Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.9


__ADS_3

Hari ini Jihan nampak sangat bersemangat, setelah selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamar untuk ikut sarapan bersama Mela dan Nino. Mela dan Nino terpana melihat penampilan jihan yang sedikit berbeda, lebih fashionable dengan make up tipis.


Jihan memutar-mutar badannya, seolah ingin memamerkan penampilannya hari ini kepada tante dan keponakannya.


"Bagaimana?" ucap jihan pada Nino dan Mela.


"Cantik, baju baru?" tanya Mela.


"Hehe, hadiah dari Kinan," ucap jihan yang kini sudah beranjak duduk di samping Nino.


"Ternyata pakaian pun bisa mengubah Upik abu jadi Cinderella," ejek Nino.


"Iri bilang bos," ucap Jihan pada adik sepupunya itu.


"Kenapa juga aku harus iri," delik Nino.


"Sudah-sudah ayo sarapan, jangan bertengkar terus," ucap Mela berusaha melerai.


~


Jihan sedang menunggu di halte bus, akhirnya ia kembali menunggu bus di halte ini, karena memang perusahaan tempat Jihan bekerja sekarang, berada di daerah yang sama dengan sekolahnya dulu.


Saat ia bekerja, ia tidak pernah naik bus karena jarak dari rumah dan minimarket tempatnya bekerja cukup dekat, ia hanya perlu berjalan kaki saja untuk sampai ke tempat kerjanya.


Tiba-tiba saja, bayangan itu datang lagi. bayangan saat johan sedang duduk di atas motor sambil mengulurkan helm padanya, dengan senyuman manis dan kedipan matanya yang menghanyutkan.


Buru-buru jihan menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan itu dari kepalanya.


Sudah tujuh tahun dan kenapa tiba-tiba bayangan itu kembali datang, seharusnya jihan tak mengingatnya lagi, cinta itu sudah lama mati, tidak ada lagi yang perlu di ingat dan di kenang.


Namun jika jihan benar-benar sudah melupakan johan, kenapa ia belum bisa membuka hatinya untuk pria lain, apa dalam waktu tujuh tahun, satu nama itu belum benar-benar terhapus dari hati Jihan.


Jihan kembali tersadar saat suara bus berhenti membuyarkan lamunannya. Tanpa fikir panjang Jihan langsung naik ke dalam bus, yang kini sudah sesak penuh penumpang, apa boleh buat, ia harus berdiri sampai ada tempat duduk yang kosong, atau mungkin ia harus terus berdiri hingga ia sampai ke tempat tujuan.


Dan benar saja, selama perjalanan kurang lebih setengah jam, ia harus menahan pegal di betisnya karena tidak juga ada tempat yang kosong. Ia mengutuk dirinya karena tidak membawa sendal saat bepergian, setidaknya selama perjalanan, kakinya tidak akan terasa sakit akibat sepatu high heels.


~


Jihan menarik nafas panjang sebelum memasuki gedung pencakar langit milik king group.


"Semoga saja semua berjalan lancar untuk ku dan pekerjaanku," ucap Jihan.

__ADS_1


Jihan Melangkahkan kakinya masuk, sesampainya di loby, tiba-tiba dari arah belakang seorang menepuk pundaknya, sontak jihan langsung menoleh.


"Kamu Jihan Oktavia, benar kan?," ucap seorang lelaki berperawakan tinggi dan cukup tampan.


"Ah iya ... kamu siapa?" tanya jihan.


"Kita sama-sama lulus interview Waktu itu, sekarang kita satu ruangan di bagian keuangan," ujar pria itu.


"Benarkah ... salam kenal, aku Jihan," ucap jihan sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Malik," ucap pria itu.


"Tapi dari mana kamu tahu kita satu ruangan?" tanya jihan.


"Semuanya tertulis di website perusahaan, photo kamu saja ada disana," ucap pria itu


"Begitu, o iya apa kamu tahu ruangan bagian staf keuangan dimana?" tanya jihan.


"Tahu, ayo pergi bersama," ajak malik.


" Terimakasih, ayo."


Jihan dan Malik beranjak masuk kedalam lift bersama, Malik tak hentinya melirik Jihan. Malik sudah memperhatikan Jihan sejak pertama kali mereka bertemu di ruangan interview, meski jihan tidak sadar jika malik memperhatikannya.


Sekarang jihan dan Malik sudah berada di depan pintu ruangan staf keuangan, ia memegang handel pintu, dan langsung membuka pintu itu perlahan, mengintip sedikit barulah kemudian, membuka pintu itu secara perlahan.


"Selamat pagi," ucap jihan dan Malik bersamaan.


Ada tiga orang staf dan satu kepala staf di ruangan itu, mereka sontak Berbalik, melihat ke arah sumber suara.


"Wah, karayawan baru kita sudah datang," ucap pak Kus saat melihat kedatangan jihan dan Malik.


Jihan dan Malik, berjalan menghampiri pak Kus, "Silahkan perkenalkan diri kalian, karena nantinya kalian akan berkerja sama sebagai tim," ujar pak kus.


Jihan dan Malik saling menatap, baik jihan ataupun Malik sama-sama Memberikan kode, siapa yang akan memulai terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, karena jihan tak mau memulai, akhirnya Malik, berinisiatif untuk memulai terlebih dahulu.


"Ehm ... perkenalkan, saya Malik Wijaya, untuk kedepannya saya mohon bimbingan dari rekan semua," ujar Malik.


Setelah selesai, kini giliran Jihan untuk memperkenalkan diri, jihan maju satu langkah, satu orang laki-laki dan dua orang perempuan yang bekerja sebagai staf di ruangan itu, fokus memperhatikan Jihan, sontak jihan langsung grogi.


"Pe ... perkenalkan nama saya Jihan Oktavia, mohon bimbingannya," ucap jihan, kemudian kembali ke posisi semula di samping Malik.

__ADS_1


" Jihan, Malik ... tiga orang di hadapan kalian itu adalah Cika, jeny dan Rendi.


"Selamat datang di tim ya," ucap jenny Ramah.


"Jangan sungkan untuk bertanya," ucap rendy.


" Emm, aku mau bilang apa ya .... o itu, jika kalian membutuhkan ,tas, ataupun sepatu untuk bekerja, kalian bisa mengatakan padaku, tenang saja, ada diskon untuk sesama tim," ucap Cika yang malah mempromosikan dahaganya.


"Ish, kok malah promosi sih," ucap jenny kesal.


"Habis aku tidak tahu harus bilang apa, hehe," ucap cika.


"Ampun deh," ucap jenny lalu menepuk jidatnya.


Jihan, dan Malik hanya terkekeh, mendengar perdebatan antara jenny dan Cika, Sepertinya ini akan menjadi awal yang baik untuk tim mereka.


~


California, Amerika.


Di sebuah restaurant bintang lima di pusat kota, Johan dan Vita sedang makan malam bersama, malam ini adalah malam terakhir Johan di amerika, untuk itu ia mengajak sahabatnya itu untuk makan malam bersama.


Sudah tujuh tahun ini, johan menetap di amerika, Sementara Vita bolak balik, indonesia- amerika.


Dan sudah tujuh tahun pula vita mencoba untuk mendapatkan hati johan, namun gagal, sudah segala macam cara Vita coba, namun pada saat johan mulai jenuh menghadapi vita, Johan pun akhirnya mengatakan, "Kalau kamu masih mau melihat ku, jangan pernah menyatakan perasaan kamu lagi, atau berusaha menggoda ku, karena aku benci itu."


Dan pada saat itu, Vita tidak lagi berusaha untuk menyatakan perasaannya kepada johan, ia tidak ingin johan menjauh darinya, meski ia masih sangat mengharapkan johan.


"Kamu yakin akan kembali ke indonesia?" tanya Vita sambil mengiris steak daging yang ada di hadapannya.


"Begitulah, ayah ingin aku kembali, untuk mengambil alih perusahaan," ujar johan sambil terus menggoyangkan gelas berisi minuman favorit yang ada di tangannya.


"Sepertinya kamu sudah benar-benar siap untuk kembali, setelah tujuh tahun, bersembunyi," ucap Vita.


"Apa maksudmu?" tanya johan, mendelik tajam.


"Tidak, aku hanya asal bicara, habiskan makananmu, malam ini aku yang traktir," ucap vita mencoba mengalihkan pembicaraan.


Johan meneguk kembali sisa minuman di gelasnya hingga habis, ia tahu betul arah pembicaraan vita. Sudah tujuh tahun, johan berfikir ini adalah waktu yang tepat untuk kembali, Ia ingin memulai kehidupannya yang baru sebagai pengusaha muda yang sukses.


Ia sudah membuang jauh-jauh separuh jiwanya yang telah menggoreskan luka yang masih menimbulkan trauma, baginya semua wanita itu sama saja, tidak ada yang bisa di percaya, semuanya pembohong, semuanya penggoda, dan semua wanita itu menjijikkan. tapi bukan berarti Johan tidak menyukai wanita lagi, namun baginya kini, pekerjaan adalah pasangan yang tidak akan mengkhianatinya.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2