Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.55


__ADS_3

Johan memarkirkan motornya di area parkiran car free night, Jihan yang sudah turun dari motor melihat ke sekeliling lokasi car free night itu. Suasananya sama seperti pasar malam, banyak macam permainan dan juga makanan-makanan street food.


"Kamu mau itu?" tanya Johan sambil menunjuk salah satu gerai yang menjual permem kapas.


"Boleh," ucap Jihan.


Jihan langsung berjalan menuju tempat penjual permen kapas itu, sesampainya di gerai, Johan memesankan jihan satu buah permen kapas yang sangat besar.


Jihan nampak sangat senang menerima permen kapas itu. Setelah selesai Jihan dan Johan kembali berjalan menyusuri area car free night.


Langkah Jihan terhenti saat melihat pertunjukan sepatu roda yang sedang di lakukan oleh sekumpulan anak muda.


"Ayo duduk di sana," ajak Johan, mengajak Jihan duduk di sebuah kursi taman, sambil menonton pertunjukan itu.


Kini johan dan Jihan sedang duduk berdampingan. Jihan sedang asik sendiri menonton pertunjukan itu sambil menikmati permen kapasnya, hingga ia tidak sadar jika Johan terus memperhatikannya sejak tadi.


Sebenarnya Johan cukup kaget, karena Jihan mau menerima ajakannya, ini benar-benar di luar ekspektasinya. Meskipun masih terasa canggung tapi Jihan tak bersikap seperti biasanya.


"Ada yang berbeda dari sikapmu saat ini," ucap Johan pada akhirnya.


Jihan yang tadinya sedang fokus melihat pertunjukan itu kini beralih menatap Johan, "Apa?"


"Kamu tidak menolak aku ajak pergi dan kamu tidak menolak aku ajak kemari," tutur Johan.


"Aku sudah lelah terus berlari. Rasa perih, pedih, hampa dan hilang kepercayaan diri sudah terlalu sering aku alami. Jika pelarian ku hanya untuk kembali ke titik semula, bukannya itu semakin menyiksa, jatuh berkali-kali dan tersakiti berkali-kali, aku selalu berlari pada putaran itu," ujar Jihan


"Apa kamu sudah memutuskan untuk memberikan aku kesempatan?" tanya Johan.


"Kesempatan yang bagaimana yang harus aku berikan pada seseorang yang sebentar lagi akan terikat. Aku sudah bilang kita tidak akan bisa bersatu, kamu di sana aku disini, terlalu jauh sudah seperti jarak matahari ke planet Pluto saja. Malam ini adalah malam terakhir aku bersikap konyol seperti ini, melupakan sejenak jika kamu bukan lagi kak Jo yang pergi meninggalkan ku tujuh tahun yang lalu," ujar Jihan.


"Aku masih kak Jo yang kamu kenal, kamu hanya sedang tersesat dalam ketidak percayaan diri kamu sendiri. Perjodohan ku dan Vita tidak akan pernah terjadi, meskipun aku harus kehilangan segalanya demi mempertahankan cinta ku padamu," ujar Johan.


Jihan tak lagi meladeni ucapan Johan yang hanya akan membuat pertahanan dirinya retak. Sekarang Jihan sudah berdiri dari duduknya, "Aku mau pulang."


Jihan hendak melangkah pergi, namun Johan langsung mencegahnya, Johan menarik tangan Jihan, hingga Jihan kembali menoleh padanya.


"Terus lah berada di sekitar ku, Jangan berlari lagi. Cukup lihat aku membuka jalan yang akan membuat kita bersatu lagi," ujar Johan sambil mendongak, melihat Jihan yang kini sedang berdiri di hadapannya.


Jihan hanya diam sambil terus menatap Johan dengan tatapan yang susah untuk di artikan. Waktu seolah berhenti di sekitar mereka, Jika hubungan mereka menjadi sebuah kisah sinetron, mungkin judul yang tepat adalah Cinta yang Rumit.

__ADS_1


~~


Seperti biasa dramai yang selalu terjadi di pagi hari di depan pintu kamar mandi. Pagi ini giliran Jihan yang di dahului Nino masuk kedalam kamar mandi. Nino sengaja berlama-lama untuk membuat Jihan kesal.


Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul di kepala Jihan. Ia berjalan menuju tombol lampu, ia terseyum licik saat membayangkan ekspresi wajah Nino saat keluar nanti. Kamar mandi di rumah Jihan akan tetap gelap meski sudah pagi sekalipun. untuk itulah lampu kamar mandi harus tetap menyala.


Jihan menekan tombol lampu itu dengan gerakan cepat, mati, hidup, mati, hidup dan begitu seterusnya.


"Aakk" pekik Nino dari dalam kamar mandi.


Nino keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang masih basa dengan celana boxer yang juga sudah ikut basah.


"Hahaha." Jihan tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Nino keluar dari dalam kamar mandi.


"Kak Jihan, ini ulah kakak kan!" ucap Nino kesal.


"Kalau iya kenapa, habis kamu lama sekali di kamar mandi," ucap Jihan.


"Ma ... kak Jihan ma!" teriak Nino.


"Percuma, mama kamu sudah pergi ke laundry, hari ini kami berangkat sekolah sama kakak," ujar Jihan.


"Aish," ucap Nino sambil berjalan menuju tempat hanger untuk mengambil handuk, karena terlalu buru-buru saat masuk tadi, ia sampai lupa membawa handuk.


~~


Sarapan pagi di kediaman Alexander, Johan terlihat tidak bersemangat karena kehadiran Vita di rumahnya pagi ini.


"Makan yang banyak Vi," ucap Maria pada Vita.


"Iya tante, terimakasih," ujar Vita.


"Jangan panggil tante dong, Panggil saja ibu dan ayah," ucap Maria.


"Iya benar itu, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri memanggil kami, ayah dan ibu," ucap Toni.


"Iya ayah, ibu," kata Vita lalu tersenyum sejuta watt.


"Hari ini kamu jadi ikut Johan ke kantor?" tanya Maria.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab Vita.


"Untuk apa kamu ikut. tidak, tidak boleh," ujar Johan menolak.


"Jo, biarkan Vita ikut, biar semua karyawan tahu calon tunangan kamu," tutur Toni.


"Kurang jelas apa lagi, saat di pesta ayah sudah mengumumkannya," ucap Johan.


Brakk.


Toni menggebrak meja makan, ia kesal karena Johan terus saja menimpali ucapanya.


"Kamu sudah dewasa Johan, jangan sampai ayah mengambil tindakan tegas pada mu ... pokoknya Vita akan ikut kamu hari ini.


Johan tak bisa mengatakan apapun, ia hanya diam sambil menatap tajam kearah Vita, jika bukan karena Vita, mungkin hidupnya tidak akan menjadi seperti ini. lain dengan Johan, Vita malah tersenyum penuh kemenangan, ia sudah tahu jika ayah dan ibu Johan pasti akan membelanya.


~


Mobil Johan memasuki area perkantoran. Johan memutuskan untuk di antar supir kali ini, karena Jika ia membawa mobil sendiri, ia tidak akan bisa konsentrasi karena Vita yang selalu menggelayut padanya.


Saat turun dari mobil, entah kebetulan atau tidak, Jihan juga bari saja tiba. Vita melihat kedatangan Jihan, dengan gerakan cepat Vita melingkarkan tangannya di lengan Johan.


"hey lepaskan," ucap Johan.


"Tidak mau," tegas Vita.


Johan mencoba menarik tangannya namun Vita kekeh bertahan. Johan meneruskan langkahnya hingga sampai di lobby dengan tetap mencoba melepaskan tangan Vita dari lengannya, tatapan mata Johan menangkap sosok Jihan yang juga sudah berada di lobby kantor.


Jihan yang melihat Vita menggelayut manja di lengan Johan, menatap acuh mereka berdua. Jihan tahu Vita sengaja ingin membuatnya cemburu.


Jihan melanjutkan langkahnya menuju lift, tanpa memperdulikan Johan dan Vita. Jihan kini sudah tidak perduli lagi bagaimana takdir mempermainkan hatinya, dengan berbagai peristiwa yang menyakiti hati dan perasaannya.


Mungkin ia sudah kebal, hingga rasa cemburu tak lagi ada, bukan tak lagi ada tapi kini tertutupi dengan sikap acuhnya.


Johan melihat kepergian Jihan hingga Jihan masuk kedalam lift.


Dia menatap kesal Vita yang kini sedang berdiri disampingnya, ia benar-benar kehabisan kata-kata, melihat tingkah Vita yang bseolah ingin memperlihatkan kepada Jihan, tentang statusnya saat ini.


"Lepaskan tanganku sekarang," ucap Johan geram.

__ADS_1


Dengan mudahnya Vita melepaskan tangannya dari lengan Johan. Setelah itu Johan berjalan dengan cepat meninggalkan Vita sendiri.


Bersambung 💕


__ADS_2