Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#41 : Di tempat yang baru


__ADS_3

Gladies menatap suaminya yang sangat buru-buru, pria itu kadang berteriak pada Gladies untuk membantu membenarkan dasinya. Tidak pernah sekalipun Jhonatan berteriak, tapi kali membuat heran Gladies. Wanita itu seakan menemukan sisi lain dari suaminya.


"Sayang, ini sudah benar," ucap Gladies.


Jhonatan langsung mengambil Tuxedo hitamnya, lalu memakaikannya, setelah itu di susul dengan jas hitamnya.


"Honey, aku pulang dulu. Kau jaga baik-baik, aku akan secepatnya kembali," ucap Jhonatan. Dia mencium kening Gladies, lalu mengusap sebelah pipinya.


Gladies menoleh, merasa punggung lebar itu seakan menjauh. Ia menggeleng, rasa cintanya pada Jhonatan membuatnya berpikir yang tidak-tidak.


Sesampainya di anak tangga terakhir, Jhonatan menatap Asisten kepercayaannya. "Jaga Gladies dengan baik."


"Baik tuan, tapi satu hal yang saya pinta. Jangan menyakitinya, dia terlalu menderita. Aku ingin suatu saat tuan tidak menyesal."


Jhonatan mengangguk, tapi perkataan Jack tidak sampai masuk ke dalam hatinya. Seperti angin lalu yang langsung hilang entah kemana.


###


Di pulau Xxx


Bella telah sampai di sebuah pulau, setelah keluar dari mobil hitam, dia di ajak menaiki Helikopter menyebrang lautan dan saat ini ia telah sampai.

__ADS_1


Dia menatap sekelilingnya, semuanya laki-laki menggunakan kaca mata hitam dan membungkuk hormat saat melewati mereka. Sampai di halaman istana megah itu, dia kembali di sambut oleh beberapa pelayan, entahlah, ia tidak tahu ada berapa pelayan? yang jelas pelayan itu berjejer rapi, menggunakan seragam yang sama dan membungkuk hormat.


"Selamat datang tuan," ucap seorang wanita. Dia menggunakan kaca mata, wajahnya sangat datar, seolah seumur hidupnya tidak pernah kenal yang namanya tersenyum.


Tuan Alexander tak menanggapi, dia melewatinya begitu saja.


"Bibi, bawa Bella ke lantai atas," titah tuan Alexander.


"Anu tuan tidak perlu, saya bisa di kamar bawah saja," ucap Bella menyanggah, ia pikir mana mungkin seorang pembantu di berikan lantai yang sama dengan sang tuan.


"Bella, aku menganggap mu putri ku, bukan pelayan ku. Kau tahu, aku menyembunyikan mu karena ada sesuatu yang tidak bisa aku katakana. Pertama aku sudah mengetahui siapa dirimu, kau menantu ku dan anak di dalam kandungan mu adalah cucu ku."


Tubuh Bella gemetar hebat, ia memeluk erat perutnya dan melangkah mundur. Rasa takut membuatnya seakan kesulitan bernafas. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan anaknya. Cukup ia kehilangan Jhonatan, tapi tidak dengan anaknya. Lebih baik ia mati, kalau ia harus kehilangan anaknya. Anaknya, perhiasannya, miliknya.


Wanita yang di panggil Bibi itu cukup tercengang, pantas saja dia di pindahkan dari kediaman utama.


"Bella,"


Tuan Alexander memegang kedua lengan Bella dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak akan memisahkan mu atau membunuh anak mu, dia cucu ku, mana mungkin aku tega. Aku hanya ingin kamu terbebas dari Jhonatan, makanya aku memilihkan tempat ini untuk mu," jelas tuan Alexander. Dia langsung memeluk Bella, mengelus kepalanya dan memejamkan matanya menangisi kisah masa lalunya dan nasib Bella yang terasa menyakitkan padanya.


Sedangkan Bella, dia menumpahkan kesedihannya, tangisannya yang amat pilu. Dia merasakan kehangatan dan kelegaan serta kebahagiaan di hatinya.

__ADS_1


"Sekarang, jangan panggil aku tuan, panggil aku Daddy, kau harus menjadi putri ku."


Tuan Alexander semakin terisak, hatinya begitu pilu dan menyakitkan, dia menemukan putri kekasih masa lalunya dan di hadiahi dengan pernikahan Jhonatan sekaligus cucunya. Tuhan telah memberikan kebaikan yang berlimpah padanya.


Wanita yang di sapa Bibi itu menatap haru, selama puluhan tahun ia tidak pernah melihat majikannya menangis dan ia melihat sesuatu di wajah gadis itu, wajah yang pernah ia lihat saat masih kerja di kediaman utama.


"Baiklah, kau istirahat. Kita akan mengobrol banyak setelah ini."


Tuan Alexander melepaskan pelukannya, dia terkekeh lucu, mengingat dirinya yang selama ini tak pernah menangis kecuali perpisahan dengan kekasihnya dan pertemuannya dengan Bella.


"Terimakasih putri ku, sekarang istirahatlah."


"Baik, Daddy."


"Manis sekali, putri ku memanggil ku Daddy," ucap tuan Alexander sambil mencubit hidung mancung Bella.


"Silahkan Nyonya muda, saya akan membawa anda ke lantai atas."


"Gunakan Lift, jangan sampai naik turun di tangga. Aku tidak mau cucu ku kenapa-napa dan juga putri ku."


"Baiklah, putri mu akan baik-baik saja Daddy," ucap Bella terkekeh lucu. Perasaanya sangat nyaman berdekatan dengan mertuanya, ia telah menemukan sosok ayah yang telah kembali padanya.

__ADS_1


Tuhan, terimakasih. Engkau telah memberikan kebahagian yang berlimpah pada ku. Aku tidak sakit hati, meskipun dia putri ku. Justru aku malah bersyukur, aku menemukan bayangannya kembali, yang kini berstatus menantu sekaligus putri ku.


__ADS_2