Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.43


__ADS_3

Raksa mengikuti mobil Malik sampai kesebuah restaurant berbintang. Ia bisa melihat dari dalam mobil, Jihan dan Malik keluar dari dalam mobil. Dengan cepat Raksa keluar hendak mengikuti Jihan dan Malik.


Namun sepertinya Raksa belum beruntung kali ini, karena kurang berhati-hati saat berjalan dan matanya yang terus saja fokus kepada Jihan dan Malik , ia sampai menabrak seorang wanita sampai barang bawaan wanita itu jatuh ke tanah.


"Kalau jalan hati-hati dong," ucap wanita paru baya itu dengan kesal.


"Iya maafkan saya," ucap Raksa sambil membantu wanita itu memunguti barang-barang yang berjatuhan di lantai.


Setelah wanita yang di tabraknya itu pergi, Raksa kembali melihat kearah tempat terakhir ia melihat Malik dan Jihan, sepertinya ia kehilangan jejak.


Raksa buru-buru masuk kedalam restaurant itu, namun ia harus kembali, menelan kecewa karena ternyata restaurant berkonsep. private room, terdiri dari ruangan-ruangan tertutup yang biasa di pakai untuk meeting.


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan," ucap salah satu pelayan yang menghampiri Raksa.


"Dimana, ruangan yang di pesan oleh orang yang bernama Malik dan Jihan," ucap Raksa pada pelayan itu.


"Maaf tuan, apa sudah memiliki janji sebelumnya, jika tidak, saya tidak bisa memberi informasi apapun kepada anda," ucap pelayan itu.


"ah begitu ya, kalau begitu saya permisi," ucap Raksa lalu berjalan dengan cepat keluar dari restaurant itu.


Ia kembali menghubungi, Johan, meskipun gagal menjalankan misi, setidaknya ia sudah melakukan tugasnya, urusan Johan marah atau tidak, itu urusan belakangan.


"Maaf tuan, saya kehilangan jejak mereka," ucap Raksa yang kini sudah tersambung dengan Johan.


Di luar ekspektasi, Raksa yang sudah mempersiapkan mental untuk mendengar ocehan Johan, malah di buat kaget, karena Johan langsung mematikan panggilan telepon itu tanpa bicara.


~~


Pagi ini Johan dalam keadaan mode ini siaga satu, raut wajahnya benar-benar tidak menyenangkan. Ia berjalan masuk kedalam ruangan, dan melewati Raksa begitu saja.


Johan menyadarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, mencoba memejamkan matanya karena rasa kesal yang belum juga hilang, namun kedatangan Raksa membuat Johan kembali membuka mata.


"Jangan menganggu aku dulu, Keluarlah,"ucap Johan.

__ADS_1


"Maaf tuan saya hanya ingin menyampaikan hal penting yang baru saya tahu pagi ini, ini menyangkut Jihan," ucap Raksa.


Ucapan Raksa, membuat Johan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Raksa.


"Katakan, informasi apa itu?" tanya Johan yang terlihat sangat antusias.


"Pak kus bilang, Jihan mendapatkan tawaran pekerjaan dari klien kita dari Malaysia kemarin, dan sepertinya kepergian Jihan dan Malik malam tadi, itu untuk menemui mereka, jika Jihan menyetujui tawaran mereka, Jihan akan langsung pindah ke Malaysia dan menetap di sana," ujar Raksa.


Johan merasa begitu kaget, bingung dan marah, ia mengedurkan dasi yang melingkar di lehernya, rasanya untuk bernafas saja begitu susah untuknya saat ini, bayangan kepergian Jihan mulai menghantuinya. Ia benar-benar tidak rela jika Jihan akan pergi jauh darinya.


~~


Jihan sedang bergelut dengan tumpukan berkas di hadapannya. Getar ponsel membuat konsentrasinya buyar, Jihan menatap layar ponselnya yang tertera nama Johan di sana.


Jihan meraih ponselnya, bukan untuk menerima panggilan telepon itu, namun ia langsung mematikan panggilan.


Tak lama terdengar suara getar lagi dari ponselnya, kali ini bukan suara panggilan masuk namun pesan. Jihan membuka pesan yang dikirimkan oleh Johan.


"Temui aku di atap sekarang, atau aku yang akan menjemputmu di ruangan kamu," isi pesan Johan.


Sesampainya di atap, benar saja Johan sudah menunggunya di sana, menunggu dengan gelisah. Langsung saja Johan menghampiri Jihan.


"Ada apa?" tanya Jihan saat sudah berada di belakang Johan.


Johan langsung berbalik saat mendengar suara Jihan, entah ekspresi apa yang kini sedang tergambar di wajah Johan, semua serba campur aduk.


"Apa sejauh ini kamu ingin menghindar, apa sejauh ini usaha mu untuk pergi dari ku ... Apa setelah masa magang mu di perusahaan ku selesai kamu benar-benar akan pindah," ujar Johan meluapkan sesak di dadanya.


Jihan diam sesaat, sepertinya Johan sudah tahu tentang tawaran dari perusahaan asing itu. Malam tadi Jihan di temani Malik pergi menemui pihak dari perusahaan asing yang ingin merekrutnya.


Mereka menjelaskan secara detail apa saja keuntungan dan apa saja pekerjaan yang akan Jihan dapat saat berada di sana, semua yang mereka tawarkan sungguh menggiurkan, namun Jihan masih meminta waktu untuk berpikir.


Pihak dari perusahaan asing itu pun akhirnya menyetujui untuk memberikan Jihan waktu berfikir hingga tiga hari kedelapan.

__ADS_1


"Jawab Jihan!" seru Johan, membuyarkan lamunan Jihan.


"Kamu benar, baik dulu ataupun sekarang, bertahan hidup lebih penting buat ku, ini adalah kesempatan besar untuk ku, dan kamu tahu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ujar Jihan.


Johan menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali menatap Jihan.


"Kamu tidak boleh pindah, kamu harus tetap di sini, di dekat ku," ucap Joha. kesal.


"Kenapa, kenapa aku harus tetap di sini, jika kamu ingin memperbaiki semuanya itu sudah terlambat, aku tidak mengharapkan itu lagi, bagiku ini sungguh menggelikan saat seseorang yang telah meninggalkan ku kembali untuk memperbaiki kepingan hati yang telah hancur," ujar Jihan yang sudah mulai emosi.


Johan hanya bisa terdiam sambil terus menatap Jihan, ucapan Jihan barusan benar-benar mengena di hatinya, tapi sungguh ia tidak ingin kehilangan Jihan untuk kedua kalinya.


"Jawab aku ... kenapa, kenapa kamu begitu perduli kepada ku sekarang, apa aku terlihat sangat menyedihkan, apa kamu menyesal sekarang. Kamu tidak perlu mengasihani ku, aku baik-baik saja selama tujuh tahun ini," ujar Jihan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Bukan, bukan seperti itu," ucap Johan yang tidak berani menatap Jihan secara langsung.


"Lalu kenapa ... kenapa kamu begitu tertarik dengan setiap detail kehidupan ku?" tanya Jihan.


"Aku mengalami CLBK," gumam Johan pelan hingga tak terdengar oleh Jihan.


"Apa?" tanya Jihan saat tak mendengar ucapan Johan dengan jelas.


"Aku bilang aku mengalami CLBK ... Aku jatuh cinta pada mu lagi dan lagi, aku menyukai kamu," teriak Johan.


Jihan hanya bisa diam tanpa bisa mengucap apapun, ia tidak tahu harus merespon seperti apa lidahnya terasa kaku. Setelah Tujuh tahun berlalu akhirnya ia kembali mendapatkan pernyataan cinta, bukan pria lain, melainkan pria yang sama, mantan pacar yang sudah pergi jauh meninggalkannya selama tujuh tahun, kini kembali dan menawarkan cinta itu lagi.


"Jadi jangan pergi ... tetaplah di sisi ku, saat ini, nanti dan selamanya," ucap Johan.


Jihan masih saja diam tanpa bicara, melihat itu Johan langsung mendekati Jihan meraih tekuk lehernya dan mendaratkan bibirnya di bibir Jihan.


Tak ada penolakan sedikit pun dari Jihan, tubuhnya merespon dengan baik, dekapan Johan yang seperti ini, selalu membuat ia candu, Johan memperdalam permainannya, menikmati setiap kehangatan yang tercipta antar keduanya.


Deru nafas yang semakin memburu mebuat Johan seakan tak ada puasnya menjelajahi setiap sudut bibir Jihan.

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2