
Raksa memasuki sebuah butik yang di maksud Johan. Ia melihat layar ponselnya, membuka pesan yang di kirimkan Johan padanya, untuk memastikan jika ia tidak salah alamat.
Langkah kakinya memasuki butik itu, Raksa menggedarkan pandangannya melihat kesekeliling butik yang di penuhi baju wanita, saat tengah sibuk memperhatikan sekeliling isi butik, sekarang pelayan butik itu datang menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan butik itu pada Raksa.
"Apa Nona Kinan ada?" tanya Raksa balik.
"Apa tuan sudah membuat janji?" tanya pelayan itu lagi.
"Saya minta tolong, katakan pada Nona Kinan, jika saya di utus oleh tuan Johan Alexander untuk menemuinya," tutur Raksa pada pelayan toko itu.
"Ah baik, silahkan duduk dulu tuan," ucap pelayan toko itu.
Raksa Melangkahkan kakinya, duduk di sebuah sofa yang tersedia di tengah ruangan, ia terkagum-kagum melihat desain butik yang stiap detail ruangannya mengambil tema bunga sakura.
~
Sementara itu di ruang kerjanya Kinan seperti biasa sedang menggambar desain pakaian pesanan kliennya, fokusnya kembali teralihkan saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Masuklah," ucap Kinan.
Pelayan butik itu melangkah mendekati Kinan. Kinan pun kini sudah beralih menatap karyawannya itu.
"Ada apa?" tanya Kinan.
"Ada seorang laki-laki yang ingin menemui anda nona, orang itu bilang jika dia di utus oleh Johan Alexander," tutur pelayan butik itu.
"Oh baiklah, aku akan segera ke depan," ucap Kinan.
Pelayan butik itu keluar terlebih dahulu, sementara Kinan sedang membereskan meja kerjanya dari tumpukan kertas yang berserakan di mana-mana.
Raksa masih menunggu di sofa, sambil terus melihat jam di tangannya. yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Tak lama pelayan butik itu kembali menghampiri Raksa.
"Nona kinan akan segera menemui anda, mohon untuk menunggu sebentar," ujar pelayan toko itu.
"Iya baiklah, terimakasih," ucap Raksa.
Pelayan butik itu meninggal Raksa sendiri Raksa mulai jenuh menunggu, ia mengambil ponselnya di saku celananya untuk melihat jadwal Johan hari ini.
Raksa membulatkan matanya saat melihat jadwal rapat yang akan di mulai setengah jam lagi.
"Permisi apa anda utusan Johan Alexander?" tanya Kinan yang kini sudah berada di hadapan Raksa.
Raksa yang tadinya fokus melihat jadwalnya kini beralih mendongak melihat wanita yang kini sudah ada di hadapannya. Bukannya menjawab pertanyaan Kinan, Raksa hany terdiam dengan mulut menganga, seolah sedang tersihir oleh wanita yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Hey kenapa bengong," tegur Kinan sambil menepuk pundak Raksa.
Raksa akhirnya tersadar, ia berdiri dari tempat duduknya dan langsung menormalkan diri dari lamunannya.
"Ah be-benar, saya di utus oleh tuan Johan untuk membeli beberapa pakaian yang sesuai dengan ukuran Jihan," ujar Raksa.
Kinan mengeryitkan dahinya, ia masih bingung dengan ucapan Raksa. Melihat Kinan yang sepertinya masih bingung, akhirnya Raksa kembali menjelaskan maksudnya tadi.
"Jadi begini, tadi di kantor Jihan mengalami sebuah insiden yang membuat Pakaiannya robek, jadi bos saya, ingin membelikan pakaian untuk Jihan," tutur Raksa.
"Tapi Jihan baik-baik saja kan?" tanya Kinan dengan raut wajah khawatir.
"Iya Jihan baik-baik saja," jawab Raksa.
"Syukurlah, tunggu sebentar. Akan saya pilihkan beberapa pakaian untuk Jihan," ucap Kinan.
Kinan berbalik untuk mengambil beberapa pakaian kantor yang sesuai ukuran dan style yang biasa Jihan kenakan. Sementara itu Raksa kembali duduk di sofa, ia melihat Kinan dari kejauhan, Raksa benar-benar terpana pada pandangan pertama, Jika semua orang mengatakan Jihan sangat cantik, maka di mata Raksa Kinan sahabat Jihan ini sangat lah manis, dengan kulit kuning Langsat khas wanita Indonesia.
Raksa mulai membangun khayalan-khaylany sendiri. Baru satu bulan ini ia putus dari pacarnya, dan sepertinya sekarang ia kembali jatuh hati pada pandangan pertama.
Kalau bukan karena Johan yang menugaskannya untuk datang ke butik Kinan, mungkin Raksa tidak akan pernah bertemu dengan gadis manis di hadapannya sekarang.
Kinan meletakkan Empat buah paper bag berisi pakaian, di atas meja yang ada di hadapan Raksa.
"Hey, kamu melamun lagi," ucap Kinan sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Raksa, membuat Raksa tersadar seketika.
"Iya, silahkan melakukan pembayaran di kasir, sampaikan salam ku untuk kak Johan dan Jihan. Saya permisi dulu karena masih banyak pekerjaan yang saya harus kerjakan," ujar Kinan.
Kinan hendak berbalik pergi ke ruang kerjanya, namun langsung di cegah oleh Raksa, " tunggu!" Raksa kini sudah berdiri dari posisinya, ia berjalan menghampiri Kinan yang nampak bingung.
"Apa aku boleh minta nomor ponsel mu?" tanya Raksa ragu-ragu.
"A-apa," ucap Kinan tak percaya dengan yang ia dengar barusan.
~~
Johan masih berusaha mencerna ucapan Jihan padanya, "Drama ... apa maksud mu." Johan menatap Jihann penuh tanda tanya.
"Aku ingin kamu melepaskan aku," ucap Jihan lirih.
Johan menatap Jihan tak percaya. Jika ada satu hal yang tidak akan Johan lepaskan dalam hidupnya, maka itu adalah Jihan. Baginya sudah cukup selama tujuh tahun menyiksa diri karena terpisah jarak dan waktu dengan sang pujaan hati.
"Apapun yang kamu minta, akan aku kabulkan, kecuali hal itu," tegas Johan.
Johan berdiri dari posisinya, "Tungulah sampai Raksa datang membawa pakaian untuk kamu ... aku harus menghadiri rapat sekarang." Johan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang istirahatnya untuk mengambil Jas baru, karena jas yang ia pakai tadi, ia gunakan untuk menutupi tubuh Jihan.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap-siap Johan keluar dari ruangan istirahatnya lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan cepat. Jika terlalu lama berada di ruangan itu, Jihan akan terus mendesaknya.
Jihan menatap kepergian Johan sambil hembusan nafas berat, ia tahu Johan beusaha menghindarinya. Ia juga ingin hubungannya dan Johan membaik.
Namun setelah pesta malam tadi, saat di mana Vita di perkenalkan sebagai calon istri Johan, harapan itu seolah telah pupus, seiring dengan hancurnya hati Jihan untuk ke sekian kalinya, setelah tujuh tahun berlalu.
~
Malik sedang duduk di belakang meja kerjanya, namun ia beberapa kali melihat kearah meja kerja Jihan yang masih nampak kosong. Malik berfikir mungkin Jihan tidak masuk karena masalah malam tadi.
Namun sepertinya anggapan Malik salah, saat tiba jenny masuk ke ruangan dengan nafas tersengal-sengal, membuat Malik dan rekannya yang lain menoleh kearah Jenny.
"Kamu kenapa Jen?" tanya Cika yang nampak bingung.
Jenny mengangkat satu tangannya seolah memberi kode untuk tidak bertanya dulu, karena ia masih berusaha mengatur nafasnya. Setelah merasa sudah cukup normal, barulah ia mulai bicara.
"Jihan, dan Nona Clara, mereka bertengkar di lobby," tutur Jenny.
Malik nampak kaget dengan penuturan Jenny, ia langsung berdiri dari tempatnya duduk, " Dimana Jihan sekarang?" tanya Malik pada jenny.
"Jihan dan Nona Clara tadi pergi keruangan CEO, tapi aku melihat nona Clara sudah kembali keruangannya, sementara Jihan masih berada di ruangan tuan Johan.
Jangan-jangan sekarang Jihan sedang di marahi oleh tuan Johan," ujar Jenny khawatir.
Malik tak berkata apapun lagi, ia langsung melangkah keluar dari ruangan departemen keuangan.
Pikirannya kini mulai tak karuan, ia tahu Johan pasti sengaja menahan Jihan.
Karena sejak malam tadi Johan berusaha untuk mengajak Jihan untuk bicara.
Sesampainya di depan ruangan CEO, Malik langsung saja masuk, ia menadapati Raksa sedang duduk di belakang meja kerjanya.
"Dimana Jihan?" tanya Malik.
"Jihan sedang ...."
Raksa tak melanjutkan ucapannya karena Malik kembali melangkah masuk kedalam ruang kerja Johan. Saat masuk kedalam, Malik menggedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan dan tak menemukan Jihan di mana pun.
Tak lama Raksa ikut masuk, dan berusaha menjelaskan kepada Malik, ia tahu betul, selain Johan, Malik juga sangat menyukai Jihan, dia sedang berada di ruangan istirahat tuan Johan, pakaian yang di kenakannya tadi robek karena perkelahiannya dengan Clara, sekarang Jihan sedang berganti pakaian dengan pakaian yang saya belikan, jadi tenang lah," tutur Raksa pada Malik.
Malik Menghela nafasnya dengan berat, ia benar-benar emosi, saat membayangkan Jihan sedang bersama dengan Johan. Entah sejak kapan namun rasa cemburunya kian bertambah, meskipun status hubungannya dengan Jihan masih sebatas rekan kerja.
Setelah beberapa saat menunggu, Akhirnya Jihan keluar dari ruangan istirahat Johan dengan pakaian yang di belikan oleh Raksa. Saat keluar dari pintu, pandangannya langsung tertuju pada Malik yang sedang berdiri di depan Raksa.
"Malik," ucap Jihan.
__ADS_1
Malik yang sudah sejak tadi menunggu, kini menoleh kesamping saat mendengar suara Jihan memanggil namanya.
Bersambung 💕