
Menjelang sore, Malik pamit untuk kembali ke Jakarta, karena besok pagi ia harus bekerja. Jihan, Bi Siti, Mela dan Nino mengantarkan Malik sampai kedepan teras.
"Saya pamit pulang dulu," ucap Malik.
"Kamu hati-hati di jalan," ujar Mela.
"Iya Tante," ucap Malik.
Jihan mengantarkan Malik sampai kedepan mobil, ada yang ingin Jihan sampaikan kepada Malik tapi tidak di hadapan keluarganya.
"Tolong rahasiakan keberadaan ku dari siapapun," ucap Jihan yang saat ini sudah berada di samping mobil Malik.
"Kamu tenang saja, kamu tenangkan lah dirimu dulu sampai kamu siap untuk kembali ... jika kamu ingin berhenti bekerja di king group, perusahaan papa ku siap menampung wanita cerdas seperti mu," tutur Malik.
"Terimakasih, untuk semua kebaikan mu selama ini," ucap Jihan.
"Tidak perlu berterimakasih, kamu tahu kapan pun kamu datang pada ku, aku akan merentangkan kedua tangan ku untuk menyambut mu," ujar Malik lalu tersenyum lebar kepada Jihan.
"Kamu ada-ada saja, sana pulang," ucap Jihan yang sudah mulai bisa tersenyum.
Malik masuk kedalam mobilnya, ia mulai menyalakan mesin mobil lalu beranjak pergi meninggalkan halaman rumah Jihan. Jihan memandangi kepegian Malik sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
~~
Raksa dan Kinan sedang berada di sebuah restaurant untuk menikmati makan malam bersama, namun baik Kinan ataupun Raksa keduanya nampak tidak bersemangat, padahal mereka hanya bisa bertemu satu kali dalam satu minggu karena kesibukan mereka masing-masing.
Kinan melihat Raksa yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, "Kenapa tidak di makan?" tanya Raksa.
"Kamu juga kenapa tidak makan," tanya Kinan balik.
"Huh ... Jihan menghilang secara tiba-tiba dan pernikahan Tuan Johan yang sebentar lagi akan di gelar, tuan Johan nampak sangat depresi," tutur Raksa.
"Aku juga begitu, aku memikirkan Jihan, apa dia baik-baik saja sekarang, aku tidak bisa bayangkan jika Jihan tahu bahwa Kak Johan akan segera menikah," ucap Kinan dengan raut wajah sendunya.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Jihan saat ini?" tanya Raksa.
Kinan terlihat kaget mendengar pernyataan tiba-tiba Raksa. Jujur saja, menyimpan rahasia seperti ini sangatlah sulit bagi Kinan, tapi walau bagaimanapun, ia harus tutup mulut.
"A-aku benar-benar tidak tahu, harus berapa kali aku mengatakannya, apa sekarang kamu sedang mencurigaiku" ujar Kinan kesal.
"Tidak, bukan begitu maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini, jangan marah ya sayang," ucap Raksa sambil menggenggam kedua Kinan.
Kinan kembali tersenyum kepada Raksa meskipun di dalam hatinya ia begitu merasa bersalah karena sudah berbohong kepada kekasihnya itu. Entah sampai kapan ia harus menyimpan rahasia ini, jika terlalu lama mungkin ia tidak akan sanggup.
~~
Johan seharian ini hanya mengendap di perpustakaannya yang sekaligus menjadi ruang kerja pribadinya, ia menatap kosong ke arah jarum jam yang tidak henti-hentinya bergerak. Ia berpikir, andai waktu bisa di putar kembali, setidaknya ia ingin bisa melihat Jihan lagi.
Johan menoleh kearah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Maria masuk dengan membawa nampan berisi makanan, karena sejak pagi, Johan belum pernah memakan apapun.
Di letakkan nampan itu di atas meja, kemudian Maria duduk di samping putranya yang hanya diam tanpa merespon keberadaannya. Maria menatap Johan dengan khawatir, ia sebenarnya tidak tega melihat Johan seperti ini, namun di sisi lain ia juga tidak bisa menentang keputusan Toni suaminya.
"Jo, makanlah meski hanya sedikit, kamu bisa sakit jika terus seperti ini," ujar Maria.
"Mana mungkin ibu tidak perduli kepada anak ibu," ujar Maria sambil menyetuh lengan putranya.
"Terus kenapa! Kenapa ibu mempercayai kebohongan Vita, aku tidak pernah menghamili Vita Bu," tutur Johan dengan mata memerah dan nada suara yang sudah meninggi.
Maria tersentak kaget karena ucapan Johan. Sepanjang Maria membesarkan Johan ia tidak pernah melihat dan mendengar Johan bicara seperti ini kepadanya. Ia kecewa namun ia juga prihatin kepada Johan.
"Johan! Apa kamu pernah melihat ataupun mendengar ibu, menentang keputusan ayah kamu ... semenjak ibu menjadi istri Ayah mu, sekalipun ibu tidak pernah menentang ayah mu dan begitu pula dengan kamu," ujar Maria yang nampak marah.
Maria beranjak dari posisi duduknya, lalu sekali lagi melihat Johan yang hanya diam tanpa menimpali ucapanya lagi.
"Kamu akan tetap menikahi Vita meskipun kamu tidak ingin, jika memang anak yang di kandungnya bukan anak kamu, kita akan tahu setelah anak itu lahir," ujar Maria lalu beranjak pergi.
Johan menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa, Johan mengerang kesal lalu menendang nampan berisi makanan itu hingga berhamburan di atas lantai. Entah kata-kata apa yang mampu mewakili perasaannya saat ini.
__ADS_1
~~
Albert mendongak melihat gedung tinggi yang berada di hadapannya, tidak ia sangka ternyata Pria yang akan menikah dengan Vita adalah anak dari Toni Alexander yang tidak lain adalah salah satu koleganya.
Sudah sejak tiga tahun belakangan Albert dan Toni menjalin kerjasama. Perusahaan Albert yang bergerak di bidang properti dan alat-alat berat yang masih berkembang, memungkinkannya untuk terus menjalin kerjasama dengan King grup. Albert tidak tahu kalau ternyata Kini Toni sudah di gantikan oleh Johan Alexander, Ia hanya tahu Jika perusahaan sebesar King grup hanya memiliki satu pewaris yaitu anak tunggal Toni Alexsander.
Albert adalah seorang duda berusia tiga puluh tahun. Kegagalan pahit di alaminya dengan sang mantan istri, membuatnya tidak percaya lagi dengan cinta. Apa dia mencintai Vita? Entahlah, ia hanya tidak bisa melepaskan Vita karena ia telah merenggut kesucian Vita, kesucian yang bahkan ia tidak dapatkan dari sang mantan istri yang ternyata sudah tidak perawan lagi di malam pertama mereka.
Langkah kakinya terhenti tak kala melihat Johan baru saja tiba di kantor, sesaat sebelum Johan melewatinya. Albert menghadang langkah Johan yang hendak masuk. Johan mengeryitkan dahinya saat melihat sosok pria asing yang saat ini berada di depannya.
Tangan Albert tergerak membuka kacamata hitam yang menutupi kedua bola matanya. Ia menyunggingkan bibirnya saat melihat Johan kebingungan. Wajar Johan baru dalam bidang ini pasti ia tidak akan mengenal sosok Albert.
"Apa anda Johan Aleksander?" tanya Albert memastikan.
"Ya benar, siapa anda?" tanya Johan mendelik tajam.
"Perkenalkan saya Albert," ucap Albert sambil mengulurkan tangannya.
Dengan ragu-ragu, Johan menjabat tangan Albert, ia seperti pernah melihat orang yang ada di hadapannya ini. Tapi entah di mana dan kapan tepatnya.
"Apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Albert.
"Apa yang ingin anda bicarakan, jika mengenai bisnis, anda bisa menghubungi seketaris saya Raksa," tutur Johan.
"Mungkin anda belum tahu, saya sudah lama bekerja sama dengan perusahaan anda. Tapi kali ini saya datang kemari bukan untuk bisnis," ujar Albert.
"Lalu?" tanya Johan semakin penasaran.
"Ini mengenai seorang wanita bernama Vita yang akan menikah dengan anda," ujar Albert.
Johan menjadi semakin penasaran dengan sosok yang ada di hadapannya ini. Siapa dia, apa hubungannya dengan Vita, semu itu benar-benar memantik rasa penasarannya.
"Silahkan ikuti saya," ujar Johan lalu melangkah kan kakinya mendahului Albert, dengan cepat Albert menyusul Johan yang sudah mendahuluinya.
__ADS_1
Bersambung 💕