Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Obrolan Sebelum Tidur


__ADS_3

"Mas, Raffa beneran gak papa tidur di kamarnya sendiri?" tanya Alea, setelah Rania tidur dia kini juga merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Bukannya menjawab, Kevin justru menatap Alea. "Panggil apa sayang?" tanyanya sambil mendekati Alea.


"Ih, gak jadi." pipi Alea justru bersemu merah.


Kevin duduk di sebelah Alea sambil mencubit gemas pipi yang menggembung itu. "Jadi panggilannya udah ganti nih."


Alea memainkan ujung jemarinya. "Kan di depan anak-anak aku manggil kamu udah Papa. Hmm, aku mau manggil kamu Mas kalau lagi berdua gini, kan anak kita juga udah tiga."


Kevin tersenyum lalu membungkukkan dirinya dan mengecup bibir manis itu. "Kenapa gak manggil sayang aja."


"Tuh kan, di kasih hati malah minta lebih. Ini aja manggilnya kayak berat banget." Alea tertawa di ujung kalimatnya. Ya, sudah terbiasa memanggil dengan sebutan nama selama puluhan tahun, sekarang harus berganti dengan sebutan yang jauh lebih baik dengan embel-embel Mas rasanya masih belum terbiasa.


"Dada aku berdebar-debar dengar panggilan kamu tadi."


"Lebay sih Mas."


"Tuh kan, detak jantung aku meningkat 50%"


Alea hanya mencibir. "Pertanyaan aku tadi belum dijawab. Raffa beneran gak rewel tidur sendiri?"


"Seminggu ini dia udah biasa tidur di kamarnya. Ditemani sama Bi Sum kalau dia haus. Raffa kan bangun tetap di jam yang sama. Jadi kalau malam kamu fokus sama Rania saja."


Alea menganggukkan kepalanya lalu dia meraih tangan Kevin dan menggenggamnya. "Makasih, Mas sudah merawat aku sampai hari ini. Mulai dari suapi makan, gendong ke kamar mandi, ganti baju, pokoknya semuanya."


"Iya, sama-sama. Justru aku yang harusnya makasih sama kamu, sudah mempetaruhkan nyawa kamu demi aku dan demi Rania." Kevin mengecup dalam kening Alea lalu dia rebahkan dirinya di samping Alea.


"Kita sebagai pasangan bukankah harus seperti itu. Saling menjaga satu sama lain."


Seketika Kevin menyembunyikan wajahnya di leher Alea. "Kalau kamu bilang kayak gitu, hati aku langsung tersentuh."


"Tersentuh sih tersentuh tapi jangan nempel-nempel di leher aku gini. Geli.."


Kevin semakin mengendus leher Alea dan mengecupnya dalam.


"Mas, ih."


Kevin terkekeh dan sedikit memundurkan kepalanya. "Seminggu gak nempel-nempel sama kamu rasanya kangen banget. Bekas jahitannya masih sakit?"


"Masih ngilu kalau buat gerak."

__ADS_1


"Iya. Jahitannya lumayan panjang. Pemulihannya agak lama."


"Besok, kalau Mas Kevin mau kerja gak papa. Biar dibantu sama Mbak Rina aja."


"No, kamu lebih penting daripada pekerjaan aku. Perusahaan masih bisa jalan tanpa aku datang setiap hari. Pokoknya selama kamu belum benar-benar sembuh, aku akan menemani kamu."


Hatinya terasa nyaman mendengar kalimat Kevin. Sampai kapanpun Kevin adalah bagian dari hidupnya yang sangat penting. Yang akan selalu dia cintai dan sayangi.


"Udah malam, kamu tidur ya. Dua jam lagi saatnya Rania bangun."


Alea menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Usapan dan belaian dari Kevin membuatnya segera menuju alam mimpi.


...***...


Malam itu Luna tak juga bisa tidur, entah apa yang dia pikirkan. Dia menatap nyalang langit-langit yang temaram karena pantulan sinar lampu tidur.


"Sayang, udah malam tidur ya." Niko menarik tubuh Luna dan memeluknya.


Luna memiringkan dirinya. Dia menatap wajah Niko yang sudah setengah tertidur itu.


"Mas..." panggilnya.


"Hem?" Niko membuka kembali matanya. "Mau apa? Haus atau lapar?"


Niko tertawa geli. Bumil satu ini memang sudah kecanduan. Dia tidak bisa jika tidak merasakannya sampai satu minggu lebih. "Aku kira kamu capek. Satu minggu ini memang malam-malam kita terlewat karena tragedi keluarga Kevin." Niko mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Luna.


Luna menatap Niko setelah melepas tautan bibirnya. "Aku gak bisa tidur. Mungkin dengan melakukan sesuatu yang melelahkan aku jadi mengantuk."


Niko tertawa kecil menatap wajah Luna yang mau mau malu itu. "Bilang aja kalau lagi pengen."


Luna tersenyum malu kemudian bibir itu kembali mendekat. Awalnya sangat lembut, lama-lama kian menuntut.


Tangan Niko kini membuka kancing piyama Luna. Menyusuri kulit halus dan seputih susu itu dengan jemarinya.


Bibir itu perlahan turun ke leher. Mulai menyusuri leher jenjang Luna. Menyapunya dengan bibir lalu menyesapnya kecil yang membuat Luna melenguh.


Tangan Luna masih bertengger di bawah Niko. Mengusapnya semakin intens saat Niko memberi stimulasi pada Luna.


"Sayang, tangan kamu.." Napas Niko semakin berat. Dia pandangi sepasang buah sintal yang semakin berisi itu tanpa penutup apapun. Lalu dia usap perut Luna yang sudah memasuki bulan ke tujuh itu. "Main bentar sama Ayah ya." Dia tundukkan kepalanya dan menciumi perut yang terasa bergerak-gerak itu.


"Mas, ayo sekarang." pinta Luna.

__ADS_1


Sejak hamil Luna memang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat merasakan hujaman Niko yang membuatnya selalu terbang melayang.


"Oke, sayang." Niko melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya lalu dia melepas kain penutup terakhir Luna. Dia pandangi tubuh yang kian berisi itu. Semakin terlihat cantik dan sexy.


Niko berlutut di antara kaki Luna. Kemudian dia tahan dirinya dengan kedua tangannya agar tidak menindih perut Luna. Dia arahkan dan sekali hentakan otot tegang miliknya sudah menerobos dinding yang telah licin itu.


"Ahh, Mas." Luna semakin dibuat Niko men de sah. Dia gerakkan pinggulnya perlahan lalu cepat, perlahan lagi dan cepat lagi. Hasrat Luna seolah ditarik ulur oleh Niko.


"Mas, agak cepat."


Niko menautkan jemarinya saat dia menambah ritme gerakannya. Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua. Suara nikmat itu semakin keras dan saling bersahutan.


"Mas, aku mau sampai." Luna semakin beradu gerakan dengan Niko hingga suara kulit yang saling bertabrakan itu terdengar keras. Tubuh Luna menegang beberapa saat dengan suara de sah yang semakin keras.


Re ma san di bawah sana membuat Niko ingin segera menuntaskannya. Niko sedikit menegakkan dirinya. Dia usap perut Luna yang mengencang karena pelepasannya. Tanpa mengurangi ritme gerakannya dia terus memompa Luna.


Beberapa saat kemudian Niko mengerang panjang. Dia tumpahkan hasratnya hingga beberapa kali kedutan.


Setelah melemas, Niko melepas dirinya dan dia hempaskan tubuhnya di samping Luna.


Luna menguap panjang kemudian dia memeluk tubuh polos Niko yang berkeringat. "Ngantuk Mas."


"Pakai baju dulu ya."


Luna menggelengkan kepalanya. "Aku mau peluk Mas Niko kayak gini."


"Oke." Niko menarik selimut dan menitupi tubuh polos mereka berdua.


"Met tidur sayang." satu kecupan di keningnya membawa Luna menuju alam mimpi.


.


💞💞💞


.


Udah beberapa episode gak ke Niko Luna, sekarang saatnya mereka berdua.


.


Masih mau bawang gak??😁

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2