
Waktu pulang kantor akhirnya tiba, namun sepertinya Jihan tidak bisa pulang lebih awal karena harus bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda saat ia tidak masuk kemarin.
Namun tentunya ia sendiri, Malik dengan setia menemaninya. Ia beralasan jika dirinya juga harus bekerja lembur untuk merevisi laporan bulanan. Mendengar hal itu Jihan terlihat senang,. karena membayangkan ia bekerja sendiri di ruangan itu, sudahlah amat menyeramkan.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Jihan nampak sangat serius menatap layar laptopnya, sementara Malik malah hilang fokus karena, terus saja memadangi Jihan sejak tadi.
"Kamu mau makan sesuatu, biar aku keluar sebentar untuk membelinya?" tanya Malik.
"Tidak usah, aku masih kenyang ... aku sudah hampir selesai kok," ucap Jihan sambil menoleh kearah Malik.
"Kalau begitu aku antar pulang ya," pinta Malik.
"Apa! antar pulang ... ti-tidak perlu, aku bisa pulang sendiri dengan taksi," tolak Jihan.
Jihan cukup kaget saat Malik menawarkan tumpangan, apa jadinya jika Malik mengantikannya pulang ke Apartement mewah yang para penghuninya rata-rata dari kelas atas, tentu saja akan menimbulkan kecurigaan nanti.
"Ayolah, kamu selalu saja menolak saat aku menawarkan tumpangan," ucap Malik dengan lemas.
Melihat Malik berbicara seperti itu, lagi lagi, jiwa iba Jihan meronta-ronta. Jihan tipe yang tidak tega saat melihat seorang bersikap seperti itu. Jihan menghembuskan nafasnya dengan berat, kemudian kembali menoleh ke arah Malik.
"Baiklah aku setuju," ucap Jihan lalu tersenyum tipis kepada Malik.
Mimik wajah yang mulanya nampak sendu, kini berubah menjadi senyum sumbringah yang terpancar dari wajah Malik. Malik sadar jika ia hanya bertepuk sebelah tangan, namun seolah ia tidak ada jeranya untuk terus mendekati Jihan. Meski sekalipun Jihan tak pernah melihatnya, melihat betapa besar cinta Malik padanya.
Kerja lembur akhirnya selesai, Sekarang Jihan dan Malik sedang dalam perjalanan mengantarkan Jihan pulang ke rumah temannya. Menurut penuturan Jihan, ia tinggal di rumah temannya Kinan, untuk sementara waktu. Padahal ia tidak pernah sekalipun menginap di rumah Kinan. Ia hanya mencari alasan agar Malik tidak mencurigainya.
"Belok kiri ya?" tanya Malik kepada Jihan yang saat ini duduk di sampingnya.
"Iya, belok kiri ... setelah itu ada pertigaan belok kiri lagi," ujar Jihan, menjelaskan letak rumah Kinan.
"Kenapa jadi seperti ini, hanya karena tinggal di apartemen itu, aku harus main kucing-kucingan seperti ini, maafkan aku malik," Batin Jihan, kemudian kembali menghembuskan nafas beratnya.
~
Johan baru saja tiba di apartement untuk menemui Jihan, sebelum itu harus pulang terlebih dahulu untuk mandi, makan malam bersama ayah dan ibunya. Barulah ia bisa keluar dengan alasan, akan pergi ketempat Fitness.
Dilihatnya jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, buru-buru Johan masuk kedalam unit apartement miliknya, lagi-lagi ruangan nampak sepi.
Johan kembali berjalan menuju kamar Jihan. Kali ini ia mengetuk pintu kamar terlebih dahulu, karena takut kejadian itu terulang lagi, ia yakin jika kejadian itu terulang untuk kedua kalinya, Jihan pasti akan marah besar padanya.
Lama Johan mengetuk pintu kamar Jihan, namun tidak ada jawaban, akhirnya Johan memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Jihan, Johan mengeryitkan dahinya saat mendapati kamar itu masih kosong, bahkan lampu kamar juga belum di nyalakan.
"Sepertinya Jihan belum pulang, tapi dia kemana," gumam Johan yang sedang merasa bingung.
__ADS_1
Johan menggerutuki dirinya sendiri, gara-gara mengantarkan Vita pulang, ia sampai tidak bisa pulang bersama dengan Jihan. Johan kembali melangkah menuju sofa, dan langsung duduk di sana.
Johan mencoba menghubungi Jihan, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Johan menyalakan televisi untuk menonton film kartun sambil menunggu Jihan pulang.
~
Mobil Malik memasuki are halaman rumah Kinan. Jihan bisa bernafas lega, karena ternyata Kinan ada di rumah. Terbukti dengan adanya mobil Kinan yang terpakir disana.
Setelah mobil berhenti, Jihan segera keluar dari mobil di ikuti oleh Malik, " terimakasih untuk tumpangannya."
"Sama-sama, apa aku boleh menyapa Nino dan tante Mela," pinta Malik.
"Maaf, tapi Nino dan Tante ku pulang ke kampung kemarin, hanya ada teman ku saja," tutur Jihan.
"Kalau begitu aku akan menyapa teman kamu saja," ucap Malik.
"A-apa, baiklah ayo," ucap Jihan gugup, semoga saja Kinan tidak mengatakan yang bisa membuat Malik curiga nanti.
Jihan mengetuk pintu rumah Kinan, sampai beberapa hingga akhirnya Kinan muncul dari balik pintu.
"Jihan," ucap Kinan bingung.
"Selamat malam Kinan," sapa Malik.
"Jihan, kenapa kamu ke ...." Belum sempat Kinan melanjutkan ucapannya, Jihan sudah menimpali ucapnya, " Ahaha, maaf ya Kinan, aku tadi lembur jadi tidak bisa pulang seperti biasa."
Jihan mengendipkan sebelah matanya, memberi kode kepada Kinan, untung saja Kinan mengerti maksud dari kedipan mata Jihan.
"Oh iya, tidak apa-apa Jihan, kamu pasti lelah sekali ya teman," ujar Kinan yang kini tengah menjalankan perannya.
"Kalau begitu aku langsung pulang saja ya," ucap Malik pada Jihan.
"Iya hati-hati, sekali lagi terimakasih untuk tumpangannya," ucap Jihan.
"Iya sama-sama," ucap Malik.
Jihan dan Kinan, memandangi kepegian Malik yang sudah masuk kedalam mobil dan melaju pergi. Setelah memastikan Malik sudah cukup jauh, Kinan menatap Jihan sambil berpangku tangan.
"Pria itu siapa lagi?" tanya Kinan penasaran.
"Rekan kerja," ucap Jihan.
"Tapi kenapa kamu di antar kemari, bukannya ke Apartement?" tanya Kinan.
__ADS_1
"Dia itu sepupu Kak Jo," ucap Jihan kesal, karena Kinan telalu banyak tanya.
"Apa! Sepupu," ucap Kinan tak percaya.
"Sudah jangan terkejut seperti itu ... ayo antarkan aku pulang ke Apartement sekarang," pinta Jihan.
~
Mobil Kinan memasuki area apartement mewah itu, suasana sudah nampak sepi karena malam semakin larut. Jihan membuka sabuk pengaman yang ia kenakan dan hendak turun.
"Aku langsung pulang ya," ujar Kinan.
"Kamu tidak mau menginap saja disini?" tanya Jihan sambil menoleh kepada Kinan yang duduk di kursi kemudi.
"lain kali saja, aku harus menyelesaikan beberapa desai pakain malam ini," tutur Kinan.
"Oh begitu, kamu hati-hati di jalan ya, terimakasih sudah mengantarkan aku pulang," ujar Jihan.
"Iya sama-sama," ucap Kinan.
Jihan keluar dari mobil Kinan, Kinan pun langsung tancap gas pulang ke rumah. Jihan melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung apartement itu, ia melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, pantas saja ia merasa begitu lapar, karena terakhir ia makan hanya sore tadi.
Sesampainya di depan pintu, seperti biasa Jihan mengetikkan kode pintu yang sudah begitu fasi iya ketikkan. Jihan menghidupkan lampu ruang tamu dan langsung berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Jihan melihat ada beberapa Panggilan masuk dari Johan, ia berfikir mungkin Johan tidak akan datang kemari hari ini. Ia pun meletakkan ponselnya di meletakkan ponselnya di meja lampu tidur lalu beranjak masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, tubuh Jihan terasa lebih segar, ia memakai pakaian tidurnya lalu berjalan keluar dari kamar untuk pergi ke dapur, mencari sesuatu yang bisa di makan.
Saat berjalan menuju dapur, Jihan melewati ruang tengah, ia heran, kenapa televisi di ruangan itu menyala meskipun tanpa suara. Jihan terlihat ketakutan, jangan-jangan ada hantu yang menonton televisi.
Dengan kata rasa was-was yang mendominasi, Jihan berjalan menuju sofa di ruang tengah, satu langkah dua langkah dan .... Jihan sampai terperanjat kaget karena ternyata Johan berada di sana. Sedang tertidur pulas di atas sofa.
Jihan mendekati Johan yang kini sedang tertidur pulas, nafasnya teratur dengan dengkuran halus yang terdengar. Jihan mendekati Johan dan duduk bersimpuh di depan sofa tempat Johan tertidur.
Wajah tampan sang CEO yang begitu terlihat polos dalam kondisi tertidur seperti ini. Jihan menggerakkan tangannya hendak menyentuh wajah Johan yang tidak akan ia lakukan saat Johan dalam kondisi sadar.
Senyumannya mengembang tak kala jemarinya kini sudah menyentuh wajah Johan yang di begitu halus, ia menyetuh hidung, mata dan bibir Johan. Untung saja Johan tipikal pria yang kalau sudah tertidur lelap, pasti tidak akan sadar meski di pukul sekalipun.
"Aku begitu mendambakan setiap inci dari dirimu kak Jo, meskipun aku tahu aku tidak boleh sampai melewati batas ku sebagai seorang wanita biasa yang mendamba mu.
Hanya di waktu seperti ini, setidaknya aku bisa menyentuh wajahmu meski tak bisa memiliki kamu," gumam Jihan pelan.
Setelah puas bermain-main dengan wajah Johan, Jihan beranjak dari posisinya, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Johan.
__ADS_1
Bersambung 💕