Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Menangkap Pelaku


__ADS_3

Perlahan Luna membuka matanya di pagi hari itu. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah suaminya yang masih tertidur dengan nyenyak sambil memeluknya.


Dia telusuri wajah tampan dengan lesung pipi jika tersenyum itu dengan ujung jarinya. Rasanya, semakin hari dia semakin cinta dengan Niko.


"Pagi..." ucap Niko tiba-tiba sambil tersenyum lalu mengecup singkat bibir Luna.


"Kirain masih tidur."


Niko semakin mengeratkan pelukannya. "Ada yang meraba wajah aku, jadinya bangun." Dia dekatkan wajahnya dan mengendus dalam tengkuk leher Luna.


"Aku mau ke kamar mandi trus siapkan sarapan."


"Bangun nanti aja soal sarapan gampang kan udah ada yang nyiapin tiap hari." Niko menahan tubuh Luna saat dia akan beranjak.


"Tapi beda Mas. Aku masaknya pakai cinta."


"Hmm, bucin banget." Niko semakin mengecupi leher itu. Rasanya dia juga tidak bisa jauh-jauh dari Luna.


"Mas, kok tambah erat peluknya."


"Mencari kehangatan di pagi hari."


"Badan aku pegal semua nih. Kepala aku juga rasanya pusing sekarang, jangan minta lagi," kata Luna yang mengerti maksud Niko.


"Ya udah, gak usah kerja ya hari ini."


"Gak bisa Mas. Kasihan Pak Kevin pekerjaannya banyak."


"Malah mikirin Kevin." Niko masih saja menenggelamkan wajahnya di leher Luna.


Luna tersenyum lalu menjurai rambut lebat Niko. "Iya, Pak Kevin yang sudah jadikan aku seperti sekarang ini. Bahkan karena Pak Kevin juga, aku ketemu Mas Niko."


"Ya udah, tapi tetap jaga kondisi." Niko melepas pelukannya lalu mengecek ponselnya untuk melihat jadwalnya hari ini. "Nanti siang aku gak ada acara, kita makan siang ya. Sekalian jemput Reka."


Luna tersenyum lalu dia duduk. Dari kemarin dia memang ingin makan siang dengan suaminya. "Oke. Ya udah aku mau ke kamar mandi dulu." Satu kecupan mendarat di pipi Niko lalu Luna beranjak ke kamar mandi.


Niko meraba pipinya sesaat. Rasanya sebahagia itu memiliki Luna. Kemudian dia kembali menatap ponselnya dan berbalas pesan dengan Kevin menanyakan masalah di kantornya.


...***...


"Aldi, kamu panggil cleaning service itu sekarang!" perintah Kevin pada Aldi. Dia harus segera menyelesaikan permasalahannya saat itu juga.


"Baik, Pak." Aldi keluar dari ruangan Kevin dan mencari keberadaan Bima.


Kevin menghela napas panjang. Ada saja permasalahan dalam hidupnya. Di saat perusahaannya sukses dan berjaya, hembusan angin itu semakin bertiup kencang dari segala arah.


Beberapa saat kemudian Aldi telah masuk dengan Bima.


Kevin menatap tajam padanya. "Kamu yang biasa membersihkan ruangan ini dan meja sekretaris kan?!"

__ADS_1


Bima menganggukkan kepalanya lalu menunduk.


"Dibayar berapa kamu menjadi penyusup di kantor ini!"


Bima menggelengkan kepalanya. "Saya bukan penyusup, Pak."


"Sudah! Kamu tidak bisa mengelak lagi. Bukti-bukti sudah ada. Kamu pikir tidak adanya cctv di meja sekretaris, kamu aman! Masih banyak bukti lain yang menyatakan kamu itu suruhan Robi!"


Bima hanya menundukkan kepalanya dan terdiam. Tapi sedetik kemudian dia membalikkan badannya dan keluar dari ruangan Kevin dengan cepat. Dia berniat kabur dari Kevin.


"Mau kemana kamu?!"


Aldi dan Kevin segera mengejar Bima. Untunglah, di depan ruangan Kevin ada Luna yang dengan sigap menjegal kaki Bima hingga dia jatuh tersungkur. Kemudian dengan kuat Aldi mengunci kedua tangan Bima.


"Bawa dia sekarang ke kantor polisi. Dan urus masalah ini sampai tuntas." Kevin segera menghubungi orang suruhannya. Dia tidak akan melepaskan Robi kali ini.


"Baik!" Aldi dan satu anak buah Kevin lagi membawa paksa Bima.


Luna menghela napas panjang. Jadi dugaannya benar. Dalang di balik semua ini adalah Robi.


"Pak Kevin, saya minta maaf. Mungkin karena saya kekacauan ini terjadi."


Kevin kini beralih menatap Luna yang sedang menundukkan pandangannya. "Meskipun kamu punya masa lalu dengan Robi tapi ini bukan salah kamu. Tidak usah dipikirkan masalah ini. Saya akan segera membereskannya."


Lalu Kevin kembali ke ruangannya.


Luna tersenyum melihat suaminya yang sedang berjalan ke arahnya. "Aku baru aja mau turun."


"Sekretaris cantik gak boleh nunggu di bawah."


"Rajin banget kamu udah ke sini. Gak ada kerjaan?" tanya Kevin saat dia keluar dari ruangannya dan melihat Niko yang sedang berdiri di depan meja Luna.


"Iya, lagi kosong. Aku mau makan siang sama Luna sekalian jemput Reka."


"Ya udah, aku mau urus masalah aku dulu." Kevin memakai jasnya yang tadi dia sampirkan di tangannya.


"Ya udah semoga cepat selesai."


"Luna, kembali sebelum jam masuk." Pesan Kevin sambil berlalu.


"Gak aku antar balik, mau aku bawa pulang," kelakar Niko sambil meraih tangan Luna mengajaknya keluar dari kantor.


Luna hanya terdiam. Entahlah, mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.


"Kamu jangan mikirin masalah itu. Semua sudah diurus sama Kevin," kata Niko sambil masuk ke dalam lift.


Luna hanya mengangguk pelan.


"Kita mau makan siang dimana?" tanya Niko setelah lift sampai di lantai dasar.

__ADS_1


"Terserah Mas Niko aja. Reka sukanya apa?"


"Kalau Reka sukanya ke McD. Gak papa?"


"Iya, gak papa."


Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil itu telah melaju meninggalkan perusahaan Kevin.


Untunglah, jalanan siang hari itu tak terlalu macet hingga mereka tiba di sekolah Reka tepat waktu.


Terlihat anak-anak yang memakai seragam putih merah itu berhamburan keluar dari gerbang.


Luna turun dari mobil, dia tersenyum melihat Reka yang melambai ke arahnya.


"Reka.." Luna berjalan mendekati Reka.


"Bunda..."


Sedangkan Niko yang baru saja turun dari mobil harus kembali masuk ke dalam mobil untuk memindahkannya karena ada mobil yang akan keluar dari gerbang.


"Ayo, Reka. Sebentar Ayah masih putar mobil." Luna menggandeng tangan Reka di tepi jalan.


Tiba-tiba saja ada yang menarik paksa Reka hingga dia terlepas dari tangan Luna.


"Reka!!!" teriak Luna sambil mengejar penculik itu. "Lepasin Reka!!! Tolong!" Luna berhasil menarik jaket penculik itu. Beberapa orang di sekitar itu ikut mengejar.


Luna telah berhasil mencekal tangan penculik itu hingga Reka terlepas, tapi penculik itu justru menyikut perut Luna dengan keras.


"Aww..." seketika Luna memegang perutnya yang terasa sangat sakit.


"Luna!" Niko menahan tubuh Luna saat akan terjatuh. "Tolong kejar dia, jangan sampai lolos." Beberapa satpam dan orang-orang sekitar berhasil meringkus penculik itu.


"Bunda gak papa?" tanya Reka yang ikut khawatir melihat keadaan Luna.


Luna hanya meringis kesakitan dengan wajah piasnya.


"Astaga, ibu hamil? Ibu pendarahan!" Pekik salah satu ibu-ibu yang berada di tempat itu.


Seketika Niko melihat rok yang berwarna grey itu. Matanya membulat melihat bercak merah. Seketika jantungnya berdetak dengan kencang hingga keringat membasahi pelipisnya.


Pernikahannya dengan Luna sudah satu bulan dan itupun Niko melakukannya setiap hari tanpa jeda. Jangan-jangan...


💞💞💞


.


.


Jangan lupa like dan komen..

__ADS_1


__ADS_2