Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Kesiangan


__ADS_3

Sinar matahari sudah bersinar terang di pagi hari itu tapi sepasang suami istri yang baru saja melewati pertempuran panas semalam itu belum juga bangun.


Merasa sinar matahari masuk menembus celah tirai, Luna mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat jam dinding dan seketika bangun terduduk.


"Mas, udah jam 7." sedangkan jam masuk kantor Luna adalah jam 8. Itu tandanya dia harus cepat bersiap berangkat ke kantor.


Niko bergeliat dan meregangkan ototnya. "Udah, santai aja."


"Mas sih enak bosnya. Kalau aku gak enak sama Pak Kevin. Pekerjaan banyak banget." Luna turun dari ranjang lalu menyiapkan baju miliknya dan milik Niko.


"Nanti aku ijinkan ke Kevin. Gampang soal itu."


"Ih, Mas. Gak boleh gitu. Nanti gak enak sama yang lain." Luna berjalan menuju kamar mandi.


Dengan cepat Niko turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. "Kita mandi bareng biar cepat." Niko menarik tubuh Luna masuk ke dalam kamar mandi lalu pintu itu segera dia tutup.


"Ih, Mas nanti tambah lama." Luna berusaha mendorong tubuh tegap Niko agar keluar dari kamar mandi tapi tenaganya kalah kuat dengan Niko.


"Sebentar saja." Niko justru mengungkung tubuh Luna di tembok.


"Mas udah siang, jangan dekat-dekat." Luna masih saja berusaha mendorong dada Niko.


"Bentar aja 10 menit."


"Ahh, Mas..."


Kemudian suara gemercik air menjadi kamuflase pergulatan kilat mereka di pagi hari.


Setelah selesai membasuh diri, Luna mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, sedangkan Niko tersenyum dengan wajah yang sangat segar di belakang Luna. Mereka keluar dari kamar mandi.


"Makasih." Satu kecupan mendarat di pipi Luna.


Luna masih saja memanyunkan bibirnya. Suaminya itu memang tidak melewatkan kesempatan yang ada. Meski memang hanya 10 menit tapi Niko sudah berhasil membawanya terbang tinggi lalu melemas seperti baru selesai berolahraga pagi.

__ADS_1


Tak ada waktu untuk berdebat. Luna segera berpakaian lalu menyisir rambutnya dan hanya berdandan sedikit, nanti dia lanjutkan saja saat berada di dalam mobil.


Kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan sudah membawa tas masing-masing. Mereka duduk di meja makan. Ada kedua orang tua Niko yang juga sedang sarapan.


Bukannya memarahi, tapi Bu Mayang justru tersenyum melihat mereka berdua yang bangun kesiangan. Apalagi tanda merah yang berada di leher Luna, sangat mengisyaratkan jika semalam mereka baru saja melewati malam yang panas. Tentu, Bu Mayang ingin segera menimang cucu dari mereka berdua.


Mereka berdua hanya mengambil roti yang diisi dengan selai. Lalu segera menyantapnya dengan cepat.


"Mama sudah siapkan bekal buat kalian berdua, karena pasti sarapannya buru-buru." Bu Mayang menyodorkan dua tas kotak bekal untuk Niko dan Luna.


"Wah, Mama memang the best." Niko menelan roti itu tanpa dikunyah dengan sempurna lalu meminum segelas susu.


Luna justru semakin merasa sungkan. Dia seolah menjadi istri yang pemalas. Bangin kesiangan dan langsung sarapan.


"Sayang, ayo berangkat." Niko membuyarkan lamunan Luna.


Luna menganggukkan kepalanya lalu meminum segelas susu dan berdiri. Mereka berpamitan pada kedua orang tua Niko. Setelah itu mereka segera masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil Niko segera melaju menuju kantor Kevin.


Bukannya melanjutkan dandannya tapi Luna justru terdiam di dalam mobil. Sepertinya mulai besok dia harus bisa bangun pagi meski setelah bergadang.


"Aku merasa gak enak aja. Udah jadi seorang istri tapi sering bangun kesiangan, gak nyiapin sarapan buat Mas Niko, gak nyiapin bekal juga."


Tangan kiri Niko terulur dan mengusap punggung tangan Luna. "Jangan mikir soal itu, kan di rumah udah ada ART. Lagian kamu bangun kesiangan kan juga karena ulah aku."


"Tapi tetap aja Mas, gak enak sama Mama."


"Mama gak papa. Mama justru senang sekarang ada kamu. Mama malah manjain kamu daripada aku. Jangan mikir yang tidak-tidak, aku gak pernah nuntut kamu apa-apa kecuali di ranjang." Niko tertawa cukup lebar. Tentulah urusan ranjang sekarang menjadi hal pokok buat Niko.


"Ih, Mas." Luna sedikit mencubit pinggang Niko setelah Niko menghentikan mobilnya di depan kantor Kevin.


"Mau diantar ke dalam gak?" tanya Niko.


Luna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nanti kalau dimarahi sama Kevin bilang sama aku ya." canda Niko. Karena dia jelas tahu bagaimana cara Kevin memimpin perusahaannya.


"Pak Kevin gak mungkin marah sama anak buahnya hanya karena datang terlambat, tapi gaji langsung kena potong." Luna tertawa kecil lalu dia mencium punggung tangan Niko yang dibalas dengan ciuman di kedua pipi Luna dari Niko.


"Jangan lupa tutup tanda merahnya." Niko menutup tanda merah Luna dengan rambut panjangnya.


"Mas Niko sih buat tanda merah disitu."


Setelah itu Luna keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam kantor karena dia sudah terlambat lima menit.


Luna menghela napas panjang setelah sampai di meja kerjanya. Rasanya lututnya ikut bergetar seiring detak jantungnya. Benar-benar hari yang melelahkan tapi mengenakan.


Beberapa saat kemudian Kevin keluar dari ruangannya. "Aku kira kamu gak masuk?"


"Iya, maaf Pak saya terlambat."


"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu print e-mail yang masuk hari ini ya. Sebentar lagi aku ada meeting."


"Iya Pak." Luna mengangguk patuh. Lalu dia segera menghidupkan komputernya.


Kevin pun kembali masuk ke dalam ruangannya.


Luna meregangkan otot-ototnya sesaat karena badannya terasa pegal-pegal. Tapi hatinya bebunga kala mengingat hal menyenangkan semalam.


.


.


💞💞💞


.


Jangan lupa like dan komen...

__ADS_1


.


Kapan ya komen aku tembus sampai 100 komen... 🤔


__ADS_2