Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.56


__ADS_3

Johan masuk kedalam ruang kerjanya, di ikuti oleh Vita di belakangnya, Johan benar-benar tidak tahan lagi melihat tingkah Vita yang terlalu kekanak-kanakan sekali.


Johan berbalik menatap Vita dengan tajam. Sementara Vita malah mendekatkan tubuhnya dan cup, satu kecupan di pipi Johan. Johan terlihat kaget, ia sampai mundur beberapa langkah karena ulah Vita.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Johan kesal.


"Memangnya salah, aku ini calon tunangan kamu," ucap Vita yang kembali melangkah maju, namun Johan pun kembali melangkah mundur.


"Apa yang kamu inginkan itu tidak akan pernah terjadi. Sikapmu dan tingkahmu yang seperti ini, membuat aku kehilangan sosok sahabat ku tujuh tahun yang lalu," tegas Johan.


"Kamu berkata seperti itu karena kamu masih mencintai wanita itu kan. Apa jadinya jika aku memberitahukan masalah ini kepada ayah dan ibu kamu," ujar Vita.


"Lakukan apapun yang kamu inginkan, aku sudah muak dengan kamu .... Pergi, aku bilang pergi dari sini!" pekik Johan hingga menggema di sekeliling ruangan itu. Untung saja ruangan itu kedap suara.


Vita melangkah kakinya keluar dari ruangan itu, ia kesal, marah, dan kecewa. Setelah semua yang ia dapatkan, Johan masih saja tidak bergeming dan membuka hatinya untuk Vita.


Langkah Vita terhenti saat dari kejauhan ia melihat Jihan sedang berjalan bersama dengan rekan kerjanya, Ia menatap Jihan dengan aura kebencian yang mendalam. Jika bukan karena kehadiran Jihan, Johan pastu tidak akan menjadi seperti ini, pikirnya.


"Kamu benar-benar menjadi hama di antara aku dan Johan. Kita lihat saja, bagaimana aku akan membasmi kamu, dasar serangga," gumam Vita.


Vita meraih ponsel yang ada di saku celananya, untuk menelpon seseorang, sepertinya Vita sedang merencanakan sesuatu.


[Aku mau kamu melakukan sesuatu untuk ku, nanti akan aku kirimkan alamatnya]


~


Siang ini di saat jam makan siang, Kinan baru saja tiba di depan kantor Jihan. Bukan untuk menemui Jihan namun karena ia akan bertemu dengan Raksa. Setelah dinner malam itu, Kinan dan Raksa memutuskan untuk memulai hubungan.


Kinan baru pertama kali mengenal Raksa, namun hatinya langsung merasa cocok dengan sekertaris Johan itu.


Kinan menceritakan tentang dirinya dan begitu pula dengan Raksa. Salah satu yang Kinan ceritakan adalah tentang hobinya memasak, dan untuk itu lah hari ini Kinan datang bertepatan dengan waktu makan siang. Ia sudah berjanji pada Raksa akan membawakan hasil masakannya untuk mereka makan bersama.


Kinan menghubungi Raksa, namun tak ada jawaban, akhirnya ia menghubungi Jihan.


[ Jihan, aku di depan kantor kamu, bisa kedepan sebentar]


[ Ya tunggu, aku akan segera kesana]


Kinan memutuskan panggilan telepon itu, karena terlalu panas, ia memutuskan untuk menunggu di dalam mobil sampai Jihan datang.


Setelah menunggu beberapa saat, Jihan datang menghampiri mobil Kinan, Kinan keluar dari dalam mobil dan langsung terseyum lebar kepada Jihan.


"Tumben kesini?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Aku mau minta bantuan kamu," jawab Kinan.


"Batuan apa?" tanya Jihan lagi.


"Aku janji akan makan siang bersama dengan Raksa, aku mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban, apa kamu bisa mengatakan aku ke ruangannya?" tanya Kinan.


" Aish, kamu baru mengenalnya kemarin dan sekarang sudah membuatkan makanan untuknya, aku sudah belasan tahun menjadi sahabat mu, kamu tidak pernah membawakan aku makanan," tutur Jihan kesal.


"Hehe, ini lain tau. Ini itu masalah hati, aku sama Raksa sudah jadian malam tadi," ucap Kinan.


"Apa! Secapat itu," ucap Jihan kaget.


"Sudah jangan kaget seperti itu, ayo antarkan aku ke ruangannya," pinta Kinan.


"I-iya, ayo ikut aku," kata Jihan lalu mengajak Kinan masuk kedalam kantor.


Kinan untuk pertama kalinya melangkah kaki di kantor sebesar ini. Ia menggedarkan pandanganya ke sekeliling lobby, mengagumi setiap sudut ruangan dengan desain modern, dan serba menggunakan teknologi canggih.


Sesampainya di lantai paling atas, dimana Ruangan CEO berada, Jihan mengantarkan Kinan sampai ke depan pintu ruangan. Belum sempat Jihan membuka pintu itu, Raksa sudah keluar dari dalam ruangan.


"Kinan," ucap Raksa senang saat mendapati kedatangan Kinan.


"Aku menelpon mu tadi, tapi kamu tidak angkat," ucap Kinan kesal.


Raksa memeriksa ponsel di kantongnya, ia baru melihat beberapa panggilan masuk dari Kinan.


Jihan melihat Kinan dan Raksa yang Sedang asik mengobrol tanpa memperdulikan lagi, jika dia ada di sana. Berlama-lama di tempat itu hanya akan membuat Jihan menjadi obat nyamuk saja.


"Maaf, mengganggu, tapi aku harus kembali ke ruangan ku," ucap Jihan.


"Eh Jihan, maaf aku jadi asik mengobrol dengan Raksa, apa kamu tidak mau ikut bergabung makan siang bersama kami? Aku membawa banyak makanan," pinta Kinan sambil memperlihatkan dua paper bag besar di tangannya.


" Iya Jihan, ayo makan siang bersama," ucap Raksa.


Jihan terdiam sejenak, ia memikirkan tawaran Kinan dan Raksa, ia sebenarnya cukup lapar dan rekan-rekannya juga sudah pergi makan siang lebih dulu tadi, karena Jihan menemui kinan dulu, dari pada makan sendiri, akhirnya Jihan menerima tawaran itu.


~~


Di atap gedung King grup.


Saat ini mereka sudah duduk di atas tikar portabel yang di bawa oleh Kinan. ia membuka box-box yang berisi lauk pauk yang cukup beragam, Jihan dan Raksa sampai terpana.


"Apa kita sedang camping, kenapa kamu membawa banyak sekali?" tanya Raksa.

__ADS_1


"Hehe, tidak apa-apa, sesekali ya kan," ucap Kinan.


"Kamu membawa piring?" tanya Jihan.


"Tentu saja," kata Kinan sambil mengeluarkan piring-piring plastik yang ia siap, lengkap dengan sendok dan garpu.


Jihan tak menyangka jika Kinan akan membawa perlengkapan makan sebanyak ini. Tak mau menunda waktu, Kinan, Raksa dan Jihan segera menyantap makanan itu.


Saat tengah asik menikmati makanan buatan pacar barunya, ponsel raksa tiba-tiba saja berdering, ia melihat layar ponselnya dan tertera nama Johan di sana.


"Maaf, aku angkat telepon sebentar," ucap Raksa pada Jihan dan Kinan.


"Ah iya tidak apa-apa," ucap Kinan.


Raksa melangkah sedikit menjauh dari tempatnya duduk.


[ Hallo tuan]


[Kamu di mana?]


[ Saya sedang makan siang di atap tuan]


[Di atap? Dengan siapa kamu disana]


[Bersama Kinan dan Jihan, saya akan segera


keruangan anda setelah selesai makan]


Johan memutuskan pangilan telepon itu, Raksa pun kembali menghampiri Jihan dan Kinan, untuk melanjutkan makan siangnya.


"Siapa yang menelepon?" tanya Kinan.


"Tuan Johan, sepertinya menelpon karena, ingin menanyakan masalah laporan lapangan, tapi dia langsung mematikan telepon tanpa mengatakan apapun lagi," ujar Raksa.


"Mungkin dia marah," kata Kinan mendelik ngeri.


"Tuan Johan itu tidak seperti itu, hanya terlihat keras di luar, tapi dia bos yang baik," tutur Raksa.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Kinan.


Jihan hanya menyimak tanpa ikut bicara, ia terlalu fokus pada makananya. Raksa baru saja menikmati makan siangnya kembali, namun pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri di belakang Jihan dan Kinan. Raksa bahkan sampai tersedak saking kagetnya.


"Tuan Johan," ucap Raksa.

__ADS_1


Mendengar ucapan Raksa, Jihan dan Kinan, berbalik ke belakang di mana arah pandangan mata Raksa tertuju. Ternyata mereka tidak kalah kagetnya, karena melihat Johan yang kini sedang berdiri sambil berpangku tangan di belakang mereka.


Bersambung 💕


__ADS_2