Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.61


__ADS_3

Johan baru saja pulang dari kantor. Sekarang ia dalam perjalanan menuju apartement. Tak lupa tadi ia sudah mampir untuk membeli makanan di restaurant biasa.


Johan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jihan. Rasanya seperti akan pulang untuk bertemu istri tercinta saja. padahal status hubungan saja belum jelas.


Johan seakan lupa tentang Pertunangannya yang akan di gelar sebentar lagi. Telpon dan pesan dari Vita pun take ia hiraukan lagi. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Jihan dan Jihan.


Setelah sampai di basement apartement, Johan mengeluarkan makanan yang ia letakkan di bagasi belakang, makanan yang ia beli cukup banyak karena ia pikir Nino dan Mela masih berada di apartemennya.


Johan membuka pintu tanpa membunyikan bel terlebih dahulu. Saat masuk ke dalam ia bingung karena situasi nampak sepi, tak ada suara sedikitpun bahkan lampu ruang tamu juga padam.


Johan meletakkan makanan yang ia beli di atas meja makan, ia berjalan dengan cepat menuju kamar Mela dan Jihan berada. Ia khawatir kalau-kalau Jihan, Mela dan Nino pergi dari apartement itu.


Johan mengetuk pintu kamar Mela terlebih dahulu, namun tak ada jawaban, ia membuka pintu dan tak ada orang. Johan semakin Panik, langkahnya semakin dipercepat menuju kamar Jihan yang letaknya ada di bagian paling sudut.


Johan sudah menduga jika pasti Jihan juga tidak ada di dalam kamar, jadi tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dulu, Johan langsung masuk dan ternyata Jihan ada di dalam kamar. ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Mata Johan membulat saat melihat Jihan hanya mengenakan handuk di yang hanya menutupi sebagian pahanya dengan rambut yang masih setengah basah.


Bisa di bayangkan apa yang di rasakan Johan kini, ia menelan ludahnya beberapa kali sampai Jihan tersadar jika Johan sedang berdiri di ambang pintu.


Kyaakkk.


Jihan berteriak sambil menutupi bagian depan tubuhnya, dengan capat Johan menutup pintu lagi dan langsung berjalan menajauh dari kamar Jihan. Bulu kuduknya pun jadi merinding karena melihat pemandangan seperti tadi.


Setelah beberapa saatJihan keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan baju tidur yang cukup tertutup. Jihan menghapiri Johan yang sedang duduk di atas sofa ruang tengah.


"Kenapa tadi langsung masuk saja, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu," protes Jihan.


"Maaf, aku tadi terlalu panik, karena aku fikir kamu pergi ... Nino dan tante kamu kemana?" tanya Johan.


"Tante dan Nino pulang kampung sebentar, aku juga akan menyusul setelah mendapatkan izin dari pak kus," tutur Jihan lalu ikut duduk di samping Johan dengan jarak sekitar setengah meter.


"Ada urusan apa hingga harus pulang mendadak?" tanya Johan.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, keluarga di kampung Khwatir dengan kondisi tante, Nino dan aku setelah rumah kami terbakar," tutur Jihan sambil menoleh kearah Johan.


"Padahal aku membeli makanan banyak sekali," ucap Johan.


"Makanan, dimana?" tanya Jihan yang nampak kelaparan.


"Di atas meja makan," tutur Johan.


Jihan beranjak dari duduknya Menuju meja makan. Ia benar-benar lapar karena seharian tak selera makan. Tak lama Johan juga ikut menyusul ke ruang makan.


Jihan mengeluarkan box-box berisi makanan itu, ia langsung terpana dengan berbagai macam lauk pauk yang kini sudah berpindah ke atas meja makan. Johan menghapiri Jihan yang kini fokus pada makanan di hadapannya, ia tersenyum senang melihat Jihan yang kelihatan senang, tak ada lagi rasa sedih seperti kemarin.


"Kamu lapar?" tanya Johan.


"Iya ... kenapa membeli lauk sebanyak ini, meskipun tante dan mela ada di sini, tetap saja lauk ini terlalu banyak," ucap Jihan.


"Aku tidak tahu Tante dan Nino suka makanan apa, aku hanya tahu makanan kesukaan kamu saja, cumi telur dan ayam bakar, jadi aku beli saja semua yang ada di menu," tutur Johan.


Jihan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap heran Johan yang ada di sampingnya. Johan memang tidak pernah merasakan yang namanya kehabisan uang, jadi apapun ia bisa beli. Tidak seperti Jihan yang harus berfikir seribu kali sebelum memutuskan membeli sesuatu.


"Terserah kamu saja," ucap Johan.


Setelah makanan tertata rapi fi atas meja makan, Jihan dan Johan kini sudah duduk berhadapan untuk menikmati makan malam mereka. Johan memperhatikan Jihan yang nampak sangat lahap dengan makan malamnya. Ia tersenyum karena Jihan sudah lebih baik dari kemarin.


"Aku akan membayar semua waktu yang telah kita lewatkan selama tujuh tahun ini, aku tidak akan membiarkan kamu menangis sendirian lagi dan melalui hari yang berat tanpa kehadiran ku," Batin Johan.


Setelah selesai makan malam, Johan duduk di ruang tengah sambil menonton acara televisi Favoritnya, sudah sedewasa ini Johan masih menyukai film kartun. Jihan muncul dari arah dapur, dengan membawa buah yang sudah di potong-potong di atas piring.


Diletakkannya piring itu di meja yang ada di hadapan Johan kemudian ikut duduk di samping Johan yang tengah serius menonton film kartun kesukaannya.


"Masih suka film kartun?" tanya Jihan tiba-tiba.


Johan menoleh kesamping dimana Jihan berada, "Iya, bukanya lebih menyenangkan menonton film kartun dari pada drama sinetron ku menangis di stasiun televisi sebelah, haha" ucap Johan lalu terkekeh sendiri.

__ADS_1


"Kamu ada-ada saja, makan buah ini, setelah itu kamu harus pulang," ujar Jihan.


"Apa kamu tidak takut tinggal sendirian di sini?" tanya Johan.


Jihan terdiam sesaat sambil menatap Johan penuh rasa curiga, ia tahu maksud dari pertanyaan Johan tadi, " Tidak, aku tidak takut sama sekali."


"Kamu serius?" tanya Johan lagi.


"Iya, kenapa? Kamu mau menginap?" tanya Jihan balik


"Apa boleh?" tanya Johan penuh harap jika Jihan akan memperbolehkannya.


"Tidak," tegas Jihan.


"Ya baiklah, aku akan pulang nanti," ucap Johan penuh rasa kecewa.


Jihan tak berbicara apapun lagi, ia mengambil sepotong apel, lalu kemudian memakannya. Baik ia ataupun Johan tak ada yang berbicara lagi. Johan sibuk menonton acara televisi kesukaannya, sementara Jihan duduk bersandar di sampingnya.


Sesekali Jihan melirik Johan yang tertawa saat menyaksikan adegan lucu di film kartun itu. Ingin rasanya Jihan bertanya tentang kapan acara pertunangan Johan dan Vita akan di gelar, namun Jihan takut tidak akan bisa menahan perasaannya dan malah membuat Johan mengetahui jika ia begitu terluka karena. pertunangan itu.


Malam makin larut, Johan hendak pamit untuk pulang, ia meraih jasnya yang ia letakkan di atas sofa. Johan terlihat kesusahan saat akan mengancing lengan kemejanya yg tadi ia lepas saat akan makan malam.


Reflek Jihan Mendekat untuk membantu Johan , Johan nampak kaget pada awalnya namun tersenyum pada akhirnya.


Johan Memperhatikan Jihan yang nampak serius mengancingkan kemejanya. Jarak mereka begitu dekat hingga Johan bisa merasakan harum tubuh Jihan. Ia selalu lemah jika sedang dalam posisi seperti ini. Di tariknya pinggang Jihan sampai menempel pada tubuhnya.


Suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang, Jihan dan Johan saling menatap lekat. Tubuh Jihan benar-benar terasa kaku saat ini.


"Ke-kenapa?" tanya Jihan terbata-bata.


Johan mendekatkan wajahnya, sontak Jihan memejamkan matanya dan satu kecupan mendarat di dahi Jihan. Jihan membuka matanya, ia mengira Johan akan mencium bibirnya, ternyata ia berpikir terlalu jauh.


Jihan bisa bernafas lega saat Johan menjauh darinya, Johan tersenyum sambil membelai pucuk kepala Jihan dengan lembut kemudian berkata, " Sampai jumpa di kantor besok."

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2