
Sekarang Jihan sudah berada di salah satu bilik toilet. Ia benar-benar tidak tahan jika harus berlama-lama di tempat pesta. Menyaksikan kemesraan antara Johan dan Vita di hadapan semua orang hanya akan membuatnya sakit hati.
Jihan duduk di atas kloset yang tertutup. Ia menyeka air matanya berkali-kali, sudah sejak tadi ia berada di sana, ingin keluar tapi air matanya tak mau berhenti mengalir, akhirnya ia memutuskan untuk menenangkan diri lebih dulu.
~
Sementara itu di lokasi pesta,Johan sedang menemani ayahnya menjamu salah satu tamu penting bersama dengan ibunya, Vita dan kedua orang tua Vita. Tentu saja Vita terus menempel padanya, Jika bukan di tempat ini, mungkin Johan sudah mengamuk karena pengumuman pertunagan tadi benar-benar membuatnya marah dan kecewa.
Johan tidak pernah menyangka Jika ayah dan ibunya merencanakan pertunagan ini di belakangnya tanpa memberitahu tahu Johan terlebih dulu. Rasa kesal semakin menjadi tak kala pengumuman ini di sampaikan di hadapan umum dan tentunya di hadapan Jihan.
Ingin rasanya Johan berlari pergi dari tempat itu sekarang, mencari keberadaan Jihan, ia benar-benar di liputi kegelisahan yang amat menyiksa diri, setelah pengumuman itu selesai, ia melihat Jihan pergi meninggalkan tempatnya, ingin mengejar, namun Vita menahan langkahnya.
"Kamu tidak akan pernah bisa lari dari ku," bisik Vita di telinga Johan.
"Dalam mimpi mu," bisik Johan balik
Vita mendelik kesal, ia kembali meneguk minumannya hingga habis. Johan hanya diam tanpa bicara apapun, bahkan saat ayahnya tengah asik mengobrol dengan rekan bisnisnya, Johan hanya diam tanpa menimpali.
Johan kembali kepikiranya sendiri, ia benar-benar tidak tahan lagi, ingin segera keluar dari tempat itu. Dan pada akhirnya Johan berdiri dari posisinya, semua mata tertuju padanya, apalagi ayahnya, yang menatap Johan, seolah menanti jawaban.
"Maafkan ayah, semuanya, saya mau ke toilet sebentar," kata Johan yang sudah berdiri dari duduknya.
"Ya pergilah," ucap Toni.
Johan melangkahkan kakinya dengan cepat, sementara itu Vita menatap kepergian Johan dengan tatapan mata yang susah untuk di artikan, Vita seolah tahu kemana Johan akan pergi.
Johan kembali ke lokasi pesta, pesta malam ini benar-benar sangat meriah, semakin malam semakin heboh dengan hadirnya seorang DJ yang menambah meriah suasana.
Johan mencoba mencari keberadaan Jihan dari Kerumutan orang. Namun Johan tak juga datang menemukan kebenaran Jihan. ia benar-benar semakin panik, ia ingin menjelaskan semuanya namun Jihan seolah tidak memberinya kesempatan.
~~
Jihan keluar dari bilik toilet, dilihatnya wajahnya dari cermin yang sudah nampak sembab karena telalu banyak menangis. make up nya pun sudah berantakan, ia tidak mungkin kembali ke tempat pesta jika seperti ini.
Saat melangkah keluar dari toilet, Jihan kaget karena Malik sudah berada di depan pintu, ia benar-benar malu berhadapan dengan Malik dengan kondisi seperti ini.
"Mau pulang?" tanya Malik.
__ADS_1
"Apa," ucap Jihan ingin memperjelas ucapan Malik.
"Aku tahu, kamu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, jadi aku akan mengantarkan kamu pulang," tutur Malik.
"Tapi bagaimana dengan yang lain, jika kamu mengantarkan aku pulang?" tanya Jihan.
"Tenang saja, aku sudah mengatakan pada rendy untuk memesan taksi online, jadi apa kamu mau aku antar pulang?" tanya Malik.
"Baiklah," kata Jihan sambil menundukkan pandangannya, ia benar-benar malu Malik melihat kondisinya yang seperti ini. Apalagi seperti Malik sudah tahu jika Jihan baru saja menangis karena Johan.
Jihan berjalan beriringan dengan Malik, tanpa bicara apapun. Malik melirik kearah Jihan, ia bisa melihat raut wajah Jihan yang begitu murung. Setelah pengumuman tadi, Malik melihat Jihan meninggalkan lokasi pesta, ia pun segera menyusul Jihan. Namun belum sempat ia memanggil, Jihan sudah masuk kedalam toilet.
Dari luar pintu Malik bisa mendengar isak tangis Jihan yang terdengar lirih. Malik menyandarkan tubuhnya di dinding, hatinya begitu sakit saat melihat wanita yang ia cintai mencintai orang lain. Tapi lebih sakit lagi saat ia mendengar isak tangis Jihan karena tersakiti oleh orang yang di cintainya.
Malik mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata mencintai dan di cintai itu tidak selalu beriringan, ada kalanya cinta bertepuk sebelah tangan. Lama Malik menunggu sampai saat ada wanita lain yang ingin masuk kedalam toilet, Malik melarang wanita-wanita itu dengan alasan toilet tersebut sedang di perbaiki.
~
Akhirnya Malik dan Jihan sampai di parkiran. Baru saja Jihan akan masuk kedalam mobil Malik, namun suara teriakkan seseorang dari belakang, menghentikan gerakan tangan Jihan yang hendak membuka pintu mobil.
"Jihan!" Seru Johan.
Johan mengahampiri Jihan yang sedang berdiri berdampingan dengan Malik. Malik benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini.
"Jihan, ayo ikut aku. Kita perlu bicara," kata Johan sambil menarik tangan Jihan.
Dengan gerakan cepat Jihan melepaskan genggaman tangan Johan dari tangannya, " Lepaskan, aku sedang tidak ingin bicara apapun dengan mu sekarang," ucap Jihan lirih.
"Aku mohon,berikan aku kesempatan untuk berbicara," ujar Johan.
Johan hendak kembali menarik tangan Jihan, namun dengan cepat Malik mencegah hal itu.
"Jangan memaksanya jika dia tidak mau," ucap Malik yang sudah nampak kesal.
"Ini bukan urusan mu, meyingkir lah." Johan menggeser Malik kesamping, namun dan Malik kembali menarik tangan Johan agar menjauh dari Jihan.
"Sekarang urusannya adalah urusan ku juga! Aku mencintai dia dan aku tidak rela jika melihat di menderita hanya karena orang seperti mu," ujar Malik yang sudah terbawa emosi, bahkan ia sudah kehilangan rasa hormatnya terhadap kakak sepupunya itu.
__ADS_1
Malik membuka pintu, dan dengan cepat menuntun Jihan masuk kedalam mobil, lalu ia juga segera masuk menyusul Jihan.
Johan mengedor-gedor kaca jendela di mana Jihan berada, "Jihan aku mohon, kita perlu bicara sebentar saja," ucap Johan sambil mengedor-gedor kaca jendela mobil.
Melihat Johan yang seperti tidak ingin menyerah, Malik segera, menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas meninggalkan parkiran mobil itu.
Johan mencengkeram erat rambutnya karena frustasi. ia menendang ke udara untuk meluapkan kekesalannya. Johan kembali mengingat perkataan yang selalu Jihan ucapkan kepadanya, saat ia meminta Jihan untuk kembali padanya.
Ia baru sadar Jika hal yang di maksud Jihan adalah Pertunangannya dan Vita.
~
Di dalam mobil Malik, Jihan hanya terdiam sambil menatap keluar jendela mobil, merenungi takdir yang selalu tak berpihak kepadanya. Andai ia tidak bertemu dengan Johan lagi, ia mungkin akan baik-baik saja.
Andai jantungnya tidak berdetak kencang saat Johan menyentuhnya mungkin ia akan baik-baik saja. Jihan menggerutuki dirinya sendiri karena terlalu larut pada kenangan masa lalu sehingga rasa itu timbul kembali, kembali menginginkan Johan lagi.
Namun bagaikan pungguk merindukan rembulan, Johan adalah rembulan yang tak bisa ia capai meskipun selalu setia memberikan cahayanya.
Sesaat kemudian Jihan menoleh kesamping. Di lihatnya Malik yang sedang fokus menyetir tanpa bersuara sedikit pun. Seolah mengerti jika Jihan tidak ingin di ajak bicara. Namun rasa penasaran menghinggapi Jihan tak kala Malik seperti mengetahui Hubungannya dengan Johan.
"Apa kamu mengetahui semua tentang aku dan kak Jo?" tanya Jihan pada akhirnya.
"Iya ... maaf tapi beberapa waktu yang lalu, aku mendengar percakapan Kalian di atap," jawab Malik yang masih fokus menyetir.
"Hubungan kami terlalu rumit, baik dulu maupun sekarang ... maaf karena sudah membawa mu masuk dalam masalah ini. Bahkan kamu harus bertengkar seperti tadi dengan kakak sepupu mu sendiri," ujar Jihan lirih.
"Tidak perlu meminta maaf, ini sudah menjadi resiko ku karena mencintai wanita yang hatinya sudah milik orang lain," tutur Malik.
Jihan tak bisa berkata apapun lagi, ia benar-benar merasa tidak enak kepada Malik.
Ia tidak ingin memberikan harapan apapun, karena itu hanya akan membuat Malik semakin sakit nantinya.
Jihan kembali menatap nanar ke arah jendela, entah apa yang akan ia hadapi di hari esok. Namun ia bersyukur untuk saat ini, hatinya sudah mulai tenang, karena tak bergelut dengan keadaan.
Entah sampai kapan Jihan akan terbelenggu dengan cinta pertamanya. Apa Tuhan hanya menakdirkan ia untuk mencintai satu pria saja seumur hidupnya. Itu hanya masih menjadi rahasia sang pencipta.
"Jika aku memang hanya di takdirkan untuk jatuh cinta satu kali seumur hidup ku, aku mohon padamu Tuhan, berikan aku akhirnya yang bahagia," batin Jihan.
__ADS_1
bersambung 💕