Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa nangis?" tanya Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Alea sedang menangis terisak sambil memegah ponselnya.


"Reka digigit ular, Kev."


Seketika Kevin terkejut. "Kok bisa!"


Alea menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tahu. Kita rumah sakit sekarang ya."


"Tapi jauh rumah sakitnya. Kamu di rumah saja ya sama Raffa, biar aku yang ke sana," kata Kevin.


Alea menggelengkan kepalanya. "Tapi Reka juga butuh aku."


Kevin menghela napas panjang dan berpikir sesaat. "Ya udah, kita ke sana sama Raffa dan ajak Bi Sum juga. Aku pesankan hotel terdekat. Biar Raffa dan Bi Sum tunggu di hotel selama kamu di rumah sakit. Tapi kamu juga harus bisa bagi waktu ya, antara jaga Reka, jaga Raffa, dan jaga diri kamu sendiri." kata Kevin sambil mengusap perut Alea.


Alea menganggukkan kepalanya. "Ya udah aku siapkan dulu keperluan Raffa."


"Iya, aku bantu. Aku masukkan beberapa ASIP ke cooler bag ya."


Alea menganggukkan kepalanya lalu dia segera mengambil tas dan memasukkan perlengkapan Raffa. Begitu juga dengan Kevin, dia menyuruh Bi Sum dan Anton untuk bersiap terlebih dahulu lalu mengambil cooler bag.


Setelah siap, malam itu mereka semua segera meluncur menuju rumah sakit yang berada di dekat puncak. Sepanjang perjalanan Alea sudah tidak tenang. Dia ingin segera melihat keadaan Reka.


"Sayang, jangan terlalu stress. Gak baik buat kamu." Kevin memangku Raffa yang sedang tertidur dengan satu tangannya kini merengkuh bahu Alea.


"Aku khawatir dengan keadaan Reka." Alea masih saja mengerutkan dahinya. Dia belum tenang jika belum melihat keadaan Reka.


"Reka pasti baik-baik saja."


"Niko, gimana sih jaganya sampai bisa kejadian kayak gini."


"Sssttt, udah jangan nyalahin siapa-siapa. Kita semua juga gak mau hal kayak gini terjadi."


Alea pun terdiam sambil menghela napas panjang berusaha mengontrol emosinya.


"Sini, sandaran aku kalau kamu mau tidur." Kali ini Kevin harus jadi suami yang kuat. Dia harus bisa menjadi sandaran untuk istri dan anak-anaknya. Dia juga harus bisa menjadi penenang untuk Alea.


Beberapa saat kemudian Alea pun tertidur di bahu Kevin. Tangan kanan Kevin memegangi Raffa yang masih terlelap sedangkan bahu kirinya menjadi sandaran Alea.


Setelah dua jam berlalu, mobil itu berhenti di tempat parkir hotel yang telah dipesan Kevin.


"Sayang, sudah sampai. Kita ke hotel dulu buat nidurin Raffa."


Alea mengerjapkan matanya. "Sini biar aku gendong."

__ADS_1


"Biar digendong Bi Sum saja." Bi Sum yang telah membukakan pintu mobil untuk mereka, segera meraih tubuh Raffa. Raffa menguap panjang dan mulai membuka matanya.


Mereka segera masuk ke dalam hotel, lalu mengambil kunci di resepsionis terlebih dulu, kemudian naik ke lantai dua. Setelah sampai di depan kamar mereka, mereka segera masuk ke dalam kamar.


"Raffa kamu minumin dulu baru kita berangkat ke rumah sakit." Kevin meletakkan barang bawaannya di atas meja lalu dia duduk di sofa sambil menunggui Alea. Dia mengambil ponselnya dan bertanya ruangan Reka pada Niko.


Setelah Raffa kenyang, Alea menitipkan Raffa pada Bi Sum. "Sayang, Mama tinggal sebentar. Yang pintar ya sama Bi Sum. Mama mau lihat keadaan kakak dulu." Alea mencium kedua pipi Reka.


"Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya." pesan Kevin.


"Iya Tuan."


Kevin dan Alea segera keluar dari kamar hotel. Dia segera menuju rumah sakit.


Tak butuh waktu lama karena jarak hotel dan rumah sakit yang dekat, Kevin dan Alea sudah sampai di rumah sakit. Mereka segera menuju ruangan Reka.


Setelah masuk ke dalam ruangan Reka, Alea setengah berlari menghampiri Reka yang tengah tertidur. Air mata itu kembali menetes kala melihat telapak kaki Reka yang terbalut perban dan terlihat membengkak.


Kevin menghapus air mata Alea yang meleleh. Dia gelengkan kepalanya pertanda jika Alea tidak boleh menangis.


"Mama..." seolah terasa, Reka kini membuka matanya dan tangannya meraih tubuh Alea. "Mama, kaki Reka sakit. Gak bisa digerakkan."


"Iya sayang, besok pasti sembuh." Alea kini duduk di tepi brangkar dengan tangan yang terus mengusap rambut Reka. "Bagaimana Reka bisa digigit ular? Reka main di luar?"


Alea menghela napas panjang sambil menatap tajam Niko sesaat. "Reka sudah makan?"


"Sudah, barusan disuapi Bunda," jawab Reka.


"Ya sudah, Reka sekarang tidur ya. Mama temani."


"Adik Raffa dimana Ma? Kasihan kalau adik Raffa sendiri."


Alea tersenyum kecil. Sebagai seorang kakak, Reka memang selalu menyayangi adiknya. "Adik Raffa sama Bi Sum di hotel. Nanti kalau Raffa sudah tidur, Mama kembali ke hotel ya menemani Adik Raffa. Terus besok pagi-pagi Mama ke sini lagi. Hotelnya dekat nanti kalau Reka ada apa-apa langsung telepon biar Mama langsung ke sini."


"Iya Ma. Adik Raffa kan belum makan, cuma minum ASI dari Mama. Kasihan kalau ditinggal lama-lama."


Alea mencium kening Reka. Lalu dia buai Reka dengan usapannya agar kembali tertidur.


Alea pandangi wajah pulas Reka yang sedang tertidur. Sedangkan dalam hatinya terus berdo'a untuk kesembuhan Reka. Cukup lama, sampai hampir dua jam Alea tetap dalam posisi.


"Sayang kalau kamu capek kita kembali ke hotel ya," ajak Kevin. Dia bisa melihat raut lelah di wajah Alea.


Alea menganggukkan kepalanya karena sebentar lagi Raffa juga pasti akan minta minum.

__ADS_1


Perlahan Alea berdiri. Dia menghampiri Niko dan Luna yang sedang duduk di sofa.


"Nik, lain kali tolong jaga Reka lebih hati-hati."


"Iya Lea, aku juga gak mau kejadian ini terjadi."


Alea menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.


"Sayang, ayo ke hotel dulu. Kamu istirahat dulu ya."


Alea menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri tapi tiba-tiba perutnya terasa kram.


"Sayang kenapa?" seketika Kevin panik saat melihat Alea memegangi perutnya sambil meringis.


"Perut aku tiba-tiba kram."


Kevin merengkuh tubuh Alea dan menuntunnya untuk duduk kembali.


"Bu Alea minum dulu." Luna memberikan air mineral pada Alea.


Kevin membantu Alea minum dengan memegangi botol itu. "Kamu sedari tadi belum minum."


Setelah habis setengah Alea menyudahi minumnya.


"Udah gak kram?" tanya Kevin sambil mengusap lembut perut Alea.


Alea hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan berpegangan Kevin, Alea berdiri lalu melangkahkam kakinya.


"Kita kembali ke hotel dulu." kata Kevin berpamitan pada Luna dan Niko.


Mereka keluar dari ruangan Reka. Baru saja sampai di ambang pintu, tubuh Alea tiba-tiba melemas.


"Alea!!"


.


.


💞💞💞


.


Sepi banget... 😥 Jangan lupa like dan komen..

__ADS_1


__ADS_2