
Menjelang siang, semakin lama rasa mulas itu semakin terasa dan intens. Kedua orang tua Luna juga sudah datang untuk mengantar putrinya ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Niko merengkuh pinggang Luna dan mengajaknya berjalan menuju mobil.
Setelah masuk ke dalam, mobil itu segera melaju ke rumah sakit.
Luna terus mengenggam tangan Niko saat gelombang cinta itu kembali terasa. Peluh berulang kali membasahi keningnya.
"Sabar ya sayang." satu tangan Niko mengusap punggung Luna yang telah basah oleh keringat.
"Makin sakit, Mas." Luna semakin berdesis karena rasa mulas itu semakim terasa. Tapi rentan beberapa detik kemudian rasa mulas itu berangsur hilang.
Luna menghirup napas berulang kali untuk memenuhi pasokan oksigen yang seolah ikut hilang karena rasa sakitnya.
Niko kembali mengusap keringat Luna dengan sapu tangannya. "Hilang lagi?"
Luna hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Setelah mobil berhenti di depan rumah sakit, Niko segera turun dari mobil. Kemudian meraih tubuh Luna dan menggendongnya masuk ke dalam rumah sakit. Sebuah brangkar dorong langsung menyambut kedatangan mereka. Niko merebahkan Luna di atas brangkar itu dan didorong menuju ruang obsevasi bersalin.
Di dalam ruangan itu, Dokter segera memeriksa pembukaan Luna.
"Bagus, sudah pembukaan 8. Sebentar lagi sempurna."
Dokter juga mengecek tensi darah Luna dan detak jantung janin.
"Normal semua. Kita tunggu beberapa saat lagi. Kalau ada dorongan seperti mau buang air besar segera bilang ya."
Luna hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit yang semakin mendera.
Setelah itu Dokter dan suster berlalu untuk mempersiapkan ruang bersalim
Berulang kali Niko menghapus peluh yang membasahi pelipis Luna.
__ADS_1
"Aku yakin kamu bisa." Niko mencium pipi Luna memberinya semangat.
"Mama." Pelukan dari seorang Ibu membuatnya tersentuh. "Maafkan Luna kalau Luna punya salah." seketika Luna memikirkan bagaimana perjuangan ibunya ketika melahirkannya.
Bu Rini mengusap rambut Luna yang basah oleh keringat. "Iya sayang. Mama yakin kamu bisa."
Luna kembali menggigit bibir bawahnya. Rasa mulas semakin menjadi dan kini disertai rasa dorongan dari dalam yang cukup kuat.
"Mas, panggil dokternya."
Belum juga Niko memanggilnya, Dokter itu sudah datang dan segera memeriksa pembukaan Luna lagi.
"Pembukaannya sudah sempurna. Kita pindah ke ruang bersalin."
Mereka segera bergerak cepat memindah Luna ke ruang bersalin. Dengan posisi setengah duduk serta kedua kaki ditekuk ke dada dan terbuka lebar, Luna sudah siap berjuang.
"Mas, sakit banget." Luna sampai menggertakkan giginya merasakan rasa sakit yang kian mendera.
Ketuban itupun pecah dengan sendirinya di saat dorongan kian terasa.
"Ibu, kalau sudah ada dorongan yang kuat tarik napas, tahan, dan dorong, dalam hitungan ke sepuluh tarik napas lagi, tahan, dan dorong lagi."
Dalam keadaan seperti ini, penjelasan Dokter sudah tidak masuk dalam sistem kerja otaknya.
Dorongan itu semakin terasa kuat, Luna mengambil napas sebisanya lalu mulai mengejan.
"Iya, terus Ibu..."
Hanya beberapa detik, Luna berhenti mengejan dan mengambil napas lagi.
"Suster pasang selang oksigennya." melihat Luna yang tidak bisa mengolah napasnya, Dokter menyuruh suster untuk segera memasang selang oksigen di hidung Luna.
Seketika napas Luna kembali normal.
__ADS_1
"Apa ada dorongan lagi?" Dokter itu terus memantau detak jantung janin dengan alat yang dipasang di perut Luna.
"Sayang, ayo kamu pasti bisa." Niko menggenggam erat tangan Luna berusaha menyalurkan semua kekuatannya untuk Luna. Melihat wajah Luna yang semakin memucat dan napas sesak yang membuat dada Luna ikut naik turun. Niko semakin tidak tega melihatnya. Andai saja dia bisa merasakan sakit yang Luna rasakan.
"Ibu kalau ada dorongan lagi langsung tarik napas dan dorong."
"Mas, aku gak kuat." kata Luna dengan suara terbatanya.
"Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa."
Dorongan itu kembali terasa, dengan sekuat tenaga Luna mengejan. Tapi usahanya belum juga membuahkan hasil.
Niko semakin khawatir. Karena beberapa kali Luna mengejan sedari tadi hanya ubun-ubunnya saja yang terlihat.
"Sayang, ayo, kamu wanita hebat. Kamu pasti bisa."
"Aku udah gak kuat, Mas." suara Luna semakin lemah bahkan mata itu semakin sayu menatap Niko.
"Sayang, kamu harus bertahan. Kamu harus kuat." Mata Luna semakin terpejam. "Dokter, apa tidak bisa dioperasi saja!" Niko sudah tidak sanggup melihat kondisi Luna.
"Ibu mengalami distosia. Ubun-ubun bayi sudah terlihat, posisi bayi sekarang terjepit." kata Dokter itu dengan panik dengan tangan yang terus berusaha melebarkan jalan lahir. "Suster bantu dorong dari perut."
Niko semakin khawatir dengan keadaan Luna, hingga air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia tempelkan keningnya di kening Luna. "Sayang. Kamu wanita hebat, kamu wanita petarung. Ayo, kamu berjuang. Kamu pasti bisa..."
.
.
💞💞💞
.
Jangan lupa like dan komen..
__ADS_1