Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.12


__ADS_3

Pagi ini Jihan masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, kehadiran Johan kembali, membuat ia menjadi gelisah, jelas sekali Jihan bisa melihat jika Johan masih memiliki dendam masa lalu.


Meskipun itu hanyalah sebuah kesalahpahaman, namun untuk menjelaskan kembali tidak akan semudah itu karena peristiwa itu sudah lama berlalu, dan Jihan yakin johan tidak akan percaya padanya.


Ia hanya ingin hidup tenang, namun sorot mata tajam johan padanya, menyadarkan jihan jika ia tidak akan bisa hidup berdampingan dengan Johan. masalalu yang selama ini ia anggap sudah menghilang dari hidupnya, kini hadir kembali.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun Jihan masih duduk termenung di depan meja riasnya. ia sudah siap dengan setelan kemeja lengan balon dan rok span hitam di atas lutut, namun lagi-lagi bayang-bayang johan yang kemarin memarahinya, membuat nyalinya menjadi ciut.


Di tengah lamunannya, ia tiba-tiba teringat sesuatu, ia masih ingat barang kenangan terakhir yang johan berikan padanya dulu. Jihan membuka laci meja riasnya, mencari di setiap kotak yang ada di laci itu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah kotak kecil berisi kalung pemberian johan padanya dulu, masih berkilau, dan masih sebagus dulu.


"J ... J," ucap jihan melihat inisial yang ada di kalung itu.


"Kak! ... kata mama, kak jihan mau kerja atau tidak!," pekik Nino dari balik pintu, hingga membuyarkan lamunan jihan.


Jihan langsung beranjak dari duduknya, untuk membuka pintu, saat pintu terbuka pandangannya langsung fokus pada Nino yang masih memakai pakaian tidurnya.


"Kamu kok belum siap?" tanya Jihan.


"Aku tidak sekolah ... lagi batuk, flu, demam," ujar Nino dengan wajah sendunya.


"Masa sih ... alasan ya, hari ini Rabu kan, kak jihan tahu kamu pasti tidak mau masuk karena hari ini pelajaran matematika kan, ayo ngaku," goda jihan.


"Orang memang demam kok, coba aja pegang nih jidatnya," ucap Nino, kemudian meraih tangan jihan agar meletakkannya di atas dahi Nino.


"Oh iya, demam benaran ya ... hehe," ucap jihan.


"Kak jihan kok belum ke kantor sih, jangan malas dong, kan sudah janji mau beliin Nino sepeda baru," ujar Nino.


Seketika semangat jihan kembali, saat Nino menatakan apa yang sudah ia janjikan, tujuannya bekerja adalah untuk membahagiakan Tante dan adik sepupunya.


"Kak jihan ingat kok ... tapi kalau kamu malas sekolah, sepeda barunya di cancel ya," ucap jihan.


"Kak, aku tidak malas kok, janji deh," ucap Nino sambil mengulurkan jari kelingkingnya dan langsung di sambut oleh Jihan.


Meski sudah duduk di bangku SMP, namun sikap kekanak-kanakan Nino masih sama, meski Nino sering menjahili Jihan, namun Jihan sangat menyayangi Nino, Seperti adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


Jihan sedang berjalan menuju halte bus, kali ini ia sudah membawa sendal agar ia lebih nyaman saat berjalan, saat sampai di kantor baru lah ia akan mengganti dengan high heels.


Namun dari arah belakang, tiba-tiba seseorang membunyikan klakson mobil dan memanggil namanya, sontak jihan langsung berbalik, ia mengerutkan keningnya, saat melihat Malik di dalam mobil sambil melambaikan tangan dari jendela mobil.


Jihan langsung menghampiri Malik, Malik pun langsung turun dari mobilnya.


"Mobil kamu?" tanya Jihan.


Malik befikir sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Jihan, jika ia bilang mobil mewah yang ia pakai ini adalah miliknya, ia pasti akan bertanya-tanya tentang siapa dia sebenarnya, karena yang jihan tahu, Malik adalah karyawan biasa sepertinya.


"Ah ini .... mobil paman ku, kebetulan paman ku meminjamkannya karena kasihan jika aku naik motor," ucap Malik yang kini merasa lebih lega.


"O begitu ... terus kok kamu bisa tahu aku disini?" tanya jihan lagi.


"Aku kebetulan lewat, aku dari rumah paman ku, rumahnya di daerah dekat sini juga," ucap Malik berbohong, padahal ia mendapatkan alamat jihan dari pak kus kemarin, sepertinya Malik sudah mulai memiliki rasa kepada Jihan, meski masih memendamnya.


"Ayo ikut aku saja," ajak Malik.


"Boleh deh ... aku suka pegal kalau naik bus, lihat ini, aku sampai pakai sendal," ucap jihan sambil memperlihatkan kedua kakinya.


"Haha ... sampai segitunya," kekeh Malik.


"Ayo naik, Sebentar lagi jam kerja di mulai," ucap Malik.


Jihan langsung beranjak untuk masuk kedalam mobil, ia terpana melihat interior mobil yang sangat mewah dan elegan.


"Wah, paman kamu pasti orang kaya ... mobilnya saja bagus begini," ucap jihan sambil Terus memperhatikan setiap sudut bagian dalam mobil.


"Ya begitulah, aku jadi kecipratan, hehe," ucap Malik.


Malik mulai menghidupkan mesin mobil dan melaju pergi, Malik mengembangkan senyumnya saat melirik jihan yang duduk di sampingnya.


Pagi ini Jihan cantik seperti biasa, Malik sering merasa kesal saat para karyawan dari bagian lain datang ke ruangan staf keuangan hanya untuk mencari perhatian Jihan.


Tak bisa di pungkiri jihan kini menjadi primadona di perusahaan king group.

__ADS_1


~


Johan baru saja tiba di ruangannya, ia langsung melemparkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Tama menyusul masuk dan langsung meletakkan setumpuk dokumen di atas meja kerja Johan.


"Ini semua dokumen yang harus tuan pelajari, Besok saya dan tuan Toni akan berangkat ke London untuk menghadiri pertemuan penting," ujar Tama.


"Iya aku tahu, ayah ku sudah mengatakannya," ucap Johan dengan mata terpejam.


"Mulai hari ini, saya akan merekrut seketaris baru untuk anda, agar pekerjaan tuan lebih mudah," ucap Tama.


Seketika johan langsung, Membulatkan Matanya, otaknya tiba-tiba memberikannya ide yang bagus.


"Apa kamu sudah menemukan orang untuk menjadi Sekertaris ku?" tanya Johan.


"Belum tuan ... tapi tuan tenang saja, hari ini pasti saya akan mengantarkannya ke hadapan tuan," ujar Tama.


"Jika belum, bagaimana jika gadis itu saja ...


siapa namanya, dia staf di bagian keuangan yang kamu ceritakan kemarin," ucap johan yang pura-pura lupa.


"Maksud tuan, Jihan Oktavia," ucap Tama.


"Ah iya ... dia saja, kamu bilang dia peraih nilai tertinggi saat test interview kan, berarti dia orang yang tetap untuk menjadi Sekertaris ku," ucap johan.


"Benar juga, baiklah nanti saya akan mengurus kepindahannya ke ruangan ini," ucap Tama.


"Tapi ... ," ucap johan.


"Tapi apa tuan," ucap Tama.


"Jangan katakan padanya jika aku yang meminta untuk dia menjadi sekertaris ku, katakan saja ini perintah langsung dari ayah ku, Mengerti!" ucap Johan.


"Baik tuan," ucap Tama lalu pamit untuk keluar dari ruang kerja Johan.


Johan kembali menyadarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, ia tersenyum menyeringai saat membayangkan hal apa saja yang akan ia lakukan, hingga jihan tidak betah untuk bekerja lagi di king group.

__ADS_1


Baginya melihat jihan baik-baik saja setelah kejadian di masalalu adalah hal yang tidak adil, saat ia harus menahan kerinduan dengan tanah air demi melupakan jihan tapi saat ia kembali jihan hadir dengan hidupnya yang bahagia.


Bersambung 💕


__ADS_2