Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#10 : Sukses Menghancurkannya


__ADS_3

Pria berjas putih itu memeriksa denyut nadinya, detak jantungnya dan kedua matanya. "Dia mengalami stres berat, sebaiknya untuk saat ini. Jangan membuat pikirannya terlalu memikirkan hal berat."


Dia menulis sesuatu di kertas putih dan kecil itu, tertera sebuah obat yang harus Jho tebus.


"Ini." Pria itu menyerahkan kertas putih itu pada Jhonatan. Iya, dia tahu masalah semua ini. Ia tahu dari Jack. Ia kira, Jhonatan menikahi Bella karena rasa bersalah, tapi ternyata ada tujuan lainnya.


Pria yang menjadi sekertarisnya sekaligus tangan kanannya itu memintanya untuk menasehati Jhonatan. Ia pikir, memang perbuatan Jhonatan salah. Sahabatnya itu menyiksa Bella. Padahal yang paling sakit adalah Bella, dia kehilangan ayahnya. Sedangkan istri Jhonatan, meskipun menjalani koma selama beberapa bulan, tapi masih bisa di selamatkan.


"Apa yang kau pikirkan tentangnya Jho?"


Jhonatan tidak mengambil kertas itu, justru ia bingung dengan perkataan pria berjas Dokter itu.


Dokter Frank, sahabat kecil Jhonatan. Sekolah yang sama, saat kuliah pun di kampus yang sama. Ia kenal betul sifat Jhonatan, pria itu baik, lembut dan perhatian. Tetapi, sayangnya dia mudah emosi kalau sudah menyangkut miliknya.


Dokter Frank menaruh kertas itu di atas nakas. Ia melihat gerak gerik Jhonatan berbeda pada wanita di sampingnya. "Jangan terlalu membuatnya tertekan."

__ADS_1


"Frank!" Jhonatan tidak tahu apa yang akan ia katakan. Otaknya seakan tak berfungsi.


"Kau menyakitinya."


Samar-samar Bella mendengarkan suara seseorang. Ia perlahan membuka matanya dan terlihat buram. Namun ia mengenali wajah itu. Jhonatan dan seorang pria yang memunggunginya.


Ia pun menutup matanya kembali karena terasa berat. Namun, telinganya sangat tajam mendengarkan suara kedua orang laki-laki itu.


"Sampai kapan?"


"Apa maksud mu?" tanya Jhonatan.


"Jangan berbohong pada ku. Kau ingin menyakitinya, balas dendam? padahal kau tahu. Wanita ini tidak bersalah," ucap Frank sambil menunjuk Bella yang terbaring lemah dan tak berdaya. "Balas dendam? kau sadar! dia kehilangan ayahnya. Sedangkan istri mu hanya koma dan masih bisa di selamatkan."


"Bagaimana kalau dia tahu semua kebohongan mu? aku akan mengatakan kau sudah sukses menghancurkannya."

__ADS_1


Jhonatan diam tak berkutik, bibirnya sangat rapat. Sehingga ia tidak bisa membela dirinya. Semua yang di katakan Frank adalah benar.


"Sekarang istri mu sudah sadar. Lalu, kau akan mengatakan bagaimana? kau akan menyembunyikannya atau kau akan mengatakannya pada Gladies bahwa wanita ini istri sirih mu, istri kedua mu? aku pikir kau menikahinya karena rasa bersalah, tapi kau menikahinya karena dendam."


Frank melangkah, tepat di samping Jhonatan. Ia menoleh, "Seharusnya kau tidak melakukan ini. Gladies memang akan merasakan sakit, tapi ketahuilah, dialah yang merasakan jauh menyakitkan."


Tangan Frank melayang ke bahu Jhonatan. Dia menepuk bahu kokoh itu. "Jangan sampai menyesalinya."


Jhonatan menggeram, ia melayangkan tangannya ke udara. Ia kembali menatap Bella. Perkataan Frank menghiasi otaknya.


'Jangan sampai menyesalinya'


"Apa aku salah? aku hanya membalas perbuatannya," ucap Jhontan.


"Aku hanya membela istri ku."

__ADS_1


Jhonatan meninggalkan Bella, ia ingin istirahat di ruang kerjanya. Menenangkan pikirannya.


Sedangkan Bella, ia membuka matanya setelah mendengarkan pintu di tutup. Ia tersenyum pahit, Jhonatan memang sudah sukses menghancurkan hatinya. Dia sukses, menghancurkan kehidupannya.


__ADS_2