Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Ngambeknya Reka


__ADS_3

"Lebih baik aku ke rumah Ayah saja. Mama udah gak sayang sama Reka." Reka memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas, dengan mengendap-endap dia kabur dari rumahnya tanpa seorang pun yang tahu.


Kemudian dia memesan gojek menuju rumah Ayahnya. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam. Dulu dia mengira hidupnya akan bahagia saat memiliki adik tapi ternyata dugaannya salah. Kasih sayang orang tuanya justru tercurah untuk adik-adiknya.


Setelah sampai di depan rumah Niko, Reka turun dari sepeda motor gojek itu dan membayarnya. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya sedang terbuka itu.


"Reka, kok kamu ke sini? Sama siapa?" tanya Bu Mayang yang melihat kedatangan Reka seorang diri.


"Sendiri, Nek." jawab Reka.


"Bukannya ada acara ulang tahun Rania ya sekarang?"


Reka hanya menganggukkan kepalanya. "Ayah, dimana Nek?"


"Ada di kamar. Baru saja pulang dari periksakan Nina."


Kemudian Reka berjalan menuju kamar Niko. Dia masuk ke dalam kamar Ayahnya karena kebetulan pintu kamar itu memang setengah terbuka.


"Loh Reka kok ke sini? Sama siapa?" tanya Niko. Dia sedikit terkejut melihat Reka yang tiba-tiba datang ke rumahnya karena memang tidak seperti biasanya seperti itu. Apalagi di rumahnya sedang ada acara.


Reka berjalan mendekat dan memeluk Ayahnya. "Ayah, Reka boleh tinggal di sini?" tanya Reka.


Niko terdiam beberapa saat. Dia bisa menduga, masalah apa yang dihadapi Reka. "Kenapa Reka?" tanyanya pura-pura.


"Boleh kan?" bukan jawaban yang dikatakan Reka tapi Reka justru bertanya lagi pada Niko.


Luna dan Niko saling lirik beberapa saat.


"Iya boleh. Sini Ayah mau bicara dulu sama Reka. Kita pindah ke kamar Reka saja ya. Soalnya adik Nina baru bobok, dia lagi sakit." Niko menuntun Reka menuju kamar yang memang disediakan khusus untuk Reka saat Reka menginap di rumahnya.


Setelah masuk ke dalam kamar, mereka duduk berdampingan. Niko akan membicarakan masalah yang Reka hadapi dari hati ke hati.


"Reka cerita sama Ayah, ada masalah apa?" tanya Niko dengan nada yang dia lembutkan.


Reka hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya.


"Reka bertengkar sama Mama?" tanya Niko lagi karena Reka tak juga menjawab pertanyaannya.


Reka menganggukkan kepalanya kecil.


"Apa Reka salah sama Mama?" tanya Niko secara perlahan.


Sampai beberapa detik Reka masih menutup rapat bibirnya.

__ADS_1


"Mama sudah gak sayang lagi sama Reka," kata Reka pada akhirnya.


"Kenapa?" tanya Niko lagi. Benar dugaannya, sepertinya Reka merasa cemburu dengan adik-adiknya.


"Mama sekarang sering marah sama Reka. Mama lebih sayang sama Raffa dan Rania."


Niko menghela napas panjang sesaat lalu dia rangkul pundak Reka. "Reka... Reka kan sudah besar. Sudah bisa mandiri. Sedangkan adik Reka kan masih kecil, masih sangat butuh perhatian dari Mama. Reka ingat gak, dulu waktu Reka masih kecil, Reka juga sangat disayangi Mama. Bahkan setiap saat Mama selalu sama Reka. Tidak ada yang membagi perhatian Mama. Sedangkan sekarang adik-adik Reka juga butuh kasih sayang Mama. Reka gak kasihan sama Mama yang capek mengurus kedua adik Reka. Harusnya Reka bantu Mama."


Reka terdiam beberapa saat sambil menundukkan pandangannya. Dia memikirkan nasihat Ayahnya itu. "Tapi Mama selalu melarang Reka dan sering memarahi Reka."


"Reka sudah mengerjakan kewajibannya belum? Reka sudah besar jadi harus bisa belajar mendahulukan kewajibannya dulu." Niko mengusap lembut pincak kepala Reka.


Reka menganggukkan kepalanya.


"Reka boleh tinggal di sini. Ayah justru sangat senang tapi besok Reka harus minta maaf dulu sama Mama," kata Niko.


Reka menganggukkan kepalanya lagi.


"Ya sudah, kamu istirahat ya. Ayah mau mandi dulu."


"Iya Ayah."


Niko berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya.


"Mas, ada telepon dari Kak Alea."


Kemudian Luna mengangkat panggilan Alea dan suara panik Alea langsung terdengar dari ujung sana.


"Hallo Luna, Reka ada di sana?"


"Iya, Reka ada di sini. Kak Alea tenang saja, Reka sekarang sedang istirahat di kamarnya."


"Ya sudah. Makasih ya."


Alea memutuskan panggilannya.


"Ada masalah apa?" tanya Luna.


"Ya, biasa. Reka merasa tidak diperhatikan sama Alea. Ya, terkadang anak seumuran Reka memang seperti itu. Dia inginnya dimanja sedangkan di masa ini juga sudah waktunya mengerti dengan kewajibannya sendiri."


Luna hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku senang kalau seandainga Reka mau tinggal di sini. Sedari dulu aku ingin Reka tinggal sama aku, karena bagaimana pun juga yang bertanggung jawab sepenuhnya harusnya aku."

__ADS_1


Luna tersenyum. "Iya, nanti kalau Kak Alea ke sini, kita bicarakan baik-baik masalah ini."


"Iya." Niko kini beralih menatap Nina yang sedang tertidur dengan nyenyak. Dia sentuh keningnya yang sudah mulai berkeringat karena efek obat mulai bekerja. "Syukurlah demamnya udah turun."


"Iya. Baru juga sehari gak lihat dia wara-wiri sambil merangkak rasanya sepi."


...***...


Alea memutuskan panggilannya dengan Luna. "Iya Mas, Reka ada di rumah Niko. Ayo kita jemput dia."


Kevin menahan tangan Alea saat akan beranjak. "Biarkan Reka di sana dulu. Kalau kamu jemput Reka sekarang yang ada Reka akan semakin marah sama kamu."


Reka kini kembali bersandar di sofa. "Tapi kalau Reka benci sama aku terus gak mau pulang gimana Mas?"


"Makanya kita beri waktu Reka untuk menyendiri. Lagian di sana rumah Ayahnya. Kamu tenang aja."


"Kalau seandainya memang tetap gak mau pulang?" Alea berandai sendiri. Ya, di sana memang rumah Ayah kandungnya tapi rasanya dia masih belum rela kalau Reka tinggal bersama Niko.


"Ya sudah, kita biarkan saja Reka tinggal bersama Niko. Niko juga berhak merawatnya." jawab Kevin.


Alea kembali menghela napas panjang. "Apa didikan aku ini salah? Apa aku terlalu keras sama Reka."


Kevin menggelengkan kepalanya. "Aku tahu, kamu memarahinya pasti juga demi kebaikan Reka."


"Tapi aku salah udah suruh Reka ikut Ayahnya. Ternyata Reka beneran lakuin ini. Aku menyesal. Lain kali aku gak boleh terbawa emosi."


"Hal itu wajar. Aku tahu, kamu juga capek mengurus Raffa dan Rania yang sedang aktif-aktifnya itu, jadi kamu mudah terbawa emosi."


Alea justru memeluk Kevin dari samping. "Kamu memang selalu jadi penenang aku."


Kevin mengusap rambut Alea. "Raffa dan Rania belum pada mandi tapi udah tidur. Siap-siap bergadang nanti malam."


"Iya." Alea melepas pelukannya lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. "Aku mau mandi dulu."


Kevin segera berdiri dan menyusul langkah Alea. "Ikut."


"Ngapain?"


"Ya ikut mandi."


Setelah sampai di dalam kamar, buru-buru Kevin menutup pintu kamarnya dan membawa Alea masuk ke dalam kamar mandi.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2