan kerinduan selama tujuh tahun terpisah.


Setelah beberapa saat, Jihan mendorong tubuh Johan agar menjauh darinya, karena ia sudah kehabisan nafas, dan sudah lebih cukup.


"Saya mau pulang," ucap Jihan.


Jihan berjalan, hendak keluar dari apartement itu, namun langsung di cegah oleh Johan.


" Maafkan aku. Berjanjilah satu hal, kamu tidak akan marah dan menjauhi ku," ucap Johan menatap lekat Jihan.


"Saya tidak akan marah dan menjauh, jika anda bisa menjaga sikap anda, anggap saja kejadian tadi ,adalah hadiah perpisahan kita tujuh tahun lalu. Tolong biarkan saya hidup dengan tenang tanpa tuntutan, saya mohon," ucap Jihan.


"Aku mengerti, akan akan menuruti semua keinginan mu," ucap Johan.


"Keinginan pertama ku, aku ingin kembali ke bagian staf keuangan," ucap Jihan.


"Jika itu yang kamu mau, aku akan kabulkan," ucap Johan dengan berat hati.

__ADS_1


Bersambung 💕


Jangan lupa berikan dukungannya ya readers...


__ADS_2