Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Semoga Saja


__ADS_3

Perlahan Kevin membuka matanya. Dia baru terbangun saat matahari telah bersinar terang. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Apakah kesehatannya menurun lagi?


Perlahan Kevin duduk. Dia melihat Alea yang baru saja selesai memandikan Raffa.


"Tuh Papa baru bangun. Tumben kesiangan?" tanya Alea sambil memakaikan baju di tubuh Raffa.


"Kepala aku pusing." Kevin memijat pelipisnya sendiri.


Seketika Alea menghampiri Kevin dan menyentuh keningnya. "Kamu sakit?" Alea sangat khawatir jika mendengar Kevin sakit lagi. Dia takut kejadian yang telah lalu terulang kembali.


Kevin menggelengkan kepalanya. "Cuma pusing aja dikit."


"Kamu periksa saja kalau sakit," kata Alea. Dia tidak mau penyakit Kevin kambuh lagi.


"Iya sayang." Kevin turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya.


Sedangkan Alea kini melanjutkan merawat Raffa. "Raffa, udah ganteng dan wangi. Nanti waktunya imunisasi, kita tanya Papa dulu ya bisa menemani apa tidak?"


Alea beralih menyiapkan setelan pakaian Kevin.


"Kev, nanti Raffa ada jadwal imunisasi. Kamu temani atau aku sama Pak Anton saja?" tanya Alea saat Kevin keluar dari kamar mandi yang telah memakai celana pendeknya.


"Aku temani saja ya. Nanti siang aku pulang," kata Kevin sambil mengambil kemejanya lalu memakainya.


"Oke." Begitulah Kevin, meski pekerjaannya banyak tapi urusan keluarga tetap nomor satu baginya.


"Tapi kalau kamu capek gak papa, aku bisa sendiri." Alea berdiri lalu membantu Kevin mengancing kemejanya.


"Berdua lebih baik." Kevin menatap Alea yang sedang menunduk dan fokus mengancing kemejanya. Jemarinya kini menyentuh dagu Alea agar mendongak. "I love you." Setiap hari, tak lupa Kevin selalu mengucap kata cinta untuk Alea.


"I love you too..." jawab Alea. Semakin hari, rasanya Alea juga semakin cinta dengan Kevin.


Kedua wajah itu saling mendekat dan mulai menyesapi manisnya madu itu.


"Sayang..." Kevin sedikit mendorong bahu Alea agar melepas ciumannya. Dia melangkah cepat menuju kamar mandi dan mengeluarkan cairan dalam perutnya yang terdorong kuat ingin keluar. Entahlah, kenapa tiba-tiba perut Kevin terasa sangat mual.


"Kamu kenapa?" Alea segera menyusul Kevin dan mengusap punggungnya.


Setelah rasa mualnya mereda, dia berkumur dan membasuh wajahnya.


"Aku juga gak tahu, tiba-tiba saja mual."


Alea menggandeng lengan Kevin keluar dari kamar mandi. "Lebih baik di rumah aja kalau sakit. Tidak usah kerja."

__ADS_1


"Aku ada rapat penting pagi ini. Aku gak papa. Ini juga udah hilang mualnya."


"Ya udah, tapi nanti sekalian periksa ya ke rumah sakit."


"Iya." Kevin mengusap sesaat rambut Alea lalu dia segera memakai celana panjangnya dan bersiap untuk berangkat.


...***...


Setelah rapat selesai, Kevin buru-buru ke ruangannya dan menghempaskan dirinya di sofa. Kepalanya terasa sangat pusing. Sebenarnya dia juga merasa takut, apakah penyakitnya kambuh lagi?


"Pak Kevin kenapa?" tanya Aldi yang melihat wajah Kevin sedikit pucat. Bahkan sedari tadi Kevin juga sudah berulang kali memijat pelipisnya sendiri.


"Gak papa. Aku nanti jam satu pulang. Kamu atur jadwal buat besok ya." Kevin menegakkan dirinya dan meraih beberapa berkas yang belum dia cek.


"Baik Pak. Saya permisi dulu." Aldi membalikkan badannya tapi Kevin memanggilnya lagi.


"Tunggu dulu."


"Iya Pak?"


"Tolong belikan rujak buah di depan ya, sama jus mangga."


Aldi menautkan alisnya. "Bu Alea lagi ngidam?"


"Loh, Bu Alea hamil lagi?" Aldi masih saja bingung dengan keinginan bosnya itu.


Lagi, Kevin menggelengkan kepalanya. "Jangan banyak tanya, cepat belikan. Kepala aku pusing."


"I-iya Pak." Aldi membalikkan badannya dan segera membelikan apa yang dimau bosnya itu.


Belum juga selesai mengecek pekerjaannya, Kevin kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Masak iya sakit aku kambuh lagi?" Kevin menghela napas panjang. Dia tidak mau merasakan sakit itu lagi, tapi bagaimana jika memang benar adanya.


Beberapa saat kemudian, Aldi masuk dengan membawa pesanan Kevin.


"Ini Pak, rujak buahnya sama jus mangga." Aldi meletakkannya di atas meja, tepat di depan Kevin.


"Iya, makasih." Kevin segera membuka rujak buah itu dan melahapnya.


"Hmm, Pak Kevin tidak sedang ngidam kan?"


Kevin menghentikan makan lahapnya sesaat mendengar pertanyaan Aldi. "Ngidam?"


"Iya, mungkin Pak Kevin kena sindrom simpatik."

__ADS_1


Benarkah? Pengetahuannya memang minim tentang hal itu, tapi setahu dia ada beberapa pasangan yang memang ikut merasakan morning sickness ketika istrinya hamil.


Seketika Kevin tersenyum. "Iya, mungkin kamu benar. Kalau memang Alea hamil lagi, nanti aku kasih bonus."


Aldi tersenyum lebar. Semoga saja dugaannya benar.


Kevin buru-buru menghabiskan rujak dan jusnya.


"Kamu bereskan ini ya. Aku mau pulang dulu." Kevin mengambil jas dan memakainya. Lalu dia mengambil ponselnya dan keluar dari kantornya. Rasanya dia tidak sabar untuk mengajak Alea periksa, dan kebetulan sekali hari itu tepat jadwal imunisasi Raffa.


...***...


"Mama..." Reka yang baru saja turun dari mobil bersama Bi Sum dan Anton langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menghampiri Alea yang sedang berada di ruang tengah. "Mama mau kemana?" tanya Reka yang melihat Mama dan adiknya sudah rapi.


"Adik Raffa mau imunisasi. Reka mau ikut?" tawar Alea.


"Disuntik ya Ma? Gak ah, Reka takut lihat jarum."


"Ya udah, Reka sekarang ganti baju terus makan sama Bi Sum ya."


"Baik Mama." Reka mencium pipi chubby Raffa dulu sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Kevin sudah sampai di depan rumah. Dia masuk dengan tergesa. Saat melihat Alea sedang duduk bersama Raffa di sofa ruang tengah, dia menyusulnya duduk berdempetan.


"Sayang..."


Alea sedikit terkejut dengan kedatangan Kevin yang secara tiba-tiba dan langsung memeluknya dari samping.


"Kita berangkat sekarang yuk?" ajak Kevin dengan semangat.


Alea menatap heran pada Kevin. Hanya akan imunisasi saja, Kevin begitu semangat. "Ada apa? Kelihatannya semangat banget."


Kevin justru mencium pipi Alea, lalu dia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dan sudah membawa perlengkapan Raffa. "Ayo, biar Raffa aku gendong. Kita pamit dulu sama Reka." Kevin meraih Raffa dan menggendongnya.


Alea semakin tidak mengerti dengan tingkah Kevin. Apa yang membuatnya begitu bersemangat dan terlihat sangat bahagia?


💞💞💞


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen..


__ADS_2