
Mobil yang ditumpangi Alea kini berhenti di depan sebuah villa. Dia melihat ada mobil Kevin yang terparkir diluar. Alea keluar dari mobil yang diikuti Anton. Karena Anton juga melihat penjagaan ketat di depan gerbang.
"Ada perlu apa?!" tanya salah satu penjaga itu dengan keras.
Alea mengerutkan dahinya. Sebenarnya ini anak buah Kevin atau siapa? Apa yang dilakukan Kevin di dalam?
Alea semakin dibuat bingung dengan kondisi ini. Tapi dia sudah melangkah sejauh ini, dia tidak boleh mundur. "Apa Kevin ada di dalam?"
Penjaga itu melihat Alea dari atas sampai bawah dan berhenti di perut buncit Alea. "Ada perlu apa sama Kevin?"
"Saya istrinya."
Salah satu penjaga memberi kode.
"Iya, kamu boleh masuk. Tapi hanya kamu seorang!"
"Nyonya lebih baik kita menunggu diluar saja." kata Anton. Dia bisa merasakan jika tempat itu sangat berbahaya.
Alea menggelengkan kepalanya. Dia harus tetap bertemu Kevin untuk memastikan sedang apa Kevin di dalam sana.
Kini Alea masuk seorang diri melewati gerbang itu. Dia tidak boleh takut, karena dia pastikan semua permainan ini akan segera berakhir.
Dia membuka pintu villa itu dan berjalan masuk. Matanya membulat saat melihat Kevin sedang menghajar seseorang tapi dia semakin terkejut saat salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam dan mengarahkannya ke pumggung Kevin. Dengan cepat Alea mendorong tubuh Kevin tapi sayang sebetan pisau itu mengenai perut Alea.
"Aaaa.." Alea berteriak kesakitan bersamaan dengan keluarnya darah dari perutnya. Dia dekap luka itu dan semakin beringsut ke lantai.
"Alea!!" Kevin menahan tubuh Alea. "Tega sekali kamu menyakiti istri aku!" Napas Kevin terasa berat saat melihat rembesan darah di perut Alea dibalik dress berwarna floral yang telah terkoyak itu. "Alea bertahan sayang." Kevin melepas cardigan Alea dan menutup luka itu dengan cardigan. Dia berharap luka itu tidak sampai melukai calon anaknya.
Rendra menendang anak buahnya yang tiba-tiba main sabet itu. "Sudah aku bilang! Sebelum aku perintah, jangan bergerak sendiri!"
"Maaf bos. Saya kira seperti biasanya."
Alea menatap nanar Kevin kemudian pandangannya beralih pada Della.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang." Kevin mengangkat tubuh Alea. "Kamu akan menyesal melakukan ini pada Alea. Karena Alea itu adalah adik kandung kamu!" kata Kevin sambil melewati Rendra.
Adik kandung? Benarkah dia Ale yang selama ini aku cari?
"Kamu bohong!"
Kevin tak menggubrisnya lagi.
Rendra menatap wajah Alea yang memang sangat mirip dengan papanya. "Masukkan ke dalam mobil aku. Aku antar ke rumah sakit sekarang! Dan kalian urus wanita ini!" tunjuknya pada Della menyuruh anak buahnya, kemudian Rendra berlari dan masuk ke dalam mobil sportnya yang memiliki kecepatan balap.
Kali ini, Kevin menuruti perintah Rendra karena kecepatan mobil Rendra tidak diragukan lagi.
Kevin masuk ke dalam mobil Rendra dan semakin mendekap tubuh Alea yang kian melemas.
"Alea kamu harus bertahan." ucap Kevin begitu khawatir.
Rendra segera tancap gas dan melaju dengan kencang di jalanan. Jarak rumah sakit dari villa memang lumayan jauh.
"Apapun yang terjadi, kamu harus selamatkan anak kita. Kamu gak usah memikirkan aku," kata Alea dengan suara yang kian melemah.
Alea menggelengkan kepalanya. "Buat apa lagi aku bertahan kalau kamu sudah tidak mencintai aku lagi."
"Alea, kamu salah paham. Aku lakukan semua ini buat kamu."
"Kamu bohong!" napas Alea sudah terlihat sesak, meski matanya masih menatap nanar Kevin. "Della hamil anak kamu."
"Astaga Alea, aku berani bersumpah, aku gak pernah mengkhianati kamu."
Alea menggeleng pelan. "Aku gak tahu harus percaya lagi sama kamu atau tidak. Aku titip anak-anak ya. Sayangi mereka."
"Alea..." Kevin menepuk pipi Alea saat mata Alea kian meredup. "Sayang, kamu harus bertahan..." air mata Kevin semakin mengalir deras. Kardigan yang berwarna cerah itu, kini sudah berwarna merah darah.
Alea menggeleng pelan. "Kev, semoga kamu bahagia..." ucapan Alea yang semakin pelan itu membuat jantung Kevin bagai diremat sesuatu tak kasat mata.
__ADS_1
"Alea! Alea! Kamu harus tetap membuka mata kamu! Alea!" tubuh Alea sudah melemas. "Alea!!" Kevin semakin histeris. Dia genggam tangan Alea yang terasa dingin, dia raba detak nadi yang terasa kian melemah. Dan kemudian tangan Kevin meraba perut Alea, masih ada sedikit gerakan kecil.
Rendra semakin menambah kecepatan mobilnya. Dia menjadikan jalanan seperti sirkuit. "Sial! Kenapa di depan macet." Rendra mengeluarkan senjata apinya lalu membuka kaca mobilnya, dia keluarkan tangan dan kepalanya lalu menembak di udara.
"Minggir! Kalau tidak kalian akan aku tembak!"
Seketika pengguna jalan yang berada di depan mobil Rendra merasa ketakutan. Mereka menepi dan memberi jalan pada Rendra. Urusan dikejar polisi atau yang lainnya dia pikir belakangan. Yang terpenting dia harus memastikan keselamatan Alea. Dia harus memastikan kebenaran tentang Alea. Apa benar dia adalah adik yang selama ini dia cari? Jika memang benar, dia sudah melakukan kesalahan besar. Karena kesalahan anak buahnya, kini Alea terluka parah dan nyawanya terancam.
Kevin tak peduli dengan cara Rendra memecah kemacetan, yang penting sekarang mobil itu kembali melaju dengan kencang. Kevin semakin memeluk Alea dengan erat dan berderai air mata. Dia tidak ingin kehilangan Alea. Benar-benar tidak ingin. Beberapa hari ini dia tidak bermaksud membohongi Alea, hanya saja dia tidak ingin membawa Alea dalam bahaya. Tapi pada kenyataannya dia salah besar, hal yang dia rahasiakan justru akan membawa masalah besar untuk Alea.
"Alea, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku gak bisa hidup tanpa kamu." Kevin menciumi pipi Alea yang semakin memucat. Dia bisikkan semua ungkapan isi hatinya agar Alea punya kekuatan untuk bertahan.
Kini Rendra telah menghentikan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Dia segera membuka pintu belakang dan membantu Kevin membawa Alea keluar dari mobil.
Dokter dan suster segera menyambut mereka dengan brangkar dorong. Kemudian Kevin merebahkan tubuh Alea di atas brangkar.
"Suster segera siapkan ruang operasi. Lukanya sangat lebar, kita operasi sesar sekarang juga."
Lutut Kevin terasa semakin lemas mendengar pernyataan serius dari Dokter, tapi dia tetap mengikuti brangkar Alea yang didorong menuju ruang operasi.
"Bapak tunggu diluar ya. Tolong urus administrasi dan surat persetujuannya."
Kevin masih saja berdiri di depan pintu yang telah tertutup.
"Biar aku saja yang urus." suara Rendra hanya seperti angin lalu di telinga Kevin.
Kevin kini bersandar di tembok dekat pintu operasi. Dia semakin beringsut duduk di lantai. Semua rasa bercampur menjadi satu. Sedih, kecewa, menyesal, dan takut kehilangan. Dia usap wajahnya yang basah karena air mata.
Alea, kamu harus bertahan. Kalau kamu memang gak mau bertahan buat aku, tolong kamu bertahan buat anak-anak kita yang sangat membutuhkan kamu...
💞💞💞
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen...