
Johan memasuki ruang kerja ayahnya. Ia menghampiri sang ayah yang sedang fokus membaca koran yang ada di tangannya.
"Ayah serius sekali membacanya," ucap Johan yang sudah duduk di hadapan Ayahnya.
"Kamu sudah datang," ucap Toni sambil melipat koran itu, lalu meletakkannya di atas meja.
"Kenapa ayah tidak memberitahu ku, jika ayah akan pulang. Aku kan bisa menjemput ayah di bandara," ujar Johan.
"Ah itu ... ayah tidak ingin menggangu orang sibuk seperti mu," ucap Toni.
"Tidak ada kata sibuk untuk ayah, aku selalu ada waktu," tutur Johan.
"Kamu bisa saja, Tama bilang kamu berhasil mendapatkan proyek pembangunan resort di Malaysia?" tanya Toni.
"Iya yah, bulan depan akan segera di mulai," jawab Johan.
"Oh iya, ayah memanggil kamu kemari untuk menanyakan masalah ulang tahun perusahaan, bagaimana persiapannya?" tanya Toni.
"Persiapan sudah lima puluh persen, Besok aku akan meninjau lokasi acara," Jawab Johan.
"Bagus, pesta kali ini harus meriah, karena ayah akan memberikan pengumuman penting di acara itu," tutur Toni.
"Pengumuman, apa masud ayah?" tanya Johan bingung.
"Nanti kamu akan tahu sendiri," ucap Toni.
~~
Vita sedang berada di ruang keluarga bersama dengan kedua orangtuanya. Wajahnya begitu sumbringah karena baru saja mendapatkan kabar bahagia menyangkut rencana pertunagan yang di rancang orang tuanya dan orang tua Johan.
"Apa benar yang papa dan mama bilang, aku harap ini bukan mimpi," ucap Vita.
"Tentu saja, papa sudah membicarakannya dengan ayah Johan kemarin, di acara ulang tahun perusahaan mereka, kamu akan di perkenalkan sebagai calon istri Johan," tutur beni.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu akan segera mendapatkan apa yang selalu kamu dambakan selama ini," ucap Veni.
"Iya ma, aku sangat senang sekali," ujar Vita.
"Tapi ... kamu jangan mengatakan hal ini kepada Johan, karena ini akan menjadi kejutan untuknya," tutur Beni.
"Iya pa, aku mengerti," ucap Vita.
__ADS_1
Vita benar-benar merasa senang karena impiannya sejak dulu akhirnya akan segera terwujud. Iya tidak perduli Johan menyetujui hal ini atau tidak. Yang ia pikirkan hanyalah kebahagiaannya sendiri, ia ingin menunjukkan kepada dunia, terutama kepada Jihan, jika Johan adalah miliknya.
Bahkan Vita sudah melupakan jika saat ini dirinya sudah tidak perawan lagi. Ia sudah menyerahkan mahkotanya kepada pria asing yang di temuinya di bar.
~
Pagi hari di ruangan departemen keuangan, Jihan baru saja tiba namun, para rekannya sudah berhambur menghapiri Jihan di mej kerjanya.
Bukan tanpa alasan, tapi karena hari ini adalah hari terakhir Jihan untuk menerima atau tidak tawaran dari pengusaha dari Malaysia yang menawarinya perkejaaan.
"Bagaimana, apa keputusan kamu?" tanya pak Kus.
"Iya Jihan, apa kamu akan pergi ke Malaysia?" tanya Rendy.
"Ini hari terakhir," ucap Jenny.
Jihan sampai kebingungan harus menjawab yang mana terlebih dulu. Ia baru saja tiba dan langsung di ajukan pertanyaan seperti ini.
"Tidak ... aku tidak akan pindah," ujar Jihan.
"Apa? jadi kamu menolak?" tanya Cika.
"Iya, aku lebih senang bekerja disini," jawab Jihan.
Sebenarnya Malik akan lebih senang jika Jihan menerima tawaran itu. Karena jika Jihan pindah, otomatis Jihan tak akan bertemu Johan lagi dan ia sendiri akan ikut pindah ke Malaysia dan mengurusi cabang showroom mobil import yang ada di sana.
Namun sepertinya Malik harus memendam dalam-dalam keinginannya karena Jihan tidak menerima tawaran itu.
Mendengar jawaban Jihan semua nampak senang, jika Jihan pindah mereka akan susah mencari staf baru seperti Jihan.
~~
Persiapan ulang tahun perusahaan sudah mencapai tujuh puluh persen, Johan dan Raksa memasuki ballroom hotel yang akan menjadi tempat pesta.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Johan dan Raksa sedang meninjau persiapan pesta. Johan tersenyum puas saat melihat pengerjaan dekorasi yang sangat cepat.
"Apa ada yang kurang dari dekorasinya tuan," tanya Raksa.
"Semua sudah bagus, tetap pantau perkejaaan mereka, aku akan kembali ke kantor,"ucap Johan.
"Baik tuan ... tapi apa tidak apa-apa, jika tuan meneyetir sendiri?" tanya Raksa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu tetaplah di sini," ucap Johan.
Johan melangkah pergi dari ballroom hotel itu, ia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Bukan tanpa alasan ia ingin cepat-cepat kembali ke kantor, ia ingin bertemu dengan Jihan, sejak pagi yang belum sekalipun melihat wajah cantik pujaan hatinya itu.
Dan ia juga ingin memastikan jika Jihan tidak menerima tawaran perusahaan dari Malaysia itu.
Sepertinya Johan tepat waktu, saat ia sampai ke perusahaan para karyawan sudah berhamburan keluar. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak turun dan menunggu Jihan keluar dari dalam mobil saja.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Jihan keluar bersama dengan jenny, Cika dan Malik. Cika dan Jenny beranjak pergi, tinggallah Jihan dan Malik yang masih mengobrol di halaman Kantor.
Johan menatap tajam kearah Jihan dan Malik, ia begitu kesal melihat ke akraban yang terjalin antar keduanya. Setelah kurang lebih dua puluh menit menunggu, akhirnya Malik pergi juga, tinggallah Jihan sendiri.
Jihan berjalan menuju halte, ia tidak sadar jika ada sebuah mobil sedan yang mengikutinya dari belakang.
Piiiittt.
Johan membunyikan klakson mobilnya, dan membuat Jihan terperanjat kaget. Jihan menoleh ke belakang dan melihat mobil yang tidak asing baginya. Sedetik kemudian ia sadar jika itu adalah mobil Johan.
Johan keluar dari dalam mobil dan menghapiri Jihan. Jihan melihat ke sekitarnya, untung saja sudah sepi. karena para karyawan lain sudah pulang sejak tadi.
"Kenapa mengahampiri ku disini, bagaimana jika ada yang melihat kita," ujar Jihan kesal.
"Aku hanya ingin memastikan kamu masih berada di sini dan tidak kemana-mana," ucap Johan.
"Memangnya aku akan kemana," ucap Jihan.
"Ayo ikut aku," ucap Johan sambil meraih tangan Jihan dan menggenggamnya.
"Memangnya kita akan kemana lagi, kemarin kan sudah," ucap Jihan berusaha melepaskan genggaman tangannya namun sepertinya tidak bisa, karena Johan mengengamnya dengan sangat erat.
"Hanya sebentar saja, ayo ikut aku," ucap Johan .
Johan menuntun Jihan agar masuk kedalam mobil, Jihan pun menyerah, ia tidak bisa menolak lagi, karena kini dirinya sudah berada di dalam mobil. Saat ini Jihan juga sudah lelah menghidar dari Johan, jika pada akhirnya ia juga tetap akan merasakan getaran itu juga, ia akui ia masih mencintai Johan.
Sebelum saat dimana Johan akan di jodohkan dengan Vita tiba, Jihan hanya ingin merasakan kasih sayang Johan meskipun hanya sebentar. Kalau pun pada akhirnya ia akan terluka, Jihan sudah siap akan hal itu, siap terluka, siap untuk kembali menagis dan siap untuk kembali terpuruk lalu pergi.
Entah kemana Johan akan membawanya kali ini, kemarin di danau dan sekarang kemana lagi Johan akan membawanya, itu hanya Johan dan tuhan yang tahu.
Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sementara itu dari jarak dua puluh meter seorang wanita yang tidak lain adalah Vita, sedang duduk di kursi kemudi mobilnya yang terparkir di bahu jalan.
Amarah yang kini sudah menguasai diri Vita, membuat ia melampiaskannya dengan memukul-mukul setir mobilnya.
__ADS_1
"Sial! awas saja kamu Jihan, sebentar lagi kamu akan menangis karena Johan hanya akan menjadi milikku," pekik Vita sendiri.
Bersambung 💓