
Mobil Johan terparkir di basement apartement miliknya. Jihan terlihat semakin bingung kenapa ia di bawa kemari.
"Untuk apa kita datang kemari?" tanya Jihan.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu lagi padamu," Jawab Johan.
"Sebentar saja, aku harus segera pulang. Tante ku akan khawatir," ucap Jihan.
"Tenanglah, Raksa sudah mengurus semuanya," ucap Johan.
Jihan tercengang mendengar penuturan Johan, sebenarnya Raksa itu mencangkup sebagai seketaris atau asisten pribadi. Di luar kantor pun, Raksa masih harus menjalankan dari Johan.
Tanpa aba-aba Johan mengengam tangan Jihan, agar berjalan mengikutinya. Sesampainya di depan pintu, Johan menekan kode untuk membuka pintu, Jihan memperhatikan kode yang di masukkan Johan, ia membulatkan matanya karena kode pintu itu adalah tanggal dan bulan dan tahun kelahirannya.
Johan tersenyum saat melihat ekspresi wajah Jihan yang nampak terkejut, "Lain kali jika kamu ingin kemari, kamu sudah tahu kodenya kan," ujar Johan.
"Ehm ... untuk apa juga aku kemari," ucap Jihan.
"Ini kan apartement kita," tutur Johan.
Johan langsung masuk kedalam apartement di ikuti oleh jihan dari belakang, dekorasi ruangan apartement ini benar-benar sama seperti cita-citanya dulu.
Meskipun sudah pernah di ke Apartement itu sekali tapi Jihan belum terlalu Jelas melihat semua sudut ruangan.
Johan melangkah menuju dapur, ia membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan yang sudah ia siapkan sebelumnya. pagi tadi sebelum meninjau lokasi pesta, Johan menyempatkan diri untuk berbelanja di supermarket yang buka 24 jam.
Johan mengambil bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Jihan saja tiba di dapur karena telalu fokus memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada di apartement itu.
Jihan mengerutkan keningnya saat mendapati Johan sedang mencuci sayuran di wastafel. Segera saja Jihan menghapiri Johan.
"Kamu sedang apa?" tanya Jihan.
"Memasak," jawab Johan sambil menoleh ke arah Jihan.
"Memangnya bisa," ucap Jihan meremehkan.
"Tentu saja, selama tujuh tahun hidup sendiri di Amerika, aku terbiasa masak sendiri di apartemen ku di sana," tutur Johan percaya diri.
"Aku jadi tidak sabar ingin mencobanya ... ternyata selama tujuh tahun Ini kamu banyak berubah," ucap Jihan.
"Hidup itu pasti ada perubahan ... yang tidak berubah daro ku hanya cinta ku padamu saja," ujar Johan gombal.
Jihan tak mengatakan apapun kecuali tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Jihan menggulung lengan kemejanya hendak membatu Johan. namun Johan langsung mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Jihan saat Johan mencegah tangannya mengambil pisau.
"Hari ini aku akan memasak untuk kamu, jadi kamu hanya perlu duduk saja," ujar Johan.
__ADS_1
"Huh, baiklah," ucap Jihan.
Jihan melangkahkan kakinya duduk di kursi meja makan yang ada di sebelah dapur. Ia melihat Johan yang sedang sibuk bergelut dengan peralatan dapur.
Pemandangan yang sangat indah bagi nya. Andai hubungan mereka berjalan dengan semestinya sejak dulu hingga hari ini, mungkin mereka sudah menikah sekarang.
Jihan tenggelam dalam lamunannya sediri. Ia membayangkan bagaimana jika dirinya dan Johan hidup bersama di kelilingi anak-anak yang lucu, saling tertawa dan bermain dengan anak-anak mereka.
"Ahk, sakit," pekik Jihan pelan, saat tangannya tidak sengaja teriris pisau.
Seketika lamunan Jihan langsung buyar. Ia berjalan dengan cepat menghampiri Johan yang sedang memegang tangan kirinya. Raut wajah khawatir kini tergambar jelas dari wajah Jihan.
"Tangan kamu berdarah," ucap Jihan panik.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil," ucap Johan.
"Darah yang keluar cukup banyak sampai menertes ke lantai, dan kamu bilang tidak apa-apa," ujar Jihan kesal.
"Aku benar-benar tidak apa-apa," ucap Johan.
"Di mana kotak P3K?" tanya Jihan.
"Ada di samping lemari pendingin," jawab Johan.
Jihan berbalik berjalan menuju kulkas, ia langsung mengambil kotak P3K itu dan kembali menghapiri Johan. Jihan menuntun Johan duduk di kursi meja makan. Jihan dan Johan kini sedang duduk berhadapan, ia mulai membersihkan luka sayatan pisau itu telunjuk Johan.
Johan benar-benar tidak tahan jika terlalu dekat dengan Jihan seperti ini, ada hasrat yang tiba-tiba saja muncul namun ia tetap berusaha menahannya.
"Sudah selesai," ucap Jihan saat sudah selesai melilitkan perban di tangan Johan.
"Apa," ucap Johan yang baru tersadar dari khayalannya.
"Jari kamu sudah selesai di perban," ujar Jihan.
"Oh iya, terimakasih," ucap Johan.
Jihan hendak beranjak berdiri dari duduknya, namun saat hendak berbalik, kakinya tersandung kaki kursi dan jadilah ia terjatuh di pangkuan Johan.
"Maaf," ucap Jihan yang masih terduduk di pangkuan Johan.
Jihan hendak berdiri namun langsung di cegah oleh Johan. Tatapan mata mereka saling bertemu, jarak yang semakin dekat dan tubuh yang menempel erat membuat pertahanan diri Johan goyah.
Di raihnya tekuk leher Jihan, Jihan hanya bisa diam sambil memejamkan matanya. Namun saat bibir mereka akan menempel, tiba-tiba bau gosong yang berasal dari kompor tercium oleh Jihan. Mata Jihan langsung membulat seketika.
"Bau apa ini," ucap Jihan yang sudah berdiri dari posisinya.
Johan mengedus bau gosong itu, ia baru ingat jika tadi dirinya sedang memanggang daging sebelum tragedi teriris pisau tadi.
__ADS_1
Buru-buru Johan dan Jihan berjalan menuju dapur.
Jihan dan Johan kaget saat melihat daging yang sudah berubah warna menjadi hitam pekat, dengan gerakan cepat Jihan menarikan kompor.
"Dagingnya gosong," ucap Johan.
"Sudah tidak apa-apa, kamu bisa memasak dagingnya lagi," ujar Jihan.
"Dagingnya hanya itu," cicit Johan.
"Apa!" seru Jihan.
"Salah ku juga, aku terlalu percaya diri, dan melupakan jika bisa saja terjadi insiden seperti ini," ucap Johan menyesal.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Apa di sini ada stok mie instan?" tanya Jihan.
Johan mengangguk pelan, "Ada di dalam kulkas."
Pada akhirnya Jihan dan Johan tidak jadi menikmati makan malam romantis dengan steak. Tapi percayalah makan mie instan pun akan terasa nikmat saat kamu bersama dengan orang yang kamu cintai.
~
Pukul delapan malam, Johan baru saja tiba di rumah setelah mengantarkan Jihan pulang. Saat hendak naik kelantai atas. Langkah Johan tertahan saat ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga, memangilnya.
"Kemari lah," panggil Maria.
Johan menghembuskan nafas berat saat melihat siapa yang sedang duduk di samping ibunya, siapa lagi jika bukan Vita.
~
Di area taman belakang Kediaman Alexander.
Johan dan Vita sedang duduk bersebelahan di sebuah kursi taman. Johan hanya diam tanpa bicara dan itu membuat Vita kesal.
"Apa kamu masih belum mau bicara l
pada ku?" tanya Vita.
"Lebih baik kamu pulang, aku lelah ingin beristirahat," tutur Johan.
"Kamu lelah karena sore tadi menghabiskan waktu bersama dengan Jihan kan," ujar Vita.
Johan menoleh kesamping, ia menatap Vita yang kini sedang melihatnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku tahu, sore tadi kamu dan Jihan, pergi bersama," tutur Vita.
Bersambung 💕
__ADS_1