
Jihan dan Johan kini sedang duduk bersebelahan di atap gedung. Sejak tadi Johan belum memulai bicara apapun, karena Jihan sepertinya masih belum siap untuk di ajak bicara.
"Kenapa hidupku menjadi seperti ini," ucap Jihan yang tidak di sangka-sangka oleh Johan.
"Ini semua salahku, maaf," ucap Johan.
"Semua sudah berlalu tapi aku masih saja menangisinya," ucap Jihan sambil menatap nanar kearah depan.
Johan menoleh kearah samping, kini ia bisa mengerti betapa berat hidup yang di jalani Jihan selama ini. Di balik kepribadiannya yang ceria, dia menyimpan sejuta luka di masa lalu yang jika kembali di buka, membuat sakit itu kembali di rasakan oleh Jihan.
"Seharusnya aku mendengar penjelasan mu waktu itu," ucap Johan.
"Sudahlah, tidak apa-apa ... ini semua sudah di garis kan terjadi seperti ini, aku hanya Terlalu melow tadi," ucap Jihan mencoba meyakinkan Johan jika dia baik-baik saja.
"Kenapa kamu tidak mengabari aku," ucap Johan.
"Mengabari apa?" tanya Jihan.
"Tentang kematian kedua orang tuamu," ucap Johan.
Jihan terdiam sesaat, saat itu adalah bagian terburuk dalam hidupnya, dalam satu waktu yang bersamaan, Johan dan kedua orangtuanya menghilang dari kehidupannya.
"Aku berpikir, tidak ada gunanya lagi menghubungi orang yang bahkan tak mempercayai ku," ucap Jihan sambil menoleh kearah Johan, tatapan mata mereka saling bertemu namun, dengan gerakan cepat Jihan kembali keposisinya.
" Kamu pasti pasti sangat membenciku ya," ucap Johan.
"Tidak ... aku memilih mu, karena aku yakin akan perasaan ku, tapi di saat aku terluka, aku pikir itu adalah resiko yang harus aku tanggung, atas apa yang sudah menjadi pilihan ku," ujar Jihan.
"Apa kamu menyesal?" tanya Johan.
"Mungkin, kak Jo yang aku kenal dulu, sekarang sudah sangat sukses, meskipun kamu akan memperbaiki semua kesalahan di masa lalu dengan segala materi yang kamu punya, itu tidak akan merubah apapun bagiku ... karena uang dan kesuksesan mu sekarang tidak akan mampu menghidupkan kembali harapan kita
yang telah lama hilang," ujar Jihan mengingat kembali kejadian itu.
Johan hanya diam tanpa tahu harus berkata apa, disini dirinya lah yang salah, semua yang di katakan Jihan memang benar.
"Ya mungkin kita memang tidak di takdirkan untuk bersama," ucap Jihan lagi.
Mendengar hal itu Johan ingin mengatakan sesuatu, namun Jihan sudah beranjak dari tempat duduknya, Jihan tidak mau mendengar Johan bicara atau bertanya terlalu banyak hal padanya.
"Aku harus kembali bekerja, terimakasih," ucap Jihan lalu melangkah menajauh dari Johan.
__ADS_1
Johan menatap kepergian Jihan dengan sedih, obrolan antara dirinya dan Jihan tadi semakin meyakinkannya untuk membuat Jihan jatuh cinta lagi kepadanya.
~~
Pukul tiga sore, Johan Keluar dari lift bersama dengan Raksa, tak sengaja ia melihat Jihan sedang berjalan beriringan dengan Malik, sambil bersenda gurau. Raut wajah Johan semakin di tekuk, apalagi melihat wanita yang dia cintai bisa tertawa begitu lepas saat bersama Malik. Dirinya benar-benar merasa kalah saing.
"Pemandangan yang tidak menyenangkan ya tuan, hehe," ucap Raksa dari belakang.
"Diam kau," ucap Johan hendak menutup mulut Raksa namun Raksa dengan cepat menghindar.
"Seberapa sering pun tuan mengelak, tapi tubuh anda benar-benar memberikan respon yang berbeda," ujar Raksa lagi.
"Jika kamu masih ingin menjadi seketaris ku sebaiknya kamu diam," ujar Johan kemudian melangkahkan kakinya kembali.
~
Jihan bersama dengan Malik, sedang makan siang berdua saja, karena rekannya yang lain ikut pak kus menghadiri rapat di luar.
Malik berpikir Jika ini saatnya, ia mengutarakan perasaannya kepada Jihan, waktu, tempat yang sepi, sangat mendukung untuk menyatakan perasaannya.
"Jihan, apa boleh aku mengatakan sesuatu," ucap Malik.
"Katakan saja," ucap Jihan lalu kembali menikmati kentang goreng yang ada di hadapannya.
"Memangnya apa, jangan membuat aku penasaran," ucap Jihan.
"Sebenarnya aku menyukai mu," ucap Malik dengan gugup.
puftt.
Jihan sampai memucrat kan minuman yang baru saja ia teguk, karena telalu kaget mendengar pengakuan Malik padanya.
"Kamu tidak bercanda kan?" tanya Jihan memperjelas.
"Aku serius, bagaimana apa kamu mau, menjalin hubungan dengan ku," ucap Malik.
Jihan menghela nafas yang cukup berat, sebenarnya ia sering menghadapi situasi seperti ini selama tujuh tahun belakangan, namun pada dasarnya ia masih belum siap untuk menjalin hubungan dengan orang yang baru.
"Maafkan aku Malik, aku tidak bisa," ucap Jihan lirih.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk untuk menjawab sekarang, pikirkan lah dulu, sebelum mengambil keputusan," ujar Malik.
__ADS_1
"Aku pernah menjalani hubungan yang cukup berat dan melelahkan, dan aku benar-benar belum siap untuk hal seperti ini, jangan menunggu, aku tak ingin memberikan harapan apapun, maafkan aku," ucap Jihan penuh penyesalan.
"Oke, baiklah, kamu boleh menolak ku, tapi kami tidak bisa melarang ku, untuk terus menyukai mu," ucap Malik mencoba berbesar hati.
Jihan tak mampu lagi untuk berkata apa-apa, ia takut malah semakin membuat Malik terluka.
~~
Di lain tempat, Vita sedang berada di sebuah bar bersama teman-temannya. Vita benar-benar ingin melepaskan masalah yang membuatnya steres.
Vita meneguk Minuman yang ada di tangannya, kemudian kembali berjoget di antara ketiga orang.
Setelah merasa lelah, Vita melemparkan dirinya di atas sofa.
"Vi, kamu tumben, pulang dari Amerika, malah kemari," ucap salah satu teman wanitanya.
"Aku lagi stres, Johan selalu saja mencampakkan aku, dia masih saja mencintai wanita murahan itu," ucap Vita yang sudah mulai mabuk.
"Sudahlah, lupakan sejenak cinta kamu itu, lihatlah disini banyak sekali pria tampan," ujar teman Vita.
Vita melirik salah seorang lelaki tampan yang sedang menari di hadapannya, tanpa pikir panjang, Vita menghapiri lelaki itu.
"Boleh ikut bergabung dengan mu," ucap Vita
Laki-laki itu menatap Vita dengan tatapan aneh, tanpa basa basi, laki-laki itu menarik Vita, agar ikut menari bersamanya.
Alunan musik remix, semakin membuat suasana semakin panas, laki-laki itu benar-benar mengendalikan Vita saat ini, dan beberapa kali memberikan Vita minuman yang semakin membuat kesadarannya berkurang.
Di sebuah kamar dengan cahaya remang-remang, Pria itu melemparkan tubuh Vita ke arah ranjang, Vita yang masih setengah sadar kini hanya bisa mengeluh pelan karena kepalanya yang semakin terasa berat.
Pria itu mulai melancarkan aksinya, ia menjelajahi tubuh Vita tanpa ada cela sedikit pun, dan meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sekujur tubuhnya.
Dengan berbekal alat pengaman Pria itu memberikan hentakkan demi hentakkan hingga akhirnya ia berhasil masuk. Pria itu tak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya saat ini masih perawan, terbukti saat ia masuk, aliran darah segar mulai keluar.
Ini kali pertama ia merasakan hal ini dengan wanita yang masih suci, pria itu tidak sampai di situ saja, ia menghabiskan malam panas bersama Vita, hingga beberapa kali mengulang, Vita lupa akan mimpinya meberikan kesuciannya kepada Johan, yang ia rasakan saat ini hanyalah kenikamatan yang selalu ia ingin lakukan bersama dengan Johan.
Tak ada lagi mimpi itu, kini Vita sudah melepaskan kesucian Kepada pria asing yang tidak pernah ia kenal. Entah sebanyak apa ia akan menyesal nanti, namun malam ini yang terucap dari mulutnya hanya kata terus, lagi, dan erangan-erangan kecil lainnya.
Menjelang subuh pria itu terbangun dari tidurnya, ia beranjak dari atas kasur, lalu memunguti satu persatu pakaiannya.
Sebelum pergi, pria itu mengahampiri Vita yang masih terlelap dalam tidurnya. di usapnya pucuk kepala Vita lembut.
__ADS_1
"Suatu saat kita akan bertemu lagi baby," ucap pria itu lalu tersenyum penuh arti.
Bersambung 💕