
Johan bari saja tiba di rumah setelah seharian mencari Jihan. Ia bahkan tidak pergi kekantor karena terlalu sibuk mencari keberadaan sang pujaan hati yang entah dimana.
Saat memasuki rumah, Johan kaget karena kedua orangtuanya dan juga keluarga vita sedang duduk di sofa ruang tamu dengan raut wajah yang nampak sangat tegang.
Toni yang tadinya duduk sambil tertunduk kini langsung berdiri saat melihat kedatangan Johan. Johan masih diam mematung dengan jarak sekitar tiga meter dari sofa ruang tamu.
"Johan kemarilah," tegas Toni.
Johan melangkahkan kakinya mendekati ayahnya, tiba-tiba saja papa Vita berdiri dan langsung menampar Johan, karena tersulut emosi ia tak lagi memandang dengan siapa ia berhadapan saat ini. Johan meringis saat merasakan perih di wajahnya. Ia bingung kenapa ia mendapatkan perlakuan seperti ini, padahal ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Tahan pa, jangan terbawa emosi," ucap mama Vita sambil memegangi lengan suaminya itu.
"Aku harap kamu bisa sabar, aku pastikan Johan akan menikahi Vita," ucap Toni pada papa Vita.
"Apa! apa maksud papa," ucap Johan yang terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia dan Vita bahkan belum bertunangan, lalu kenapa mereka akan segera menikah.
"Johan duduk lah!" tegas Toni dengan wajah memerah. Maria tidak bisa berbuat banyak, ia hanya duduk sambil terus memijat-mijat kepalanya yang kini terasa pusing.
Johan mengambil posisi duduk di samping ibunya. Maria langsung menggenggam tangan Johan, maria terkejut karena tak menyangka Johan akan menghamili Vita sebelum mereka resmi menikah.
Kini suasana nampak lebih tenang, akhirnya Toni mulai bicara, ia menoleh ke arah Johan yang kini sedang duduk di samping Maria.
"Jo, apa benar kamu menghamili Vita?" tanya Toni.
Johan membelalakkan matanya, ia tidak menyangka ayahnya akan menanyakan hal seperti ini padanya. Johan beralih menatap ibunya yang kini sudah terisak.
"Sebenarnya ada apa ini, aku masih tidak mengerti dengan pertanyaan ayah," kata Johan sambil melihat ayahnya.
"Kamu jangan pura-pura bodoh, Vita memang sangat mencintai kamu, tapi jangan seenaknya mempermainkan anak saya," tegas papa Vita.
__ADS_1
"Om, saya benar-benar tidak pernah menyentuh Vita apa lagi menghamilinya," Ujar Johan.
"Jo, sudahlah nak, akui saja, sekarang Vita sedang mengandung anak kalian. Kamu harus segera menikahinya," ujar Maria.
"Untuk apa aku bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah aku perbuat Bu, aku tidak akan pernah menikahi Vita," tutur Johan yang sudah berdiri dari duduknya.
Toni benar-benar sudah tidak tahan lagi, ia sudah mulai emosi karena Johan yang tidak mau mengakui kesalahannya. Toni berdiri dari posisinya, ia memberikan tamparan di wajah Johan, hingga sudut bibir Johan mengeluarkan darah.
Johan terjatuh ke atas sofa tepat di samping ibunya. Toni berkacak pinggang sambil menatap Johan dengan tajam. Sebagai seorang ayah yang mempunyai anak tunggal, Toni begitu keras mendidik anaknya, mendengar laporan dari kedua orang tua Vita, jika Johan menghamili Vita, wajahnya seakan tercoreng.
"Mau tidak mau, siap tidak siap ... kamu harus menikahi Vita, segera!" tegas Toni.
"Tapi Ayah, aku benar-benar tidak menghamili Vita," ucap Johan yang kini kembali berdiri dan menghampiri ayahnya.
"Cukup Johan, jika kamu masih mau menjadi bagian dari keluarga Alexander, tutup mulut mu, ikuti semua perkataan ayah," tegas Toni dengan mata yang melotot merah.
Johan diam terpaku, ia mencengkram erat kedua tangannya, lalu beranjak pergi dari tempat itu, ia pergi tanpa mengatakan apapun, tanpa mengatakan setuju kepada mereka yang menginginkan pernikahan ini. Percuma, ya Johan merasa percuma saja, tidak akan ada yang mendengarnya.
"Maafkan tingkah Johan, akan saya pastikan Johan dan Vita menikah dalam waktu dekat. Besok kami sekeluarga akan datang untuk pertemuan keluarga," ujar Toni kepada kedua orang tua Vita.
Kedua orang tua Vita, hanya mengangguk tanda setuju. Pernikahan antara Johan akan di percepat, mengingat kondisi Vita yang kini sedang hamil dan di khawatirkan jika di tunda kandungan Vita akan semakin membesar.
Sebelum kabar miring beredar, Toni, Maria dan kedua orang tua Vita sepakat untuk segera menikah mereka.
~~
Malam hari di sebuah klub malam.
Seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah blasteran, sedang duduk sambil menikmati Minumannya. Hampir setiap malam ia datang untuk menunggu kedatangan seseorang yang mencuri perhatiannya.
__ADS_1
Pria itu bernama Albert, ia adalah pria yang melakukan cinta satu malam dengan Vita, sejak malam itu, hampir setiap malam ia datang ke klub malam itu. Pada waktu ia bertemu dengan Vita untuk pertama kali, itu adalah kali pertamanya ke klub malam untuk melepas stres setelah bercerai dengan istrinya.
Ya istrinya berselingkuh di belakangnya padahal mereka baru saja menikah. Malam itu ia begitu mabuk, hingga melampiaskan kekesalan pada sang mantan istri dengan meniduri Vita. Ia yang awalnya memasang alat pengaman saat akan melancarkan aksinya, namun sesaat kemudian,ia melepaskannya kembali, ia ingin menanam benihnya kepada Vita yang ternyata masih suci saat itu.
Albert duduk di kursi bar dengan koktail yang menjadi favoritnya. Ia selalu memandang ke arah pintu masuk, siapa tahu saja Vita datang.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang malam itu duduk bersama dengan Vita. Albert meneguk habis minumannya dan berjalan mengahampiri wanita itu.
Wanita itu bernama Jesika, ia adalah teman Vita sewaktu SMA, hampir setiap malam jesika menikmati hidup dengan bersenang-senang, di tempat yang berbeda-beda, dan malam ini kebetulan ada janji temu dengan teman-temannya dan merek akan bertemu di club ini.
Jesika menatap bingung yang kini ada di hadapannya, apa pria ini tertarik padanya, hingga datang mengahampiri, langsung saja jesika yang memang sangat agresif, melingkarkan tangannya ke lengan Albert.
"Kamu siapa, apa kamu ingin berkenalan dengan ku?" tanya Jesika sambil meletakkan kepalanya di pundak Albert.
Albert benar-benar merasa tidak ny, ia menarik lengan dari tangan Jesika dan berdiri sedikit menajauh.
"Maaf, kamu salah paham, aku kema untuk menanyakan keberadaan seorang wanita yang datang kemari bersama mu, dua bulan yang lalu," tutur Johan
Jesika mendengus kesal, ia ternyata sudah salah sangka, akhirnya ia menjadi salah tingkah sendiri karena merasa malu.
"ehm ... dua bulan yang lalu ya," ujar Jesika.
"Iya, apa kamu ingat, malam itu aku dan dia berdansa bersama," tutur Albert.
Jesika mencoba mengingat dengan siapa ia pergi malam itu, tepatnya dua bulan yang lalu. Jesika memang susah mengingatnya bukan tanpa alasan, ia mempunyai banyak sekali teman, baik teman pria ataupun wanita.
Setelah beberapa saat mencoba berpikir keras, akhirnya Jesika ingat, malam itu ia berjanji temu dengan Vita, karena Vita baru saja pulang dari Amerika.
"Aku ingat, malam itu aku bersama Vita, ya Vita," ucap Jesika.
__ADS_1
"Vita ... apa kamu tahu alamatnya atau nomor ponselnya?" tanya Albert.
Bersambung 💕