
"Revan, ayo jalan sini sayang." panggil Alea pada putra keempatnya itu yang sudah berumur satu tahun dan baru bisa berjalan.
Revan yang baru saja belajar berjalan itu hanya menatap Alea. Iya, dia memang sedikit berbeda dengan kakak-kakaknya karena dia sangat mahal senyum. Entahlah, dia seolah punya beban hidup sejak kecil, bergitulah bercandaan mereka. Tapi dari segi wajah, Revan yang paling tampan dari kedua kakaknya.
"Aduh, itu anak siapa sih kaku banget gak mau senyum." Kevin kini duduk di samping Alea. Mereka sekeluarga sedang liburan di sebuah taman, tak lupa juga ada keluarga Niko.
"Ih, Mas Kevin lupa buatnya."
"Padahal dulu buatnya sambil senyum bahagia tapi jadinya malah jarang senyum." Kevin tersenyum lalu mencomot buah yang berada di atas kotak bekal di tangan Alea.
"Mamma." Revan berjalan seperti robot menghampiri Alea.
"Revan mau melon?"
Revan menganggukkan kepalanya sambil memegang garpu lalu mengambil buah.
"Pintar sekali sih." Kevin mencubit kecil pipi chubby itu.
"Meskipun dingin tapi pintar kan."
"Iya, jadi pengen buat lagi." goda Kevin.
Alea melebarkan matanya menatap tajam Kevin. Baginya sudah cukup memiliki empat anak. Meskipun sekarang Reka sudah remaja dan memilih tinggal bersama Niko seterusnya.
"Bercanda sayang. Tapi tiap hari prosesnya tetap kan."
"Ih, maunya."
Mereka berdua kini menatap Rania yang sedang bermain dengan Nina dan Raffa.
"Syukurlah, Rania udah sehat." kata Alea. Selama satu tahun ini kesehatan Rania memang telah meningkat pesat dan dia juga telah dinyatakan bebas dari gejala leukimia.
"Iya, gak tega lihat dia sakit seperti kemarin." Kevin menghela napas panjang. "Semoga semua selalu bahagia seperti ini."
Alea meenganggukkan kepalanya. "Iya, amin."
Niko dan Luna berjalan menghampiri mereka dengan membawa beberapa kotak makanan. Di belakang mereka berdua ada Reka, Angga, dan satu teman gadisnya.
"Reka sama siapa nih?" tanya Alea pada putranya yang sudah beranjak remaja itu.
__ADS_1
"Teman, Ma. Namanya Azkia." jawab Reka.
Azkia tersenyum manis lalu bersalaman dengan Alea dan Kevin.
Niko justru tertawa dan menggoda Reka. "Teman spesial."
"Ayah, Azkia teman sekelas aku dan Angga. Kita kan baru selesai kerja kelompok dan langsing ke sini."
"Iya deh, percaya." kata Niko lagi. Meski demikian, dia harus tetap mengamati pergaulan Reka. Karena sebagai seorang Ayah, dia takut jika suatu saat nanti Reka akan mengikuti jejaknya.
"Rania, Raffa, sini makan dulu." teriak Alea memanggil kedua anaknya.
"Nina, kamu juga makan!" teriak Luna pada Nina.
"Kayaknya Nina udah waktunya punya adik."
Perkataan Kevin membuat Niko yang sedang minum itu hampir saja tersedak. "Kayaknya gak ada adik. Aku masih trauma."
Kevin tertawa semakin keras. "Yang trauma justru suaminya."
Satu cubitan kini didapat Kevin dari Alea. "Ih, iya kalau Mas Kevin."
Kevin merengkuh pinggang Alea dan berbisik di telinganya. "Aku sayang kamu. Makasih sudah menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak kita yang lainnya aku katakan nanti malam saja di kamar."
...-SELESAI-...
.
.
.
Akhirnya cerita ini selesai juga. Yuk, langsung cus ke ceritanya Reka langsung jadikan favorit ya.. 👇👇👇
(cover sewaktu-waktu bisa ganti)
...***...
__ADS_1
"Selamat, mulai besok kamu bisa langsung bekerja di sini."
Mendengar kalimat itu, senyum Nayla mengembang. Akhirnya dia mendapat pekerjaan dengan gaji UMR meskipun hanya menjadi cleaning service. Tak apalah, yang terpenting ada pemasukan rutin setiap bulannya.
Nayla kini berjalan menghampiri temannya yang sedang membersihkan lantai di lobi. "Echa, makasih ya. Mulai besok aku udah bisa kerja di sini."
"Selamat ya. Tapi gimana dengan kuliah kamu? Kamu sudah mau semester 4 kan? Harusnya kamu bisa jadi staff di kantor ini gak cleaning service kayak aku."
Nayla menghela napas panjang. Kali ini tidak ada pilihan lagi. Dia harus mendahulukan yang lebih penting. "Yang terpenting sekarang aku mendapatkan pekerjaan dulu. Ya udah, aku pulang dulu ya." Nayla memutar langkahnya akan berjalan menuju pintu keluar. Tapi di dekat pintu terlihat ramai orang. "Ada apa?" tanya Nayla. Dia urung untuk melangkah.
Echa justru tersenyum gembira. Ekspresinya seperti melihat artis papan atas. "Wah, itu pasti Pak Reka. Beliau baru pulang dari New York."
"Pak Reka?"
"Iya, CEO di perusahaan ini. Wajahnya tampan banget, udah gitu masih single lagi. Lee min ho sih kalah."
Nayla mengernyitkan dahinya. Bisa selebay itu hanya karena melihat seorang bos. Pasti dia juga sudah tua dan botak mikirin anak buahnya.
"Meskipun aku gak bisa memilikinya tapi paling tidak aku bisa mengaguminya."
Nayla semakin tertawa. "Lebay banget sih. Ya udah aku mau pulang dulu." Nayla mulai melangkahkan kakinya tapi dia juga penasaran dengan apa yang dikatakan Echa. Dia memperhatikan satu per satu lima orang yang berjas itu. Bodohnya dia tidak bertanya yang mana orangnya.
Saking fokusnya tanpa sengaja Nayla justru menyenggol bahu seseorang. Bukannya orang itu yang terjatuh tapi justru Nayla.
Nayla menundukkan pandangannya sambil menahan tubuhnya dengan tangan.
"Hei, kalau jalan itu pakai mata!" suara orang itu terdengar begitu tegas.
"Pak Reka!" tapi panggilan dari rekan kerjanya itu membuat Reka urung melihat wajah Nayla.
Nayla berdiri sendiri dan mengibaskan celananya.
Whats?? Apanya yang ngalahin Lee min ho. Bos arrogant gitu! Moga aja orang itu jarang ke tempat ini meski bos di sini.
Nayla berdengus kesal lalu dia keluar dari perusahaan itu. Dia berjalan menuju tempat parkir. Menatap bangunan yang kokoh dan menjulang tinggi.
Sanjaya Group.
Selamat datang Nayla di Sanjaya Group.
__ADS_1
💞💞💞