Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan
Bab.57


__ADS_3

Raksa segera berdiri dari posisi duduknya di ikuti oleh Jihan dan Kinan. Raksa tidak menyangka jika Johan akan menyusul sampai ke sini. Pantas saja Johan langsung mengakhiri panggilan teleponya tadi.


"Anda, kenapa kemari?" tanya Raksa.


"Ehm ... tidak, aku hanya ingin melihat apa yang kalian lakukan disini," ucap Johan kaku.


"Kak Johan ikut bergabung saja bersama kami," pinta Kinan.


Jihan langsung memberikan tatapan tajam kepada Kinan. Untuk apa juga kinan menawarkan Johan untuk bergabung. Dan sialnya Johan menerima tawaran Kinan, Kini ia ikut duduk di samping Jihan. Jihan malah terlihat cuek saja.


"Bagaimana ini, aku hanya membawa tiga piring tadi," ujar Kinan.


"Aku tak masalah, aku bisa makan berdua dengan Jihan," ucap Johan sambil tersenyum tipis.


Kinan dan Raksa terkekeh sendiri mendengar ucapan Johan, sementara Jihan hanya bisa terdiam dengan pipi yang memerah padam.


Kinan memberikan Johan sendok, Johan menarik piring yang ada di hadapan Jihan, Jihan terlihat kesal dengan ulah Johan, makan satu piring berdua dengan Johan, di depan Kinan dan Raksa, tentu saja itu akan sangat memalukan.


"Aku sudah kenyang, makanlah," ucap Jihan kepada Johan.


"Kalau kamu tidak makan, aku yang akan menyuapi kamu," ancam Johan.


Jihan, membulatkan keduanya matanya, ia melirik kearah Kinan dan Raksa yang malah sedang asik berdua, tanpa memperdulikan mereka. atau malah pura-pura tidak mendengar ucapan Johan.


Jihan Menghembuskan nafasnya dengan panjang, diraihnya sendok yang ada di atas piring dan mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Johan pun ikut memakan makanan di piring yang sama dengan Jihan.


Salah satu hal yang paling Johan impikan tujuh tahun yang lalu, adalah bisa makan satu piring berdua dengan Jihan. Ia tak menyangka jika saat itu akan tiba di saat seperti ini, saat yang tidak ia sangka-sangka. Tak sia-sia ia menelpon Raksa tadi.


Setelah makan siang selesai, Raksa meminta izin untuk mengantarkan Kinan sampai ke parkiran. Tentu saja Johan mengizinkan itu, Jihan pun hendak beranjak namun lagi-lagi langsung di cegah oleh Johan.


"Aku harus kembali bekerja," kata Jihan sambil melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Johan.


"Aku masih ingin bersamamu sebentar," ucap Johan.


"Setelah pagi tadi kamu bermesraan dengan calon tunangan mu, sekarang kamu ingin bersamaku. Kak Jo ... apa waktu telah mengubah kamu jadi seorang playboy," tutur Jihan jengah.

__ADS_1


Johan hanya tersenyum mendengar ucapan Jihan, baginya itu berarti Jihan sedang cemburu kepadanya. Johan yakin cinta itu masih ada untuknya, bahkan meski mulut Jihan berkata tidak.


Johan kembali menarik tangan Jihan, lalu membawa Jihan kedalam dekapannya, ia memeluk Jihan dengan penuh kasih sayang, seolah sedang mengisi energi setelah rapat yang menguras tenaga dan pikiran.


Jihan hanya terdiam tanpa membalas pelukan Johan padanya, tapi juga tidak menolak. Masih sama dengan seperti biasanya, Jihan selalu melemah jika mendapatkan sentuhan dari Johan.


"Kamu tahu betul siapa pemilik hatiku," ucap Johan sambil mengelus lembut pucuk kepala Jihan.


"Jangan bersikap seperti ini lagi, kamu tahu betul aku akan melemah saat kamu memperlakukan aku seperti ini," ucap Jihan yang masih berada dalam pelukan Johan.


"Maka dari itu aku akan langsung memeluk mu seperti ini, agar kamu tidak pernah mencoba lari dari ku," ujar Johan.


Jihan mendorong tubuh Johan agar menjauh darinya, jantungnya benar-benar akan meledak jika terus menempel dengan Johan.


"Aku harus kembali bekerja, permisi," kata Jihan lalu mengambil langkah seribu, pergi dari Johan. Johan hanya tersenyum memadangi kepergian Jihan.


Saat kembali keruangan departemen keuangan, Jihan kaget karena semua sudah kembali dari makan siang, "Kamu dari mana saja?"


Jenny menghapiri Jihan yang masih diam terpaku di ambang pintu. Sementara Malik hanya terdiam sambil tersenyum ke arahnya.


"Kami kira kamu tidak datang karena takut pergi sendiri ke restaurant," kata rendy yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya.


"Ah tidak, kebetulan sekali kinan membawakan ku makan siang, jadi aku makan bersamanya di ...." ucap Jihan menggantung.


"Di mana?" tanya Cika.


"Ah itu ... di dalam mobilnya," ucap Jihan berbohong.


"Oh begitu, syukurlah kalau kamu sudah makan," ucap jenny.


~~


Hari menjelang sore, Jihan hendak pulang ke rumah, namun saat akan naik ke dalam bus, Johan tiba-tiba menarik tangannya, bukan untuk mengajak Jihan pulang dengan menggunakan mobil tapi Johan akan ikut naik bus bersama dengan Jihan.


"Kamu mau apa?" tanya Jihan bingung.

__ADS_1


"Tentu saja naik bus bersama kamu," kata Johan lalu masuk kedalam bus mendahului Jihan.


Jihan menatap bingung kearah Johan yang kini sudah duduk di kursi bus. Johan memanggil Jihan agar ikut duduk di sampingnya. Jihan Menghembuskan nafasnya dengan berat melihat tingkah Johan yang di luar kebiasaannya, bukan tanpa alasan tapi Johan masih berusaha mendapatkan hati Jihan kembali.


Jihan melangkahkan kakinya masuk kedalam bus, lalu duduk di samping Johan. Johan nampak sangat senang sekali, meski di belakang bus sudah ada Raksa yang sedang siap mengikuti mereka dari belakang.


Ya pikir saja setelah mengantarkan Jihan sampai ke rumah, siapa yang akan menjemput Johan jika bukan Raksa, supirnya? Ah tidak mungkin, mulut mata dan mulut sang supir adalah mata dan mulut Toni, setiap aktivitas yang di lakukan Johan akan di laporkan kepada Toni.


Wajah Raksa nampak cemberut karena ia gagal pergi ke butik Kinan demi menuruti kebucinan sang bos.


Bus itu mulai melaju pergi saat sang Kernek sudah memastikan bus penuh dengan penumpang.


~~


Di depan rumah Jihan. Seorang pria berpakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi yang menutupi wajahnya. Ia melihat ke sekeliling halaman yang nampak sepi, karena Mela dan Nino memang masih berada di laundry.


Pria itu mengendap-endap, masuk melalui pintu belakang yang sudah terlebih dulu ia bobol. Sesampainya di dalam, ia menyiramkan bahan bakar minyak ke seluruh bagian rumah, di ruang tamu, dapur dan kamar.


Setelah selesai Pria itu, kehidupan korek api yang ia bawa, api mulai menyambar dari dari ruang tamu lalu menjalar ke bagian ruangan lainnya. Pria itu dengan cepat keluar melalui pintu belakang dan langsung berlari menuju motornya yang ia parkir di depan gang.


Api mulai menghanguskan rumah Mela, rumah penuh perjuangan untuk membelinya dengan hasil keringat sendiri sebagai pegawai laundry dan hasil dari penjualan kue.


Melihat api yang mulai membesar warga yang tadinya sedang sibuk di rumah masing-masing, melihat asap yang membumbung tinggi dari arah rumah Mela. Sontak semua orang yang melihat asap pekat itu berlari menuju rumah Mela.


Sayang seribu sayang, api sudah membakar habis rumah itu. Meskipun di padamkan sekalipun, tak ada harta yang bisa di selamatkan. Mela, Nino, dan Jihan belum mengetahui kejadian ini.


Nasib malang selalu saja datang tanpa di duga, dan kali ini lagi dan lagi, akar dari permasalahan itu adalah Vita.


Setelah keluar dari gang itu, Si pria yang membakar rumah Mela, berhenti di bahu jalan. Ia akan menelpon Vita dan memberitahunya jika tugasnya telah selesai.


[Semua sudah selesai, saya pastikan rumah itu rata dengan tanah]


[Bagus, akan aku transfer uangnya sekarang]


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2